Selasa, 16 November 2021 | By: sovisimbolon@blogspot.com

Aksi Nyata Menerapkan Budaya Positif pada Modul 1.4.a.10.2

A. Latar Belakang
Saat ini penerapan budaya positif di lingkungan sekolah sudah semarak digerakkan. Menggerakkan budaya yang positif, sekolah perlu menyediakan lingkungan yang positif, aman, dan nyaman agar murid-murid mampu berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka, mandiri, dan bertanggung jawab. Karena itu, warga sekolah mulai dari Kepala Sekolah, para guru, murid, tata usaha, komite, pengawas, orangtua perlu berkolaborasi untuk menggerakkan budaya positif.
Salah satu strategi untuk membangun budaya positif, terutama paradigma atau pola pikir harus berubah, Stephen R. Covey (Principle-Centered Leadership, 1991) mengatakan bahwa ubahlah sikap atau perilaku. Namun bila kita ingin memperbaiki cara-cara utama kita, maka kita perlu mengubah kerangka acuan kita. 
Saat pola pikir kita berubah motivasi prilaku juga berubah. Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, menyatakan ada 3 alasan motivasi perilaku manusia: 

  1. Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman
Ini adalah tingkat terendah dari motivasi perilaku manusia. Biasanya orang yang motivasi perilakunya untuk menghindari hukuman atau ketidaknyamanan, akan bertanya, apa yang akan terjadi apabila saya tidak melakukannya? Sebenarnya mereka sedang menghindari permasalahan yang mungkin muncul dan berpengaruh pada mereka secara fisik, psikologis, maupun tidak terpenuhinya kebutuhan mereka, bila mereka tidak melakukan tindakan tersebut.

  2. Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain.
Satu tingkat di atas motivasi yang pertama, disini orang berperilaku untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Orang dengan motivasi ini akan bertanya, apa yang akan saya dapatkan apabila saya melakukannya? Mereka melakukan sebuah tindakan untuk mendapatkan pujian dari orang lain yang menurut mereka penting dan mereka letakkan dalam dunia berkualitas mereka. Mereka juga melakukan sesuatu untuk mendapatkan hadiah, pengakuan, atau imbalan.

  3. Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya
Motivasi dalam diri sudah terbentuk maka perlu menerapkan kesepakatan kelas dalam kelas. Setiap tindakan atau perilaku yang kita lakukan di dalam kelas dapat menentukan terciptanya sebuah lingkungan positif. Perilaku warga kelas tersebut menjadi sebuah kebiasaan, yang akhirnya membentuk sebuah budaya positif.
Kebutuhan dasar tersebut harus dipenuhi dengan melakukan kolaborasi bersama. Dan juga guru harus menerapkan budaya positif di kelas dan sekolah dengan posisi kontrol sebagai manajer dan pemantau saat berhadapan dengan murid. Menerapkan posisi kontrol guru sebagai pemantau dan manajer. Kadang guru menganggap bahwa menjadi penghukum membuat murid menjadi penurut dan taat, tanpa kita sadari kita telah menumbuhkan rasa dendam dalam dirinya. Posisi itu harus kita buang dalam diri kita, begitu juga saat posisi kontrol guru membuat murid merasa bersalah. Hal tersebut membuat murid merasa tak berharga atau merasa tak berguna. Posisi itu juga harus dibuang jauh-jauh. Lalu posisi kontrol sebagai teman. kita menjadikan murid bergantung kepada kita, saat kita tak bersamanya, dia menjadi tak semangat dan tak bisa bergaul dengan yang lain. Posisi itu harus kita hindari juga.
Nah, posisi kontrol sebagai pemantau dapat diterapkan kepada murid dengan memantau kegiatan mereka saat. Dan lebih baiknya posisi sebagai Manajer. Posisi manajer menjadikan murid lebih mandiri, bertanggung jawab, dan menyadari kesalahan untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. Tapi, ada murid yang belum bisa menerima posisi kita sebagai manajer maka kita beralih sebagai pemantau. Posisi kontrol guru sebagai manajer dan pemantau perlu diterapkan saat berhadapan dengan murid yang kurang disiplin maka digerakkan segitiga restitusi, yaitu pemulihan kembali: menstabilkan identitas, validasi kesalahan, menanyakan keyakinan kelas. Oleh karena itu, budaya positif sangat penting diterapkan dengan kolaborasi bersama warga sekolah.
Untuk terbentuknya budaya positif di lingkungan kelas maka pertama-tama perlu diciptakan dan disepakati keyakinan-keyakinan atau prinsip-prinsip dasar bersama di antara para warga kelas. Namun guru dan murid harus memahami kebutuhan dasar manusia, yaitu bertahan hidup, cinta dan kasih sayang, penguasaan, kesenangan, kebebasan. Kebutuhan dasar tersebut harus dipenuhi dengan melakukan kolaborasi bersama. 

Respon murid terhadap budaya positif




B. Deskripsi Aksi Nyata
Tahun ajaran 2021-2022 saya bertugas mengajar di kelas XII IPA 1, 2, 3, 4, 5, XII IPS 2 dan 3. Saya mulai menggerakkan budaya positif ke tiap kelas yang saya ajar. Saya menyampaikan materi budaya positif kepada murid mulai paradigma, motivasi, kebutuhan dasar murid, kesepakatan kelas, restitusi, dan segitiga restitusi. Saya mengajak murid berkolaborasi membuat kesepakatan kelas di tiap kelas.
Setiap kelas saya bagi beberapa kelompok sesuai minat dan bakat mereka, tiap kelompok mendiskusikan kesepakatan kelas, lalu dipresentasikan dan kelompok lain menanggapi, setelah itu semua warga kelas memililih kesepakatan kelas secara bersma-sama untuk disepakati. Adapun kespakatan kelas, yaitu kami guru dan murid menghargai diri sendiri dan orang lain, kami guru dan murid peduli terhadap lingkungan kelas dan sekolah, kami guru dan murid menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan tepat waktu, kami guru dan murid saling berkolaborasi, kami guru dan murid berdoa sebelum pelajaran dimulai dan berdoa setelah mengakhiri pelajaran. Begitu juga saat saya menghadapi murid yang kurang disiplin saya belajar menerapkan posisi manajer atau pemantau, ternyata posisi manajer tanpa disadari membentuk karakter murid lebih bertanggung jawab dan mandiri dengan menerapkan segitiga restitusi.

https://www.youtube.com/watch?v=w37G2qD1ktc&t=36s
 
Saya juga mensosialisasikan budaya positif kepada warga sekolah. Saya tidak bisa bergerak sendiri tanpa dukungan mereka.
Hal tersebut terutama saya diskusikan kepada Kepala Sekolah. Dukungannya memberi ruang untuk saya bergerak mensosialisasikan buya positif, dengan menyampaikan materi tentang paradima, motivasi prilaku manusia, kebutuhan dasar manusia, posisi kontrol guru, restitusi, segitiga restitusi. Warga sekolah menyambut dengan baik bahkan antusias menangagpi tiap materi, dan warga sekolah mulai bergerak untuk memperbaiki diri sebagai guru baik di kelas maupun di sekolah.penerapan kesepakatan kelas ini mampu dipahami dan diterima oleh rekan sejawat yang lain
C. Tujuan
Adapun tujuan dari Tindakan aksi nyata ini adalah sebagai berikut : 1. Menumbuhkan karakter Profil Pelajar Pancasila melalui budaya positif 2. Menumbuhkan jiwa peduli lingkungan kelas dan sekolah 3. Menumbuhkan sikap menghargai diri sendiri dan orang lain 4. Menumbuhkan jiwa kolaborasi, seperti kesepakatan kelas, yaitu kami guru dan murid menghargai diri sendiri dan orang lain, kami guru dan murid peduli terhadap lingkungan kelas dan sekolah, kami guru dan murid menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan tepat waktu, kami guru dan murid saling berkolaborasi, kami guru dan murid berdoa sebelum pelajaran dimulai dan berdoa setelah mengakhiri pelajaran.
D. Tolak Ukur
Siswa mengerjakan tugas tepat waktu dengan melihat daftar nilai, siswa dan guru tepat waktu datang ke sekolah dengan melihat absen guru dan kelas, muriddan guru berkolaborasi menjaga dan merawat lingkungan kelas dan sekolah. Guru dan murid menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. Linimasa Tindakan yang Dilakukan
Sebagai guru, calon guru penggerak, saya menerapkan pemikiran Ki Hajar Dewantara, tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagaiaan setinggi-tingginya sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Agar dapat menuntun kodrat anak, maka seorang guru penggerak harus memiliki nilai-nilai dan menjalankan perannya sebagai guru penggerak. Dengan melakukan pendekatan Inkuiri Apresiatif dengan model BAGJA. Inkuiri Apresiatif, dikenal dengan pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Pendekatan Inkuiri Apresiatif ini dimulai mengidentifikasi hal baik apa yang ada di sekolah, bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan dan memunculkan strategi untuk mewujudkan perubahan ke arah lebih baik lagi. Hal-hal ini dilakukan dengan menerapkan BAGJA yang terdiri dari buat pertanyaan, ambil pelajaran, gali impian, jabarkan rencana, dan atur eksekusi.
Saya juga harus menggerakkan warga sekolah mewujudkan budaya positif di sekolah yang berpihak pada murid. Budaya positif adalah kebiasaan yang harus dilakukan secara terus menerus. Guru harus melahirkan murid dimasa depan sesuai minat dan bakat dalam diri murid dengan karakter Pancasila. Salah satu contoh penerapan budaya positif adalah membuat kesepakatan kelas. Dalam Menyusun kesepakatan kelas ini guru bertanya kepada muri tentang kelas impian dan harapannya tentang kelas impian para murid. Hal ini dilakukan untuk mendorong motivasi intrinsik pada diri murid dalam pembentukan karakter positif.


E. Adapun linimasa Tindakan yang akan saya lakukan untuk mewujudkan aksi nyata ini adalah sebagai berikut :
1. Berkoordinasi dengan walikelas dan murid terkait pelaksanaan aksi nyata
2. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan
3. Melakukan kesepakatan kelas bersama murid secara berkelompok
4. Menyusun kesepakatan kelas berdasarkan ide dan masukan para murid
5. Tiap kelompok menyampaikan kesepakatan kelas apakah sudah sesuai dengan keinginan dan harapan mereka 
6. Kelompok lain menanggapi hasil kesepakatan kelas berdasarkan kelompok, lalu memilih masing-masing kesepakatan kelas di tiap kelompok untuk menjadi kesepakatan di kelas
7. Kespakatan kelas dibuat dalam benttuk kaotok dan postwer


 F. Dukungan yang dibutuhkan

Untuk melancarkan pelaksanaan rancangan tindakan aksi nyata yang telah disusun, tentunya memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Adapun dukungan yang diperlukan yaitu dukungan dari : 

1. Sekolah, sebagai tempat mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki murid dengan program yang terstruktur dan sistematis 
2. Murid, keterlibatan murid sangat penting dalam keikutsertaannya membuat kesepakatan kelas untuk mewujudkan budaya positif 
3. Keluarga, sebagi tempat pendidikan pertama bagi murid sebagai cikal awal pembentukan karakter untuk mewujudkan budaya positif di sekolah.

 
G. Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang 

1. Pembuatan kesepakatan kelas harus di laksanakan di setiap kelas 
2. Kesepaktan kelas harus diterapkan dengan bahagia dan nyaman 
3.Warga sekolah harus konsinten menerapkan budaya positif, yaitu kesepakatan kelas dan sekolah.








Selasa, 09 November 2021 | By: sovisimbolon@blogspot.com

Modul 2.1.a.9 Koneksi Antar Materi

Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti guru harus mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan yang kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak. Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaotic), yang gurunya kemudian harus membuat beberapa perencanaan pembelajaran sekaligus, di mana guru harus berlari ke sana kemari untuk membantu si A, si B atau si C dalam waktu yang bersamaan. Bukan. Guru tentunya bukanlah malaikat bersayap atau Superman yang bisa ke sana kemari untuk berada di tempat yang berbeda-beda dalam satu waktu dan memecahkan semua permasalahan.

Saat berbagi kelompok sesuai minat murid


Keputusan-keputusan yang perlu diperhatikan para guru saat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi harus terkait dengan:

1.      Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.

2.      Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.

3.      Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.

4.      Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.

5.    Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.

Oleh karena itu, pembealjaran berdiferensiasi harus memahami kebutuhan murid berdasarkan tiga aspek, yaitu Kesiapan belajar (readiness) murid, Minat murid, dan Profil belajar murid

a.       Kesiapan Belajar Murid

Saat pembelajaran guru perlu memetakan kebutuhan murid. Misalnya:guru harus mendiagnosis kesiapan belajar murid. Kemampuan tiap murid pasti berbeda-beda. Ada murid yang sudah siap mempelajari materi yang di dalamnya terdapat masalah berupa tantangan atau kemampuan Ada juga murid yang belum menegerti dan memahami materi. Tentunya,  guru mempersiapkan media, bahan ajar, metode yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut dalam pembelajaran.Guru juga harus menerapkan scaffolding yaitu  bantuan atau dukungan yang diberikan guru kepada murid menyesuaikan dengan tingkat kesiapan belajar murid itu sendiri.

b.      Minat Belajar Murid

Guru perlu memetakan murid berdasarkan minat belajarnya. Misalnya: contoh, ada murid yang senang belajar seni, olah raga, sains atau bidang-bidang tertentu, matematika, politik, budaya, ekonomi, pertanian, dll. Karena itu, guru harus siap untuk memfasilitasi kebutuhan murid tersebut. Guru memberikan kebebasan kepada murid untuk belajar sesuai dengan minatnya, contoh saat membuat produk. Dalam diferensiasi produk, murid menghasilkan produk disesuaikan dengan minat belajar murid masing-masing. Murid diberikan kebebasan dalam belajar. Murid bebas menghasilkan produk baik berupa fliyer, infografis, audio, audivisual, teks atau tulisan seperti artikel, narasi, karangan atau bentuk produk lain yang sesuai minat

c.       Profil Belajar Murid

Pemetaan kebutuhan murid berdasarkan gaya belajar murid. Misalnya pada diferensiasi proses, untuk murid yang memiliki gaya belajar visual maka pada proses pembelajaran guru dapat memberikan materi dengan menggunakan media berupa slide go,  gambar-gambar menarik sesuai minat murid, tampilan slide power point, bagan, tabel, flyer, dan sebagainya yang membantu murid dalam belajar dan mengaitkan konsep satu dengan yang lainnya sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Demikian pula, untuk murid yang memiliki gaya belajar auditori maka guru dapat memberikan materi rekaman suara, audio. Gaya belajar murid yang senang gerakan diberikan diberikan ekspresi gerakan yang memicu semangat.

Kebutuhan dasar murid


Berdasarkan ketiga aspek tersebut, guru akan mampu merancang pembelajaran berdiferensiasi dengan baik sesuai tujuan pembelajaran dapat dicapai, yaitu mampu memenuhi perbedaan kebutuhan  dari murid. Mulai dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap murid dalam pembelajaran di kelas. Pembelajaran berdiferensiasi tidak berarti bahwa guru harus melakukan kegiatan yang berbeda dalam membuat perencanaan pembelajaran atau menyusun beberapa perencanaan pembelajaran untuk setiap kali pertemuan. Namun, dalam melakukan praktik pembelajaran berdiferensiasi tentunya harus dilakukan secara efektif dan efisien, mempertimbangkan waktu, media, dan kerja keras.

Langkah-langkah dalam pembelajaran  Berdiferensiasi

1.      Menetapkan Tujuan Pembelajaran (Pahami Kompetensi Dasar atau Standar yang akan dicapai, Tentukan Tujuan Pembelajaran).

2.      Melakukan pemetaan kebutuhan siswa (Pre tes minat, profil belajar dan kesiapan belajar)

3.      Menentukan Strategi dan alat penilaian yang digunakan

4.      Menentukan Kegiatan Pembelajaran (Konten, Proses, Produk)

            Cara-Cara Guru untuk Mengidentifikasi Kebutuhan Belajar Murid.

  1. mengamati perilaku murid-murid mereka; 
  2. mengidentifikasi pengetahuan awal yang dimiliki oleh murid terkait dengan topik  yang akan dipelajari;
  3. melakukan penilaian untuk menentukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka saat ini, dan kemudian mencatat kebutuhan yang diungkapkan oleh informasi yang diperoleh dari proses penilaian tersebut;
  4. mendiskusikan kebutuhan murid  dengan orang tua atau wali murid;
  5. mengamati murid ketika mereka sedang menyelesaikan suatu tugas atau aktivitas;
  6. bertanya atau mendiskusikan permasalahan dengan murid;
  7. membaca rapor murid dari kelas mereka sebelumnya untuk melihat komentar dari guru-guru sebelumnya atau melihat pencapaian murid sebelumnya;
  8. berbicara dengan guru murid sebelumnya;
  9. membandingkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan tingkat pengetahuan atau keterampilan yang ditunjukkan oleh murid saat ini;
  10. menggunakan berbagai penilaian penilaian diagnostik untuk memastikan bahwa murid telah berada dalam level yang  sesuai;
  11. melakukan survey untuk mengetahui kebutuhan belajar murid;
  12. mereview dan melakukan refleksi terhadap praktik pengajaran mereka sendiri untuk mengetahui efektivitas pembelajaran mereka; dll. 

Berdasarkan cara-cara tersebut, pembelajaran berdiferensiasi dapat tercapai sehingga pemenuhan kebutuhan murid tercapai dan memeroleh hasil yang maksimal sehingga guru dan murid merasa bahagia dalam proses belajar dan mengajar dengan menerapkan pemetaan kebutuhan murid berdasarkan tiga aspek, yaitu kesiapan belajar murid, minat, dan profil belajar murid

Keterkaitan Antar Materi dengan Modul Lain dengan Progaram  Pendidikan Guru Penggerak

            Keterkaitannya sangat erat karena pembelajaran berdiferensiasi merupakan kunci untuk memberi kebahagian dan keselamatan dalam proses belajar dan mengajar. Dengan menerapkan pemetaan kebutuhan murid sesuai kesiapan belajar murid, minat, dan profil belajar murid maka lingkungan pembelajaran di kelas dan sekolah nyaman dan bahagia. Dan, guru dan murid saling menghargai antra yang satu dengan lain, saling berkolaborasi. Karena itu, guru harus menuntun murid dengan tulus tanpa melihat perbedaan, dan memahami karakteristik murid sesuai kodrat dalam dirinya dan kodrat zaman dengan merdeka belajar, memberi kebebasan kepada murid mengembangkan bakat dan potesnsi dalam diri dengan menumbuhkan Profil Pelajar Pancasila .

https://www.youtube.com/watch?v=tv6-C-aPi_0&t=8s