A. A. Latar
Belakang
Sebagai guru, kita memahami bahwa murid kita bukanlah kertas
kosong. Yang boleh kita coret-coret sesuai kehendak kita. Kita harus menyadari,
kehadiran siswa datang ke sekolah dengan
berbagai latar belakang, kemampuan, dan potensi. Tugas kita sebagai guru, yaitu
menjadikan latar belakang mereka sebagai keunikan dan kekuatan bagi guru,
sebagai pemimpin dalam pembelajaran. Selain itu, guru berperan mengembangkan
dan menumbuhkan potensi yang ada dalam diri siswa. Oleh karena itu, diharapkan bahwa seorang guru
harus memiliki keterampilan yang dapat menuntun dan mengarahkan siswa menemukan jati diri sesuai dengan potensi yang
mereka miliki. Salah satu keterampilan yang diperlukan adalah keterampilan coaching.
Coaching sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada
hasildan sistematis, dimanacoach memfasilitasi peningkatan atas performa
kerja,pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi daricoachee
(Grant, 1999)
Coaching merupakan salah satu metode yang efektif untuk
diterapkan dalam bidang pendidikan yang prosesnya berpusat pada siswa. Dengan
metode ini, pendidik dapat mendorong peserta didik untuk menerapkan kemampuan
komunikasi, kolaborasi, berpikir kreatif. Dalam coaching ada proses menuntun
yang dilakukan guru sebagai coach kepada murid sebagai coachee untuk
menenemukan kekuatan kodrat dan potensinya untuk bisa hidup sesuai tuntutan
alam dan zaman. Pramudianto (2020) menyampaikan tiga makna yaitu:1. Kemitraan.
Hubungan coach dan coachee adalah hubungan kemitraan yangsetara. Untuk
membantucoachee mencapai tujuannya, seorangcoach mendukung secara maksimal
tanpa memperlihatkan otoritas yang lebih tinggi dari coachee. 2. Memberdayakan.
Proses inilah yang membedakan coaching dengan proseslainnya. Dalam hal ini,
dengan sesicoaching yang ditekankan pada bertanyareflektif dan mendalam,
seorang coach menginspirasi coachee untukmenemukan jawaban-jawaban sendiri atas
permasalahannya. 3. Optimalisasi. Selain menemukan jawaban sendiri, seorang coach
akanberupaya memastikan jawaban yang didapat oleh coachee diterapkan dalam aksi
nyata sehingga potensi coachee berkembang
B.
Guru sebagai
penuntun (Among)
| Bersama Siswa |
Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan
itu ‘menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat
memperbaiki lakunya. Oleh sebab itu peran seorang coach(pendidik) adalah
menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan
kebahagiaan sebagaimanusia maupun anggota masyarakat. Dalam proses coaching,
murid diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan
dan arahanagar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang
‘pamong’dapat memberikan ‘tuntunan’ melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif agar
kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya.
Saat ini, coaching menjadi salah satu
proses‘menuntun’ kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di
sekolah.Coaching sangat penting dilakukan di sekolah terutama dalam program
merdeka belajar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Program
ini dapat membuat murid menjadi lebih merdeka dalam belajar untuk
mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan
potensinya. Harapannya, proses coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat
bagi guru untuk membantu murid mencapai tujuannya yaitukemerdekaan dalam
belajar.Masih terkait dengan kemerdekaan belajar, proses coaching merupakan
proses untuk mengaktivasi kerja otak murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif
dalam dapat membuat murid melakukan metakognisi. Selain itu,
pertanyaan-pertanyaan dalam prosescoaching juga membuat murid lebih berpikir
secara kritis dan mendalam.Yang akhirnya, murid dapat menemukan potensi dan
mengembangkannya.Murid kita di sekolah tentunya memiliki potensi yang
berbeda-beda dan menunggu untuk dikembangkan. Pengembangan potensi inilah yang
menjadi tugas seorang guru. Apakah pengembangan diri anak ini cepat,
perlahan-lahan atau bahkanberhenti adalah tanggung jawab seorang guru.
Pengembangan diri anak dapatdimaksimalkan dengan prosescoaching.
Coaching, sebagaimana telah dijelaskan
pengertiannya dari awal memiliki peranyang sangat penting karena dapat
digunakan untuk menggali potensi muridsekaligus mengembangkannya dengan
berbagai strategi yang disepakati bersama.JIka prosescoaching berhasil dengan
baik, masalah-masalah pembelajaran ataumasalah eksternal yang mengganggu proses
pembelajaran dan dapat menurunkanpotensi murid akan dapat diatasi.
C. C. Model TIRTA dalam Coaching
Mengingat pentingnya proses coaching ini sebagai alat untuk memaksimalkanpotensi murid, guru hendaknya memiliki keterampilancoaching. Keterampilan coaching ini sangat erat kaitannya dengan keterampilan berkomunikasi. Berkomunikasi seperti apakah yang perlu seorang coach miliki akan dibahas pada bagian selanjutnya dalam modul coaching ini.
https://www.youtube.com/watch?v=lxD1IBnIBmI
Selain keterampilan berkomunikasi, beberapa keterampilan dasar perlu dimiliki
oleh seorang coach.International Coach Federation (ICF) memberikan acuan
mengenai empat kelompok kompetensi dasar bagi seorang coach yaitu:Empat
keterampilan dasar seorang coach seharusnya dapat dimiliki oleh guru ketika
memerankan diri sebagaicoach. Keterampilan membangun dasar proses coaching
keterampilan membangun hubungan baik keterampilan berkomunikasi keterampilan
memfasilitasi pembelajaran, yaitu Keterampilan membangun dasar proses coaching,
Keterampilan membangun hubungan baik. Keterampilan berkomunikasi, Keterampilan
memfasilitasi pembelajaran.Untuk membantu mengarahkan coach dalam proses
coaching dibutuhkan langkah pengaplikasian.
Langkah Coaching Model TIRTA antara lain:Tujuan utama
pertemuan/pembicaraan, Identifikasi masalah coach, Rencana aksi coachee, Tanggung
jawab/komitmen.
https://www.youtube.com/watch?v=pZpMS2lI6DA&t=90s
D. D. Koneksi Pembelajaran Berdiferensiasi dan
Sosial dan Emosional
Mengintegrasikan pembelajaran berdifrensiasi
kedalam pembelajaran, dimana pembelajaran harus disesuaikan dengan minat,
profil dan kesiapan belajar, sehingga pembelajaran dapat mengakomodir kebutuhan
individu peserta didik, dalam hal ini “KHD mengibaratkan bahwa guru adalah
petani, dan peserta didik adalah tanaman dan setiap individu peserta didik
adalah tanaman yang berbeda, jika tanaman padi membutuhkan banyak air, tentu
akan berbeda perlakuan terhadap tanaman jagung yang justeru membutuhkan tempat
yang kering untuk tumbuh dengan baik”.
Selain itu pendekatan Sosial dan
Emosional dalam praktik coaching juga sangat diperlukan, melalui
pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan guru, peserta didik akan
menemukan kedewasaan dalam proses berfikir melalui kesadaran dan pengelolaan
diri, sadar akan kekuatan dan kelemahan yang dimilkinya, mengambil prespektif
dari berbagai sudut pandang sehingga sesuatu yang menjadi keputusannya telah
didasarkan pada pertimbangan etika, norma sosial dan keselamatan. Guru berperan
sebagai coach pada saat murid membutuhkan bantuan untuk bisa menemukan potensi
dirinya. Dengan memberikan arahan, murid akan bisa mengeksplorasi potensi diri.
Caranya yaitu dengan berdiskusi melalui pertanyaan-pertanyaan menggali potensi
diri murid. Selanjutnya memberikan masukan tentang apa yang bisa dilakukan
untuk mengembangkan potensinya.
Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah
pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif seluruh komunitas sekolah.
Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan
menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial
dan emosional. Pembelajaran sosial dan emosional bertujuan untuk 1) memberikan
pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi 2) menetapkan dan
mencapai tujuan positif 3)merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain
4)membangun dan mempertahankan hubungan yang positif serta 5)membuat keputusan
yang bertanggung jawab. Dalam membimbing murid membuat keputusan yang
bertanggung jawab salah satunya dapat dilakukan dengan proses coaching.
Pembelajaran Sosial-Emosional berbasis
kesadaran penuh untuk mewujudkan kesejahteraan (well-being). Kompetensi Sosial
Emosional tersebut yaitu kesadaran diri (pengenalan emosi), pengelolaan diri
(pengenalan emosi dan fokus), kesadaran diri (empati), keterampilan sosial
(resiliensi) dan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab.
E.
E. Prinsip-Prinsip Coach
1.
Kesadaran diri. Dengan adanya kesadaran
diri ini akan menjadikan lebih mudah dalam melakukan coaching;
2.
Kolaboratif. Prinsip ini berkaitan
dengan kerjasama dengan pihak lain, baik sekolah, sejawat, orang tua maupun
murid;
3.
Fokus pada solusi. Coaching untuk
menemukan solusi permasalahan bersama;
4.
Berorientasi pada hasil dan sistematis.
Coaching dilaksanakan bisa lebih berhasil guna sesuai permasalahan yang ada;
5.
Pembuka potensi. Coaching menggali lebih
dalam lagi potensi yang dimiliki seseorang untuk menjadi lebih baik.
F.
F. Ada Empat Aspek Berkomunikasi yang Harus
Kita Pahami
Percakapan yang kreatif akan mengasah keterampilan
berpikir murid sehingga dapat menemukan poptensinya untuk mengantarkan
mereka dari situasi saat ini ke situasi
ideal dimasa depan. Coaching sangat penting karena dapat digunakan untuk
menggali potensi murid sekaligus mengembangkannya dengan berbagai strategi yang
disepakati. Keterampilan coaching sangat diperlukan untuk dapat membantu
seorang guru dalam menjalankan pendidikan yang bepihak pada murid. Empat aspek
berkomunikasi yang harus kita pahami dan latih untuk mendukung praktek coaching
1. Komunikasi Asertif (menyamakan kata kunci, menyamakan bahasa tubuh, dan
menyelaraskan emosi). 2. Pendengar aktif (memberikan perhatian penuh lawan
bicara, mendengarkan, menanggapi perasaan dengan tepat, parafrase dan bertanya)
3. Bertanya efektif (pertanyaan dapat menstimulasi pemikiran, memunculkan
hal-hal yang belum terfikirkan, mengungkapkan emosi atau nilai dalam diri yang
mendorong untuk membuat sebuah aksi). 4. Umpan balik positif (membangun potensi
dan menginspirasi coachee untuk berkarya dan memaknai umpan balik sebagai refleksi
dan pengembangan diri).
G. Refleksi
Coaching adalah salah satu bentuk usaha
yang dilakukan guru untuk menuntun segala potensi murid untuk hidup sesuai
kodratnya yang dimilikinya. Coaching
mnejadikan murid dapat hidup sebagai individu dan bagian masyrakat yang mampu
menggali dan memaksimalkan segala potensi yang dimilikinya untuk menyelesaikan
masalahnya sendiri.
Pada pengalaman masa lalu sebagai guru,
saya tidak menerapkan berkomunikasi secara asertif yang tujuannya membangun kualitas hubungan kita dengan orang
lain menjadi lebih positif karena ada pencapaian bersama dan kesepakatan dalam
pemahaman dari kedua belah pihak. Selain itu, kurang memperhatikan kualitas
hubungan yang diharapkan dibangun atas rasa hormat pada pemikiran dan perasaan
orang lain. Selain itu, sebagai guru kadang saya kurang tidak menjadi pendengar
yang aktif.
Semenjak mengikuti calon guru penggerak,
saya semakin sadar untuk mengalami perubahan menjadi guru yang berpihak kepada
murid. Di mana sebagai guru, saya harus memahami kebutuhan murid, misalnya
kesiapan belajar mrid, minat, dan gaya belajar murid dengan menerapkan coaching
dengan model TIRTA, yaitu tujuan, identifikasi masalah, rencana aksi, dan
tujuan. Karena itu, guru juga harus memahmai kesadaran diri, sosial, emosional
dalam dirinya dengan menggunakan teknik STOP.
Guru juga harus mengajak murid untuk memahami emosi dalam dirinya. Dalam
coaching, sebagai seorang coach kita akan menghendaki adanya hasil yang dicapai
dan ada kalanya coachee kita (murid) merasa tidak suka atau merasa ragu serta
tertekan dengan komunikasi yang hendak dibangun. Karenanya, sebuah pemahaman
komunikasi asertif perlu dibangun agar timbul rasa percaya dan aman.Ketika rasa
aman itu hadir dalam sebuah hubungan coach and coachee.
0 komentar:
Posting Komentar