Selasa, 22 Februari 2022 | By: sovisimbolon@blogspot.com

Modul 3.1.a.9 Koneksi Antar Materi: Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil? Pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Triloka memiliki pengaruh yang kuat karena seorang pemimpin pembelajaran ketika mengambil sebuah keputusan selalu berpikir bijaksana dalam pendidikan di sekolah. Sesuai dengan pernyataan Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan adalah proses menuntun segala kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setnggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Ki Hajar dewantara juga mengharapkan agar seorang pendidik memiliki jiwa menuntun tumbuh dan berkembangnya kodrat yang ada pada anak sesuai dengan filosofi Pratap Triloka 1. Ing ngarsa sungtulada : Guru haruslah memberikan sauri tauladan yang baik bagi muridnya 2. Ing madya mengun karsa: Guru harus bisa bekerja sama dengan orang muridnya. 3. Tut wuri handayani :Guru memberi kesempatan kepada murid untuk maju dan berkembang. Selain itu, guru harus mampu mengambil sebuah keputusan yang bermakna, bijaksana, dan berpihak kepada siswanya. Seorang pemimpin harus mampu menjadi teladan bagi orang-orang yang dipimpinnya, seorang pemimpin harus mampu membangun semangat orang-orang yang dipimpinnya, dan seorang pemimpin (guru) harus mampu memberikan motivasi kepada orang-orang yang dipimpinnya (siswa) untuk dapat mengembangkan minat, bakat, dan potensi yang dimiliki. Di dalam mengambil sebuah keputusan seorang pemimpin harus menyesuaikan visi dan misi sekolah agar keputusan lebih terarah sehingga mewujudkan pemdidikan yang berpihak pada murid .
2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?.Menurut saya, sangat berpengaruhkepada prinsif ketika mengambil keputusan apalagi saat menghadapi masalah dilema etika dan bujukan moral. Karena itu, saat pengambilan suatu keputusankita harus memahami empat paradigma, tiga prinsif, dan sembilan langkah pengambilan keputusan. Oleh karena itu, sangat penting menumbuhkan dan memupuk nilai-nilai positif dalam diri kita yang nantinya akan menjiwai setiap keputusan yang kita ambil. Misalnya, nilai kejujuran, integritas, tanggung jawab, kolaborasi, toleransi, gotong royong, akhlak mulia, dan lain-lain. Dan sebagai guru penggerak harus memiliki nilai mandiri, kolaboratif, reflektif, inovatif,berpihak pada murid.
3. Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.
Coaching merupakan keterampilan yang sangat penting dalam menggali suatu permasalahan yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain.
Menurut saya, bimbingan yang telah diberikan oleh pendamping praktik dan fasilitator telah membantu saya untuk mengambil keputusan dengan memahami tiga prinsif, empat paradigma, dan sembilan langkah pengambilan keputusan. Selain itu, pendamping dan fasilitator mengajak kami untuk menerapkan coaching saat meghadapi masalah. Apakah keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid, sudah sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal dan apakah keputusan yang saya ambil tersebut akan dapat saya pertanggung jawabkan.
4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan? Seorang guru harus memiliki kemmapuan yang kuat saat mengambil keputusan. Seorang guru harus membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri untuk menghadapi konsekuensi dan implikasi dari keputusan yang diambil karena tidak ada keputusan yang bisa sepenuhnya mengakomodir seluruh kepentingan para pemangku kepentingan.
Dan, mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi sosial emosional seperti kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan ketrampilan berhubungan sosial (relationship skills). Selain itu, seorang guru harus memiliki sadar penuh (mindfull) setiap mengambil keputusan yang bermakna dan bermanfaat.
5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik. Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, kita harus memastikan bahwa keputusan yang kita ambil adalah keputusan yang tepat. Dan memahami nilai-nilaiyang kita anut,misalnya kejujuran, integritas, tanggung jawab, dan lain-lain. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengujian untuk mengetahui apakah keputusan tersebut telah sesuai dengan tiga prinsip-prinsip dasar pengambilan keputusan dan empat paradigma.
Di bawah ini adalah 9 langkah untuk mengambil keputusan, yaitu 1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini. 2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini. 3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini. 4. Pengujian benar atau salah. Ada uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, dan uji panutan/idola. 5. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar. 6. Melakukan Prinsip Resolusi. 7. Investigasi Opsi Trilema. 8. Buat Keputusan. 9. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan.
6.Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Pengambilan keputusan yang tepat, tentu akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Kondisi tersebut adalah kondisi yang kita inginkan. Maka untuk melakukan perubahan, diperlukan suatu pendekatan yang sistematis. Dalam hal ini, kita menggunakan pendekatan Inkuiri Apresiatif BAGJA untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Apabila mengalami kasus dilema etika maka perlu dilakukan pengujian untuk mengetahui apakah keputusan tersebut telah sesuai dengan tiga prinsip-prinsip dasar pengambilan keputusan dan empat paradigma, dan 9 langkah untuk mengambil keputusan, yaitu 1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini. 2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini. 3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini. 4. Pengujian benar atau salah. Ada uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, dan uji panutan/idola. 5. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar. 6. Melakukan Prinsip Resolusi. 7. Investigasi Opsi Trilema. 8. Buat Keputusan. 9. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan.
7. Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda? Kesulitan yang dihadapi, yaitu kurang memahami atau mengenal kasusyang dihadapi apa itu dilema etika atau bujukan moral sehingga terjadi perdebatan ynag panjang, akhirnya tak menemukan solusi. Perdebatan tersebut tidak dapat memecahkan masalah karena mengabaikan tiga prinsif dan empat paradigma, serta sembilan langkah mengambil keputusan. Perubahan paradigma dan budaya sekolah yang sudah dilakukan. Misalnya sistem yang kadang memaksa guru untuk memilih pilihan yang salah atau tidak berpihak kepada murid. Keputusan yang diambil kadang kala tanpa sepenuhnya melibatkan guru sehingga muncul banyak kendala-kendala dalam proses pelaksanaan keputusan.
8. Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Pengaruh pengambilan keputusan yang bijaksana sebagai pemimpin pembelajaran akan tercipta lingkungan belajar yang bahgia dan menyenangkan. Apabila keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid dalam hal ini tentang metode yang digunakan oleh guru, media dan sistem penilaian yang dilakukan yang sudah sesuai dengan kebutuhan murid, hal ini dapat memerdekakan murid dalam belajar dan pada akhirnya murid dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya. Hal ini dapat diwujudkan dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran sosial emosional dan menerapkan praktik coaching
9.Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya? Dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, kita harus benar- benar memperhatikan kebutuhan belajar murid. Keputusan yang berpihak kepada murid haruslah melalui pertimbangan yang sangat akurat dimana dilakukan terlebih dahulu pemetaan terhadap minat belajar, profil belajar dan kesiapan belajar murid untuk kemudian dilakukan pembelajaran berdiferensiasi yaitu melakukan diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk sehingga dengan memperhatikan kesemua itu dalam mengambil keputusan maka keputusan kita dapat berpengaruh terhadap keberhasilan dari murid di masa depannya nanti.
10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya? Sebagai Pemimpin Pembelajaran terkait dengan modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya sangat berkaitan. Bahwa pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setnggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Ki Hajar dewantara juga mengharapkan agar seorang pendidik memiliki jiwa menuntun tumbuh dan berkembangnya kodrat yang ada pada anak sesuai dengan filosofi Pratap Triloka
1. Ing ngarsa sungtulada : Guru haruslah memberikan sauri tauladan yang baik bagi muridnya 2. Ing madya mengun karsa: Guru harus bisa bekerja sama dengan orang muridnya. 3. Tut wuri handayani :Guru memberi kesempatan kepada murid untuk maju dan berkembang. Selain itu, guru harus mampu mengambil sebuah keputusan yang bermakna, bijaksana, dan berpihak kepada siswanya. menuntun anak sesuai kodrat dan zaman
Saat pengambilan suatu keputusan baik dilema etika maupun bujukn moral maka seorang pemimpin harus mnegenal dan memahaminya. Oleh karena itu, sebagai pemimpin harus memenuhi 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah dalam pengambilan keputusan. Selain itu, pengambilan keputusan yang tepat juga harus didukung oleh nilai dan peran nilai penggerak. Kemudian harus memahami coaching dengan model TIRTA. Saat pengambilan keputusan harus memiliki kesadarn penuh dan memahami pengelolan diri, sosial, dan emosional. Karena itu, pemimpin pembelajaran harus memahami budaya positif dalam diri dan lingkungannya. Hal tersebut dapat memmabntu pemimpin mengambil keputusan dengan tepat.