Jumat, 14 November 2014 | By: sovisimbolon@blogspot.com

Perempuan di Buku Harapan



Perempuan di Buku Harapan
 Pengharapan mengajari menjadi perempuan perkasa di dalam kegelapan. Seberkas cahaya membangkitkan semangat. Pengharapan membimbing untuk mengenal kehidupan setiap perempuan. Seberkas kasih memberikan kekuatan untuk menaburkan kasih. Pengharapan memberikan pengertian menelusuri perempuan. Sebentuk cinta mengajari cara mencurahkan rasa ke dinding perempuan. Namun dunia kurang sampai pada kasih dan pengharapan yang tidak pernah pudar. Pengharapan mampu memberikan harapan yang kuat bagi yang mempunyai harapan.”

Tulisannya ditinggalkan begitu saja. Dia bingung, tidak tahu, entah apa yang hendak ditulis. Di pagi yang cerah imajinasinya sedang tidak bersahabat. Di kala pagi pulpen selalu bicara di buku “harapan” dengan ide-ide cemerlang. Tulisannya tidak berlanjut karena mata indah milik Via sudah terpesona dengan mentari pagi yang mengintip dari balik tirai seakan mengajak bersenda gurau. Sebentuk jiwanya segar saat pagi menyentuh. Dia bangkit menyibakkan tirai kamar, menatap mentari yang sudah keluar dari peraduannya. Ia seolah terhipnotis keluar kamar, perlahan menapaki batu-batu bata yang tertata rapi di pekarangan, terselip rumput-rumput jepang di sisi batu. Rumput-rumput mulai menyapa tapak kakinya  yang terasa dingin. Ia merentangkan kedua lengannya secara rileks hingga terasa lentur. Aroma mawar di sekitar pekarangan menguasai hidungnya serasa tubuh seperti mawar. Spontan desahan nafas keluar beberapa kali  berbarengan kicauan burung di ranting-ranting pohon. Dalam hati terbesit rasa syukur kepada Sang Khalik:            
                        “Sungguh mulia termulia
 Sungguh agung teragung Engkau dahsyat.
                                    Pengharapan yang tak pernah pudar ada di darah-Mu.”
            Langkah Via terhenti di sebuah batu berbentuk persegi panjang di tengah pekarangan. Hembusan angin menyentuh anak-anak rambutnya. Tangannya  memainkan anak rambut yang terurai. Kenyamanan terasa ketika Via duduk di batu persegi panjang. Bola matanya mulai menerawang  pada kehijauan daun-daun. Raut-raut wajah dulu yang duduk  di bangku belajar mulai tampak dalam ingatannya. Roman wajah lusuh di setiap sudut. “Senyum? Hilang terbawa angin.” Kenangan menjajah di kepala. Derita tak pernah hilang walau ombak kuat menerjang dari segala arah, tapi derita tak terarah dan tak terkalahkan. Kerinduan Via semakin kental di kisah raut ternoda oleh desahan-desahan manusia. “Manusia? Letak kemanusiaan di mana? Manusia menganggap diri beradab! Padahal biadab!” gumamnya sambil mengingat tangisan sepanjang hari kepada siswa sederhana. Eratan tangan sangat kuat seakan diajak bersatu di dalam tangisan. Terpeluk begitu kuat sampai desakan nafas hampir berhenti.
            “Bu Vi, aku laparrrr…,” rintih Mega sambil menyentuh perut yang sedang bernyanyi seperti genderang mau pecah. Perutnya tak mampu melawan desakan lapar.  Tubuh lemah, wajah pucat, dan tangan gemetaran. Hawa lapar menguasai pikiran dan mengundang niat mencuri. Tangisannya merasuki  roh Via, kini kristal-kristal berjatuhan di kedua pipi insan. Jemari lembut menyapu bersih kristal  jatuh di kedua pipi Mega, lalu mengelus rambut yang berminggu-minggu tidak terurus bak ijuk  Mata Via berbicara saat menatap mata sendu Mega yang mengandung beban. Mega, gadis remaja kls XI IPA, siswa yang lumayan pintar. Biasanya keceriaan ada di setiap saat, namun keceriaan itu mulai terkikis oleh desakan yang datang entah dari mana. Mendengar rasa lapar diteriak  Mega, hatinya jadi tersentuh. Kemudian Via mengajak Mega menuju warung Bu Atik. Warung sederhana yang berdinding rumbiah. Pepohonan hijau menimbulkan  keindahan tersendiri, servis yang ramah membuat pelanggan malas  beranjak  seperti dihipnotis. Jarak sekolah dengan warung  sekitar sepuluh menit  berjalan kaki.  Bu Atik menyuguhkan pesanan Via. Dengan lahap Mega makan tanpa cuci tangan, seperti singa kelaparan. “Pelan-pelan ngunyahnya,” seru Via penuh kelembutan sambil meneguk segelas air putih.  “Enak Bu, sudah tiga hari belum makan. Wajarkan Bu, boleh lagikan Bu,” pintanya tanpa malu. Tangannya lansung mendarat di atas makanan yang disuguhkan untuk kedua kalinya. Rasa lapar dan haus sirna sekejap. Bunyi sendawa  beberapa kali terdengar.
            Mega mencurahkan kisah-kisah kehidupannya kepada Via, guru bahasa Indonesia, yang dipercayainya. Ia bingung memulai kisahnya. Mata berkaca-kaca tak mampu menahan air mata. Dibiarkan mutiara bening terus mengalir. “Bu, Bu, Bu…,” panggilnya berkali-kali. Via tak sabar mendengar kisah hidup Mega seakan dia  ikut ambil bagian dalam kisah Mega. “Aku benci kemiskinan. Kenapa aku terlahir untuk hidup serba melarat. Apa yang aku punya, Ibu kandungku gila karena tingkah laku Bapakku seperti binatang. Mata Via tetap menatap, mendengar keluh kesah siswanya. Bapak tak punya pekerjaan menetap. Dia bukan figur seorang “Bapak” yang bertanggung jawab ini malah menjijikkan, sudah malas cari nafkah, lihai main perempuan. Ibu menjadi pelampiasan kemarahannya, tiap kali Ibu menegur, pukulan jadi hadiah sehari-hari. Karakter Bapak  membuat Ibu mengalami tekanan demi tekanan. Ibu menjadi stres akhirnya jadi gila. Bapak tidak peduli lagi dengan kehidupan kami.  Sekarang dia pergi tak diketahui di mana batang hidungnya. Sampai mati pun aku tak peduli dengan bangsat itu. Kini kerjaanku jadi pencopet di setiap toko, pusat perbelanjaan bahkan terminal. Tempat-tempat itu memenuhi kebutuhan kami. Apa yang harus kulakukan, Bu?” ceritanya penuh emosi. Via meremas jemari Mega seakan memberi penguatan atas penderitaan yang dialami Mega. Dengan tatapan yang penuh kasih Via pun berujar, “Anakku, jangan kamu lakukan itu. Kamu harus bangkit dari gelapnya hidup. Segera tinggalkan rasa dendam dan kegiatan copet itu, karena jika kita berbuat kesalahan, ia akan menanggung akibat kesalahannya itu. Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Bekerjalah sesuai kehendak Dia. Dan berdoa juga untuk hatimu dan ibumu agar pulih kembali.,” nasihatnya membuka hati Mega yang hampir hilang. “Anakku, hidup adalah penderitaan, kita harus atasi. Hidup juga teka-teki, kita harus pecahkan.” Setelah mendengar nasihatnya, Mega langsung pergi dengan air mata penyesalan. Via terus mengikuti langkah siswanya yang gontai. Via duduk menyendiri di warung tanpa Mega. Dia berbisik kepada hatinya, “Pengharapan, datanglah untuk membangkitkan hidup Mega.”
            Bunyi sms, membuyarkan ingatannya kepada Mega. Isi sms singkat mempercepat langkahnya menuju daun pintu rumahnya. Ia berlari kecil ke kemar mandi, dan tangannya menyambar handuk yang tersangkut di balik pintu. Ditariknya tanpa melihat sobekan. Ia merendam tubuhnya dalam bak air. Segarnya tubuh terasa nyata yang memberi warna. “Seandainya hati bagai air mengalir secara rendah hati di setiap celah. Aku akan memberikan pengharapan kepada mereka tercela,” bicara kepada dirinya sendiri.
06.30 Via bergegas dari rumah menuju sekolah. Seperti biasanya Via menampakkan diri penuh simpatik dan sukacita begitu masuk kelas. Senyum khas jadi warna hidupnya. Senyum itu bermakna bagi setiap siswa.  Sentuhan katanya merasuki  hati siswa-siswa. Kata-kata itu mengandung motivasi yang dalam ketika berada di hadapan siswa. Bahkan Via memperlakukan siswa selayaknya adik atau teman. Dalam kelas pun bila proses belajar berlangsung terkadang pujian dan motivasi diberikan kepada siswa untuk memacu semangat belajar mereka. Di samping itu humor Bu Via beraksi, ketika suasana menuju kebosanan, sehingga suasana kelas jadi nyaman untuk belajar. Siswa pun terpancing  berinteraksi. Sejenak  tatapannya menyapu bersih setiap siswa dalam kelas namun batang hidung Mega tak tampak ibarat debu di hembus. Awal masuk kelas biasanya Via melakukan percakapan ringan, saat ini dirinya kurang semangat. Hatinya terus berbisik tentang Mega, “Apa dia kembali mencuri?  Semoga pikiran itu tidak benar.” Bisikan itu sirna saat ide cemerlang muncul  di kepalanya. Ide itu dibuatnya dalam bentuk tugas agar dikerjakan oleh siswa. Menurutnya tugas ini sangat layak dikerjakan. Diambilnya spidol, kata “Mama” tertulis di white board. “Judul ini kalian kembangkan menjadi sebuah karangan berdasarkan pengalaman. Sekarang kerjakan!” perintahnya kepada  siswa. Mereka mulai sibuk mengingat kenangan tentang mama. Mereka berusaha membuka dan mengutak-ngatik memori lama. 90 menit diberikan Via bagi siswa untuk menyelesaikan sebuah karangan. Saat melangkah kakinya berhenti di sudut kursi  belakang, tempat di mana Cica duduk. Cica, siswa pendiam di antara siswa yang lain. Watak tersembunyi serasa ada benda tajam yang tertancap di tubuhnya. Senyum kaku menghiasi wajah, memiliki tatapan mata redup tak terarah. Via tersentak membaca kertas Cica berisi “Mamaku Perek. Untuk menyembunyikan rasa tersentaknya kepada siswa, Via  menyarankan agar Cica melanjutkan tulisannya. Ucapan Via tidak digubris Cica. Tiba-tiba bel berbunyi memberi tanda bahwa pelajaran sudah usai. Satu per satu siswa mengantar hasil tugasnya, tapi Cica sibuk dengan pikirannya sendiri. Cica diam di kursi tanpa menghiraukan kata terlambat untuk mengumpul tulisannya. Setelah Via keluar dari ruangan serasa ada bayangan tampak mengikutinya ternyata Cica. Tarikan tangan Cica begitu kuat hampir kaki Via terpeleset. “Ada apa, Anakku?” ucap Via sambil melepaskan tangannya dari genggaman siswa itu secara perlahan. “Saya butuh Ibu,” balasnya dengan mata berkaca-kaca. Pikiran Cica terbaca oleh Via kalau siswa itu ingin menyampaikan sesuatu yang sangat rahasia. Kemudian mereka berjalan ke belakang sekolah. Mata mereka beradu saat melihat sebuah ”Nodate”. Tiupan angin di sekitar Nodate menghadiahkan rasa nyaman bagi seseorang yang hatinya sesak. Nodate layak untuk dimiliki siapa saja yang ingin berkisah tanpa rasa curiga. Berkisah suatu masalah memang pantas di Nodate, jika seseorang merasa lelah atau penat, kasih sayang akan membuat tenang dan mengusir rasa penat.  Tempat itu sering disebut “Nodate”,  istilah ini diambil dari kosakata Jepang. Artinya tempat yang nyaman. Nodate jadi sasaran mereka untuk bercerita.
            Air mata terus mengalir, entah dari mana sumber air mata yang tidak henti-hentinya mengalir di pipi siswa itu. Serasa beban berat sangat sulit untuk diringankan, nafasnya tak sanggup untuk menahan tekanan dari dalam. Bongkahan hati mencair setelah Via menyentuh mata yang tidak pernah bersinar.
            “Semasa kecil, aku terlahir tanpa Papa. Mama sering mengatakan aku anak bajingan, bangsat, bahkan anak begu. Terkadang aku tidak tahan mendengar kata-kata itu seakan aku debu. Serendah itukah diriku, Bu? Apakah proses membuatku menjijikkan? Manusia sungguh kejam! Dunia tertawa melihat masa kecilku yang suram. Tiupan angin pun tidak mampu menerpa suramku. Suramku tak pernah terhapus ibarat stempel termaterai di pintu hatiku. Aku muak. Siapa Papaku? Aku tidak mengenalnya, bentuk hidungnya pun aku tidak tahu, apalagi hatinya. Herannya, Mama sering mengataiku anak begu. Malam hari adalah peristiwa kacau bagiku.  Setiap malam Mama menangis tersedu-sedu. Mendengar tangisannya, aku ikut menangis. Rasa tangis kutahan sekuat tenaga karena Mama tidak suka melihat diriku menangis. Tiba-tiba air mataku keluar di depannya. Bentakan, makian, dan tamparan mendarat begitu hebat.  “Jangan cengeng anak begu, bajingan…,” teriakan disertai botol-botol miras berhamburan di lantai. Abu rokok menghiasi lantai kusam. Onderdil wanita berserak di mana-mana, muntahan-muntahan di setiap sudut dinding. Tampak kasur tak terarah tempatnya, bantal-bantal berkeluaran kapasnya bagai usus perut yang bergantung. Daun pintu menganga setiap hari, diisi jiwa-jiwa aneh yang tak terarah. Dengkuran, desahan nafas terdengar serasa binatang liar, bahkan ketika pulang pergi dari sekolah. Aku beranikan diri untuk bertanya tentang  Papaku, tapi tamparan mendarat beberapa kali di pipi. “Dengar ya, belajar tidak menyebut Papa. Lelaki adalah biadab. Papamu sudah mati dimakan anjing gila.  Ngertiii…camkan juga, kau hari ini bisa hidup karena aku. Jika aku tak mampu untuk melayani laki- laki jalang, maka penggantinya kau. Paham…,” pekik wanita itu emosi.
            Setiap malam aku tidur tanpa terlelap. Perlahan-lahan Mama memindahkan tubuhku di balik ranjang. Mama pikir aku pulas tertidur, padahal tiap malam mataku tidak tenang. Hati terus bicara. Suara desahan Mama dengan lelaki selalu terdengar di atas ranjang, ”Mama, Ma, Ma…” terucap bila malam tiba. Tangisan malam setia menemaniku dan dinginnya lantai tak mampu menghapus kesedihanku. Dan Tuhan pun diam.
 Neraka mulai menunjukkan apinya, panasnya mulai terasa di sel tubuh. Beberapa bulan setelah Mama sakit, ia kerap marah-marah sambil melempar botol bir ke mukaku. Tatapan matanya terus bicara agar aku melayani laki-laki biadab yang datang sesuka hati. Baru kali ini aku lihat Mama tersenyum. Dulu, senyum itu suram. Saat ini senyum itu memiliki maksud seakan aku turut melayani hidung belang. Penolakan tak mampu  kukatakan. Takutku terlalu hitam, tanpa berkata hanya anggukan menyatakan ia.
            Dengan ragu aku melangkah. Berkali-kali menoleh pintu kamar. Kuberanikan diri ke kamar. Pria berumur sekitar 40-an menatap penuh nafsu. Kulitnya hitam legam, terdapat gambar tato ular. Kelihatannya pria itu seorang residivis, mungkin banyak kejahatan yang pernah dilakukannya. Tangannya yang kokoh menggerayanggi tubuhku. Berahi menghancurkan aroma tubuhku. Aku tak berdaya untuk melawan. Aku lunglai kemudian pria itu menikmati semua yang kupunya tanpa menghiraukan air mata jatuh. Air mata sebagai pertanda diriku adalah darahnya. Amarah berkecamuk di hati bagai badik tertancap di dinding tubuh. Selesai takhtaku lenyap, pria itu pergi, namun langkahnya berhenti saat Mama di hadapannya. Mama menjerit, “16 tahun yang silam kau lenyapkan mahkota harapanku. Hari ini kau sudah melenyapkan mahkota harapan hasil biadabmu.” senyum bengis tersimpul di bibir Mama. Kemenangan sudah diraih. Wajah Mama tampak riang  karena dendam sudah terbalas. Jeritan Mama menghantuiku seperti hantu. Harapanku kian hampa dan berseru, ”Mama, Ma…pantaskah aku jadi korban? Kenapa harus aku? Aku rindu rupa, rindu rasa. Di mana Engkau, Tuhan? Aku sepi.” Aku berlari terseok-seok, tak sadar sehelai baju tak melekat. Tatapan mata yang tajam menatap penuh keheranan. Olokan demi olokan terlontar seperti titik hujan. Semua mata hanya bisa menghakimi. Mata-mata itu hanya bisa melihat selumbar mata orang lain, tapi balok mata sendiri tidak diketahui. “Ma, aku sudah menepati janji. Janji untuk melayani bagian darahku. Harapanmu terlaksana kepada pria yang dulu menghancurkan mahkota harapanmu.”
            Kisah ini lama menggerogoti pikiran Cica, ibarat penyakit kanker merajai tubuhnya. Tangisan gadis itu memilukan hati Via. Tangannya membelai rambut gadis itu penuh kasih sayang, kemudian ia rebahkan kepala Cica secara perlahan ke bahunya sembari berseru, “Anakku, mengasihi musuh dan berbuat baik kepada orang yang membenci kita sungguh sulit untuk melakukannya. Tapi, jika kita mengasihi orang yang mengasihi kita, apakah jasa kita? Orang-orang jahat sekalipun mereka juga melakukan itu. Dan jika kita meminjamkan sesuatu kepada orang karena berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasa kita? Pemerkosa, pembunuh, bahkan teroris pasti meminjamkan kepada orang-orang seperti itu, agar mereka menerima kembali sama banyak. Anakku, kamu sudah menunjukkan keperkasaanmu terhadap orang yang membencimu. Walau keluarga dan sekitarmu menolak kehadiranmu,   Tuhan tidak menolakmu. Engkau mutiara bagi Dia dan juga Ibu.” Sentuhan kata  Via menyinari hidup gadis itu. Setelah itu Via mengajaknya  berdoa bersama memohon penguatan dan pengampunan kepada Tuhan.
             Di hari Minggu ketika senja tiba, Via menelusuri jalan raya, tampak gedung-gedung menjulang tinggi, penghijauan pun mulai layu. Hidup di kota pun jadi suram, indah dan nyaman jadi gelap. Dia melewati trotoar, lalu masuk ke mulut gang, muncul di jalan raya, lantas dirinya menyebrang. Setelah melewati gang ia berhenti di depan kerumunan warga. Dia terperanjat saat mendengar teriakan suara ramai seperti suara yang lagi demosntrasi untuk menyampaikan aksi dan inspirasi ke gedung DPR. Teriakan suara pun mulai terdengar.  Teriakan jadi berkuasa di setiap sudut gang.
            “Terus terang, aku tidak sudi perempuan itu di komplek kita,” gugat wanita gendut. “Aku juga setuju yang Ibu katakan tadi,” timpal wanita penggosip. “Intinya perempuan pelacur itu harus dibantai. Aku tidak sabar menghantam si brengsek itu,” tiba-tiba gadis perawan tua berujar. “Bantai pelacur itu,” sorak warga seperti paduan suara. Tapi, seorang wanita yang berwajah teduh datang menengahi masalah yang terjadi. ”Bapak, Ibu bagaimana masalah ini kita didiskusikan dengan Pak RT terlebih dahulu. Dan kita jangan  langsung main usir tanpa ada bukti kuat. Apalagi menghakiminya karena negara kita negara hukum bukan negara rimba. Satu hal yang kita ingat dia berhak tinggal di mana saja,” ungkap wanita itu meredakan suasana. “Saya setuju dengan usul Bu Cia. Masalah ini harus kita sampaikan kepada Pak RT,” ungkap pria breok yang sependapat dengan Bu Cia. Warga  kompak mendatangi Pak RT, salam pun tak terhirau lagi. Wajah bingung Pak RT tampak, saat warga berdatangan ke pintu.
            “Kami harap Pak RT segera mengusir perempuan pelacur itu!” perintah seorang gadis yang kelihatan benci kepada Rina yang sering dianggap sebagai pelacur komplek. “Memang, perempuan itu melakukan tindakan apa? Sehingga Bapak, Ibu berniat untuk mengusir perempuan itu.” kata Pak RT tegas. “Karena tindakannya itu Pak, kami sepakat untuk mengusir perempuan jalang itu.” jawab pria tua tak kalah tegasnya.
            “Begini Pak, kami sepakat agar Rina, perempuan pelacur itu tidak tinggal di komplek ini. Perempuan itu sudah mencemarkan nama baik komplek kita. Jika istri dan anak lagi bepergian, dia mulai beraksi  menggoda para suami. Tindakannya sudah sangat keterlaluan. Dia berani buka-bukaan. Semua warga sudah resah melihat sikapnya. Kami mohon perempuan itu diusir segera,” potong Bu Meri penuh emosi yang suaminya doyan selingkuh. Percakapan warga dengan Pak RT menggelitik hati Via untuk mengetahui masalah sebenarnya.
            Beramai-ramai warga sepakat menggerebek kediaman Rina setelah dari rumah Pak RT. Pintu rumah Perempuan itu digedor-gedor. Daun pintu langsung terbuka akibat dobrakan setumpuk tangan. Mata warga menggeledah  dari segala arah. Pintu kamar terkunci lalu didobrak. Semua mata terperanjat melihat adegan perjinahan. Tanpa dikomando tamparan, pukulan, dan cibiran mendarat di wajah perempuan itu. Beberapa tangan kokoh menarik kedua tangan Rina. Rambut penggodanya habis dibabati oleh warga komplek. Kemudian penyeretan dilakukan. Perempuan itu digiring keluar. Tubuhnya diempaskan ke pasar. Warga kurang puas. lemparan batu pun mendarat ke tubuh perempuan itu. Rina pun tidak berdaya lagi, tubuhnya rebah di pasar. Dia tak sanggup  berlari dari antaman warga. “Lihat, itu gurunya,” teriak seorang wanita sambil menunjuk ke arah Via. Semua mata mengarah pada Via. Wajah takut tidak kelihatan di roman mukanya. Dia datang dan berdiri tegak di antara kerumunan warga. Via melihat Rina rebah di tengah kerumunan seakan Rina segera di bawa ke tiang gantungan. Via terkejut sekali melihat tubuh perempuan itu babak belur ketika mendekat. Perempuan itu menunduk saat Via menatapnya. Ingatan Via bekerja di memorinya, ia merasa kenal dan begitu dekat dengan Perempuan itu. Akhirnya memorinya dapat diajak kompromi, ternyata perempuan itu Rina, mantan siswanya di SMA Swasta Jelita Medan. Mantan siswanya itu pernah mencemarkan nama baiknya. Dengan bukti palsu yang dibuat Rina.Via jadi terpojok lebih dalam lagi. Koran sumatera pun ikut andil berbicara,  Via sebagai arsitek jiwa pembunuh karakter siswa dan layak dipecat tanpa hormat”. Berita itu pun menyebar di setiap daerah. Sebagai arsitek jiwa, dirinya menanggung malu bertahun-tahun, tapi Tuhan tetap menunjukkan kepada semua orang bahwa Via, arsitek jiwa adalah guru yang berintegritas dan andal. Namun kebencian tak muncul di nuraninya, tapi rasa iba yang ada saat melihat siswanya  hampir tewas dibantai warga. Rina tetap menundukkan kepala. Kemudian Via menunduk lalu menyeka bagian yang terluka di tubuh Rina dan menyeka bercak darah yang keluar dari tangan dan kakinya. Setelah itu, dia berdiri di hadapan warga sambil berseru dengan mata berkaca, ”Barang siapa di antara kita tidak pernah melakukan kesalahan, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini,” mendengar seruannya, warga mundur selangkah demi selangkah sambil melepaskan batu di dalam genggaman tangan mereka. Tinggallah Via seorang diri dengan Rina di tempat itu. Ia memapah perempuan itu sambil berbisik, ”Tidak ada lagi seorang pun yang menghukum dirimu, termasuk diriku. Kembalilah seperti perempuan apa adanya.”
            “Bu,” teriak Rina memeluk erat tubuh Via. Keduanya saling menangis. “Tiga tahun yang lalu, aku menghina Ibu dan mengatakan pelacur di hadapan guru dan siswa. Aku yang menghasut dan  mengajak siswa-siswa lain untuk melempari Ibu dengan batu, kini lemparan itu mendarat padaku. Aku juga yang memberi berita yang tak benar di koran yang mengatakan Ibu ingin melacurkan kami, sehingga Ibu diberhentikan tanpa hormat. Aku melakukan semua itu karena aku benci dengan wajah teduh Ibu, seolah wajah itu mengajak hatiku untuk bercermin. Kebencian tertanam untuk menghancurkan wajah itu dan segala cara kulakukan agar Ibu hancur.  Padahal semua itu tidak pernah Ibu lakukan. Aku tak pantas hidup. Aku benci dengan diriku. Maafkan aku. Bu…,” tangisnya seperti nelangsa. Salah satu jari Via menyentuh pintu bibir Rina. “Sudah lama Ibu memaafkan engkau, Anakku. Sedikit pun benci itu tidak ada bagimu. Nak, engkau anak yang baik. Engkau  lebih baik daripada yang engkau lakukan. Ingatlah itu, karena kau mulai memilih jalan yang salah. Ibu berharap, jangan kembali ke tempat gelap itu. Mata kamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi kegelapan. Jika seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka seluruhnya akan terang, sama seperti apabila pelita menerangi engkau dengan cahayanya.” tangisan pun terhenti saat ucapan itu merasuk ke hati rapuh Rina.
            Tiga kisah elegi menghabiskan lelahnya  dalam tulisan di buku harapan. Tulisan pun terhenti. Bayangan masa lalu kembali mengusik untuk dituangkan di buku itu. Via berusaha untuk menangkis ingatan masa lalunya. Dan dia berusaha untuk tidur agar jeritan masa lalu berakhir. Mata juga belum terpejam. Suara angin terus nyaring di pepohonan. Malam kian larut. Kelamnya malam mengingat tangisan itu. Hujan semakin deras, tiupan angin kencang terasa di celah-celah jendela kamar. Angin merobohkan pepohonan. Sesekali tampak kilatan petir membelah langit. Suara kilat menunjukkan kehebatannya. Ketakutan Via terusik di malam sunyi. Malam itu datang mengantar kisah lama yang terkubur.
“Kau anak sial, anak sial. Sebenarnya kau tak layak lahir di rahimku. Melihat rupamu aku jijik. Kau bukan darahku. Sebutan mama tidak pantas kau sebut. Apalagi di sisiku.” pernyataan itu berapi di mulut Mama Via, ketika umurnya lima tahun, bahkan sampai hari ini.
“Ma, Pa, jangan buang aku dari kehidupan kalian.” ucap bibir mungil Via sambil menangis. Via meraih tangan papa dan mamanya, namun pria dan wanita itu menepiskan tangan mungilnya sehingga gadis itu terbentur di balik pintu.’
“Ma, Ma…,” tangisnya memilukan saat menyebut kata mama, tapi bentakan diterimanya. “Jangan sebut nama mama, karena aku bukan Mamamu,” jerit wanita itu. “Kenapa aku tidak boleh menyebut mama kepada mama kandungku dengan sebutan “Mama”. Apa salahku? Jangan usir aku,” kembali tangisan itu memilukan dinding rumah.  
            Suara mobil terdengar kuat, berhenti tepat di halaman kediaman rumah keluarga itu. Teriakan dan tangisan juga berhenti. Sepasang suami istri berdiri di depan pintu. Maksud kedatangan pasangan itu sudah direncanakan. Tujuan pasangan itu hanya membawa Via pergi dari rumah itu. Tangisan gadis itu kian kuat dan pilu, namun papa dan mamanya tak menghiraukan kepergian gadis mungil itu. Rasa bahagia terpancar di wajah pasangan itu. Akhirnya Via  hidup bersama keluarga Pak Yoel di Kota Medan. Kasih sayang pasangan itu terlihat tulus ketika menatap wajah mungil gadis itu. Hati Via terus menolak dan selalu minta pulang. Bu Yoel terus berusaha untuk membujuk agar gadis itu diam, tapi tak kunjung jua. “Pak, Bu, kembalikan aku. Pulangkan aku,” mohon Via dengan mencium kaki pasangan itu. Mendengar tangisan yang pilu. Pasangan itu pun jadi kasihan. “Anakku, kami ngerti dengan sedihmu. Ibu mohon, jangan nangis lagi ya. Bapak dan Ibu janji akan bawa kamu ke sana. Diam ya sayang,” bujuk wanita itu. Tiba-tiba jantung wanita itu kambuh. Ia mengejang, mata tertutup, dan tubuh menggeletar. Via pun kaget melihat kondisi wanita itu. Tak ingin terjadi hal-hal yang makin meresahkan, Via mendekatinya. “Via tidak akan nangis Bu. Bangun, bangun Bu. Via janji tidak akan minta pulang lagi,” rengek gadis itu sembari memeluk tubuh wanita itu. “Benar Anakku? Tidak akan nangis lagi,” ungkap Bu Yoel bangun dari siumannya. Via mengangguk saat mendengar suara wanita itu. Keduanya saling berpelukan dengan erat seolah tidak mau dilepas.
            Waktu terus bergulir, 28 tahun Via berada di kediaman Pak Yoel. Kebahagiaan terukir di keluarga itu dengan hadirnya Via. Canda dan tawa bersinar di tiap saat. Sabtu subuh di bulan Maret keluarga Pak Yoel dan Via pergi ke Tebing Tinggi untuk menghadiri pesta pernikahan. Tempat pesta itu di wisma Arjuna. Jarak wisma  kurang lebih 200 meter dari kediaman orang tua kandungnya. Sesampainya di wisma, bayangan keluarga seakan menggelitik dirinya untuk ke tempat itu. Dia berjalan menelusuri jalan. Matanya fokus pada sebuah rumah yang bercat biru. Taman yang tertata rapi, terlihat mekar bunga mawar di tengah taman. Patung berbentuk ikan mas terukir tegak dengan posisi yang sama, ketika ia meninggalkan rumah itu. Sebelah kanan patung terlihat pohon bonsai yang rimbun daunnya seakan menutupi daun pintu rumah itu. Ternyata dirinya sudah sampai di rumah yang mengatakan dirinya sial. Pertanyaan di hati tetap bersarang,  “Kenapa orang tuaku sebut aku anak sial? Kenapa aku dibuang? Masih adakah orang tua berkata jijik jika anak lahir dari rahimnya? Kenapa aku tak bisa  menyebut mama kepada mama kandungku dengan sebutan ”Mama”?”
            Perlahan dia buka pagar yang tidak terkunci rapat. Ia mulai berjalan menuju  pintu yang sudah lama tak disentuhnya. Saat membuka pintu, berdiri seorang wanita yang setengah abad. Wajah dipenuhi keriput, guratan urat tampak di lengan. Tubuh yang mengurus, rambut berganti warna. Warna putih merambat di kepala. “Ma,” ucap Via pelan. Kepekaan wanita itu dalam mengenal suara Via tak hilang di telinga yang mulai keriput. “Dengar ya anak sial, sampai mati  kau bukan Anakku!” bentaknya kencang lalu meludahi muka gadis itu. Mendengar teriakan wanita itu seisi rumah bangkit ke arah jeritan. ”pergi…,” teriak wanita itu emosi. “Kau lahir membawa sial di rumah ini, gara-gara kau kakakmu meninggal juga adikmu. Jadi tubuh kau bersusun bangkai. Karena menggendongmu papaku meninggal, ikut juga mamaku pergi saat membeli susu untuk dirimu.” ucap wanita itu sambil menangis. “Kau memang titipan begu. Titipan binatang!” perkataan wanita itu menyudutkan hatinya. Rio, abang sulungnya, langsung menyeret dirinya keluar. “Dasar anak sial,” bentak Rio, tanpa dengar keluhan Via adiknya. “Terima aku…” belum sempat Via meneruskan mohonnya. Rio semakin mempercepat langkahnya dan menyeret tubuh Via keluar pagar. Via rebah di pasar, tatapan mata hanya diam tak mengerti. Tangisannya terbang bersama angin. Darah asing mengalir di darahnya, tapi darah sendiri berhenti di darahnya. Ucapan terus berbisik.
            Titik-titik hujan mengguyur tubuhnya. Dia berharap hujan mendahului harapannya. “Tuhan, harapanku pudar sepudar kabut. Benarkah darahku sial?” jeritnya di tengah hujan lebat. Badannya yang tadi menggigil jadi begitu hangat ketika Ibu Yoel memeluk tubuh Via dengan segenap darahnya. “Anakku, kasih sayangku melebihi kasih sayang darahmu sendiri,” bisik wanita itu ke telinganya.

Kenangan Via terhadap kisah hilang saat kilat menggelegar kuat. Tiupan angin bersemilir setiap arah. Kerinduan Via terhadap keluarga yang mengasuh dan mengajarinya untuk berkasih di dalam hidup terus bergulir. Foto pasangan suami istri terpajang di dinding kamar seolah berbisik, “Hiduplah anakku, kami terus mendampingimu,” Via tersenyum dan menggumam dalam hati, ”Pa, Ma, engkau adalah darahku. Hidupku pasti nyata. Meski dunia kita berbeda, tapi kasihmu selalu ku kenang dalam darahku. Darahmu mengalir di tiap sel tubuhku, walau diriku bukan darah merahmu. ”
Harapan memberi penguatan bagi hidupku dan hidupmu yang terluka. Harapanku ada di dalam darah merah. Merahnya darah jadi kisah-kisah  ujung tulisanku di buku harapan.  
Begu = setan
Badik = pisau
Nelangsa= sedih
                                     


0 komentar: