Minggu, 19 Desember 2021 | By: sovisimbolon@blogspot.com

Modul 2.3.a.9 Koneksi Antar Materi-Coaching

 

A.        A. Latar Belakang

Sebagai guru, kita  memahami bahwa murid kita bukanlah kertas kosong. Yang boleh kita coret-coret sesuai kehendak kita. Kita harus menyadari, kehadiran siswa  datang ke sekolah dengan berbagai latar belakang, kemampuan, dan potensi. Tugas kita sebagai guru, yaitu menjadikan latar belakang mereka sebagai keunikan dan kekuatan bagi guru, sebagai pemimpin dalam pembelajaran. Selain itu, guru berperan mengembangkan dan menumbuhkan potensi yang ada dalam diri siswa.  Oleh karena itu, diharapkan bahwa seorang guru harus memiliki keterampilan yang dapat menuntun dan mengarahkan siswa  menemukan jati diri sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Salah satu keterampilan yang diperlukan adalah keterampilan coaching. Coaching sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasildan sistematis, dimanacoach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja,pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi daricoachee (Grant, 1999)  

Coaching merupakan salah satu metode yang efektif untuk diterapkan dalam bidang pendidikan yang prosesnya berpusat pada siswa. Dengan metode ini, pendidik dapat mendorong peserta didik untuk menerapkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kreatif. Dalam coaching ada proses menuntun yang dilakukan guru sebagai coach kepada murid sebagai coachee untuk menenemukan kekuatan kodrat dan potensinya untuk bisa hidup sesuai tuntutan alam dan zaman. Pramudianto (2020) menyampaikan tiga makna yaitu:1. Kemitraan. Hubungan coach dan coachee adalah hubungan kemitraan yangsetara. Untuk membantucoachee mencapai tujuannya, seorangcoach mendukung secara maksimal tanpa memperlihatkan otoritas yang lebih tinggi dari coachee. 2. Memberdayakan. Proses inilah yang membedakan coaching dengan proseslainnya. Dalam hal ini, dengan sesicoaching yang ditekankan pada bertanyareflektif dan mendalam, seorang coach menginspirasi coachee untukmenemukan jawaban-jawaban sendiri atas permasalahannya. 3. Optimalisasi. Selain menemukan jawaban sendiri, seorang coach akanberupaya memastikan jawaban yang didapat oleh coachee diterapkan dalam aksi nyata sehingga potensi coachee berkembang

B.     Guru sebagai penuntun (Among)

Bersama Siswa


Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Oleh sebab itu peran seorang coach(pendidik) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagaimanusia maupun anggota masyarakat. Dalam proses coaching, murid diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahanagar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’dapat memberikan ‘tuntunan’ melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya.

 Saat ini, coaching menjadi salah satu proses‘menuntun’ kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah.Coaching sangat penting dilakukan di sekolah terutama dalam program merdeka belajar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Program ini dapat membuat murid menjadi lebih merdeka dalam belajar untuk mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensinya. Harapannya, proses coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi guru untuk membantu murid mencapai tujuannya yaitukemerdekaan dalam belajar.Masih terkait dengan kemerdekaan belajar, proses coaching merupakan proses untuk mengaktivasi kerja otak murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dalam dapat membuat murid melakukan metakognisi. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan dalam prosescoaching juga membuat murid lebih berpikir secara kritis dan mendalam.Yang akhirnya, murid dapat menemukan potensi dan mengembangkannya.Murid kita di sekolah tentunya memiliki potensi yang berbeda-beda dan menunggu untuk dikembangkan. Pengembangan potensi inilah yang menjadi tugas seorang guru. Apakah pengembangan diri anak ini cepat, perlahan-lahan atau bahkanberhenti adalah tanggung jawab seorang guru. Pengembangan diri anak dapatdimaksimalkan dengan prosescoaching.

Coaching, sebagaimana telah dijelaskan pengertiannya dari awal memiliki peranyang sangat penting karena dapat digunakan untuk menggali potensi muridsekaligus mengembangkannya dengan berbagai strategi yang disepakati bersama.JIka prosescoaching berhasil dengan baik, masalah-masalah pembelajaran ataumasalah eksternal yang mengganggu proses pembelajaran dan dapat menurunkanpotensi murid akan dapat diatasi.

C.              C. Model TIRTA dalam Coaching

Mengingat pentingnya proses coaching ini sebagai alat untuk memaksimalkanpotensi murid, guru hendaknya memiliki keterampilancoaching. Keterampilan coaching ini sangat erat kaitannya dengan keterampilan berkomunikasi. Berkomunikasi seperti apakah yang perlu seorang coach miliki akan dibahas pada bagian selanjutnya dalam modul coaching ini. 

https://www.youtube.com/watch?v=lxD1IBnIBmI

Selain keterampilan berkomunikasi, beberapa keterampilan dasar perlu dimiliki oleh seorang coach.International Coach Federation (ICF) memberikan acuan mengenai empat kelompok kompetensi dasar bagi seorang coach yaitu:Empat keterampilan dasar seorang coach seharusnya dapat dimiliki oleh guru ketika memerankan diri sebagaicoach. Keterampilan membangun dasar proses coaching keterampilan membangun hubungan baik keterampilan berkomunikasi keterampilan memfasilitasi pembelajaran, yaitu Keterampilan membangun dasar proses coaching, Keterampilan membangun hubungan baik. Keterampilan berkomunikasi, Keterampilan memfasilitasi pembelajaran.Untuk membantu mengarahkan coach dalam proses coaching dibutuhkan langkah pengaplikasian.  Langkah Coaching Model TIRTA antara lain:Tujuan utama pertemuan/pembicaraan, Identifikasi masalah coach, Rencana aksi coachee, Tanggung jawab/komitmen.

https://www.youtube.com/watch?v=pZpMS2lI6DA&t=90s

D.    D. Koneksi Pembelajaran Berdiferensiasi dan Sosial dan Emosional

Mengintegrasikan pembelajaran berdifrensiasi kedalam pembelajaran, dimana pembelajaran harus disesuaikan dengan minat, profil dan kesiapan belajar, sehingga pembelajaran dapat mengakomodir kebutuhan individu peserta didik, dalam hal ini “KHD mengibaratkan bahwa guru adalah petani, dan peserta didik adalah tanaman dan setiap individu peserta didik adalah tanaman yang berbeda, jika tanaman padi membutuhkan banyak air, tentu akan berbeda perlakuan terhadap tanaman jagung yang justeru membutuhkan tempat yang kering untuk tumbuh dengan baik”.

Selain itu pendekatan Sosial dan Emosional dalam praktik coaching juga sangat diperlukan, melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan guru, peserta didik akan menemukan kedewasaan dalam proses berfikir melalui kesadaran dan pengelolaan diri, sadar akan kekuatan dan kelemahan yang dimilkinya, mengambil prespektif dari berbagai sudut pandang sehingga sesuatu yang menjadi keputusannya telah didasarkan pada pertimbangan etika, norma sosial dan keselamatan. Guru berperan sebagai coach pada saat murid membutuhkan bantuan untuk bisa menemukan potensi dirinya. Dengan memberikan arahan, murid akan bisa mengeksplorasi potensi diri. Caranya yaitu dengan berdiskusi melalui pertanyaan-pertanyaan menggali potensi diri murid. Selanjutnya memberikan masukan tentang apa yang bisa dilakukan untuk mengembangkan potensinya.

Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. Pembelajaran sosial dan emosional bertujuan untuk 1) memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi 2) menetapkan dan mencapai tujuan positif 3)merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain 4)membangun dan mempertahankan hubungan yang positif serta 5)membuat keputusan yang bertanggung jawab. Dalam membimbing murid membuat keputusan yang bertanggung jawab salah satunya dapat dilakukan dengan proses coaching.

Pembelajaran Sosial-Emosional berbasis kesadaran penuh untuk mewujudkan kesejahteraan (well-being). Kompetensi Sosial Emosional tersebut yaitu kesadaran diri (pengenalan emosi), pengelolaan diri (pengenalan emosi dan fokus), kesadaran diri (empati), keterampilan sosial (resiliensi) dan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab.

E.     E. Prinsip-Prinsip Coach

1.      Kesadaran diri. Dengan adanya kesadaran diri ini akan menjadikan lebih mudah dalam melakukan coaching;

2.      Kolaboratif. Prinsip ini berkaitan dengan kerjasama dengan pihak lain, baik sekolah, sejawat, orang tua maupun murid;

3.      Fokus pada solusi. Coaching untuk menemukan solusi permasalahan bersama;

4.      Berorientasi pada hasil dan sistematis. Coaching dilaksanakan bisa lebih berhasil guna sesuai permasalahan yang ada;

5.      Pembuka potensi. Coaching menggali lebih dalam lagi potensi yang dimiliki seseorang untuk menjadi lebih baik.

F.       F. Ada Empat Aspek Berkomunikasi yang Harus Kita Pahami

Percakapan yang kreatif akan mengasah keterampilan berpikir murid sehingga dapat menemukan poptensinya untuk mengantarkan mereka  dari situasi saat ini ke situasi ideal dimasa depan. Coaching sangat penting karena dapat digunakan untuk menggali potensi murid sekaligus mengembangkannya dengan berbagai strategi yang disepakati. Keterampilan coaching sangat diperlukan untuk dapat membantu seorang guru dalam menjalankan pendidikan yang bepihak pada murid. Empat aspek berkomunikasi yang harus kita pahami dan latih untuk mendukung praktek coaching 1. Komunikasi Asertif (menyamakan kata kunci, menyamakan bahasa tubuh, dan menyelaraskan emosi). 2. Pendengar aktif (memberikan perhatian penuh lawan bicara, mendengarkan, menanggapi perasaan dengan tepat, parafrase dan bertanya)

3. Bertanya efektif (pertanyaan dapat menstimulasi pemikiran, memunculkan hal-hal yang belum terfikirkan, mengungkapkan emosi atau nilai dalam diri yang mendorong untuk membuat sebuah aksi). 4. Umpan balik positif (membangun potensi dan menginspirasi coachee untuk berkarya dan memaknai umpan balik sebagai refleksi dan pengembangan diri).

G.        Refleksi

Coaching adalah salah satu bentuk usaha yang dilakukan guru untuk menuntun segala potensi murid untuk hidup sesuai kodratnya  yang dimilikinya. Coaching mnejadikan murid dapat hidup sebagai individu dan bagian masyrakat yang mampu menggali dan memaksimalkan segala potensi yang dimilikinya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Pada pengalaman masa lalu sebagai guru, saya tidak menerapkan berkomunikasi secara asertif yang tujuannya  membangun kualitas hubungan kita dengan orang lain menjadi lebih positif karena ada pencapaian bersama dan kesepakatan dalam pemahaman dari kedua belah pihak. Selain itu, kurang memperhatikan kualitas hubungan yang diharapkan dibangun atas rasa hormat pada pemikiran dan perasaan orang lain. Selain itu, sebagai guru kadang saya kurang tidak menjadi pendengar yang aktif.

Semenjak mengikuti calon guru penggerak, saya semakin sadar untuk mengalami perubahan menjadi guru yang berpihak kepada murid. Di mana sebagai guru, saya harus memahami kebutuhan murid, misalnya kesiapan belajar mrid, minat, dan gaya belajar murid dengan menerapkan coaching dengan model TIRTA, yaitu tujuan, identifikasi masalah, rencana aksi, dan tujuan. Karena itu, guru juga harus memahmai kesadaran diri, sosial, emosional dalam dirinya dengan menggunakan teknik STOP.  Guru juga harus mengajak murid untuk memahami emosi dalam dirinya. Dalam coaching, sebagai seorang coach kita akan menghendaki adanya hasil yang dicapai dan ada kalanya coachee kita (murid) merasa tidak suka atau merasa ragu serta tertekan dengan komunikasi yang hendak dibangun. Karenanya, sebuah pemahaman komunikasi asertif perlu dibangun agar timbul rasa percaya dan aman.Ketika rasa aman itu hadir dalam sebuah hubungan coach and coachee.

 

 

 

0 komentar: