
Perempuan di Buku Harapan
“Pengharapan mengajari menjadi perempuan perkasa
di dalam kegelapan. Seberkas cahaya membangkitkan semangat. Pengharapan
membimbing untuk mengenal kehidupan setiap perempuan. Seberkas kasih memberikan
kekuatan untuk menaburkan kasih. Pengharapan memberikan pengertian menelusuri
perempuan. Sebentuk cinta mengajari cara mencurahkan rasa ke dinding perempuan.
Namun dunia kurang sampai pada kasih dan pengharapan yang tidak pernah pudar. Pengharapan
mampu memberikan harapan yang kuat bagi yang mempunyai harapan.”
Tulisannya ditinggalkan begitu saja.
Dia bingung, tidak tahu, entah apa yang hendak ditulis. Di pagi yang cerah imajinasinya
sedang tidak bersahabat. Di kala pagi pulpen selalu bicara di buku “harapan” dengan ide-ide cemerlang.
Tulisannya tidak berlanjut karena mata indah milik Via sudah terpesona dengan mentari
pagi yang mengintip dari balik tirai seakan mengajak bersenda gurau. Sebentuk
jiwanya segar saat pagi menyentuh. Dia bangkit menyibakkan tirai kamar, menatap
mentari yang sudah keluar dari peraduannya. Ia seolah terhipnotis keluar kamar,
perlahan menapaki batu-batu bata yang tertata rapi di pekarangan, terselip
rumput-rumput jepang di sisi batu. Rumput-rumput mulai menyapa tapak
kakinya yang terasa dingin. Ia
merentangkan kedua lengannya secara rileks hingga terasa lentur. Aroma mawar di
sekitar pekarangan menguasai hidungnya serasa tubuh seperti mawar. Spontan desahan
nafas keluar beberapa kali berbarengan
kicauan burung di ranting-ranting pohon. Dalam hati terbesit rasa syukur kepada
Sang Khalik:
“Sungguh mulia termulia
Sungguh agung teragung Engkau dahsyat.
Pengharapan
yang tak pernah pudar ada di darah-Mu.”
Langkah
Via terhenti di sebuah batu berbentuk persegi panjang di tengah pekarangan.
Hembusan angin menyentuh anak-anak rambutnya. Tangannya memainkan anak rambut yang terurai. Kenyamanan
terasa ketika Via duduk di batu persegi panjang. Bola matanya mulai
menerawang pada kehijauan daun-daun.
Raut-raut wajah dulu yang duduk di
bangku belajar mulai tampak dalam ingatannya. Roman wajah lusuh di setiap sudut.
“Senyum? Hilang terbawa angin.” Kenangan menjajah di kepala. Derita tak pernah
hilang walau ombak kuat menerjang dari segala arah, tapi derita tak terarah dan
tak terkalahkan. Kerinduan Via semakin kental di kisah raut ternoda oleh
desahan-desahan manusia. “Manusia? Letak kemanusiaan di mana? Manusia
menganggap diri beradab! Padahal biadab!” gumamnya sambil mengingat tangisan
sepanjang hari kepada siswa sederhana. Eratan tangan sangat kuat seakan diajak
bersatu di dalam tangisan. Terpeluk begitu kuat sampai desakan nafas hampir
berhenti.
“Bu
Vi, aku laparrrr…,” rintih Mega sambil menyentuh perut yang sedang bernyanyi
seperti genderang mau pecah. Perutnya tak mampu melawan desakan lapar. Tubuh lemah, wajah pucat, dan tangan
gemetaran. Hawa lapar menguasai pikiran dan mengundang niat mencuri. Tangisannya
merasuki roh Via, kini kristal-kristal berjatuhan
di kedua pipi insan. Jemari lembut menyapu bersih kristal jatuh di kedua pipi Mega, lalu mengelus rambut
yang berminggu-minggu tidak terurus bak ijuk Mata Via berbicara saat menatap mata sendu
Mega yang mengandung beban. Mega, gadis remaja kls XI IPA, siswa yang lumayan
pintar. Biasanya keceriaan ada di setiap saat, namun keceriaan itu mulai
terkikis oleh desakan yang datang entah dari mana. Mendengar rasa lapar
diteriak Mega, hatinya jadi tersentuh. Kemudian
Via mengajak Mega menuju warung Bu Atik. Warung sederhana yang berdinding
rumbiah. Pepohonan hijau menimbulkan keindahan tersendiri, servis yang ramah membuat pelanggan malas beranjak
seperti dihipnotis. Jarak sekolah dengan warung sekitar sepuluh menit berjalan kaki. Bu Atik menyuguhkan pesanan Via. Dengan lahap
Mega makan tanpa cuci tangan, seperti singa kelaparan. “Pelan-pelan
ngunyahnya,” seru Via penuh kelembutan sambil meneguk segelas air putih. “Enak Bu, sudah tiga hari belum makan.
Wajarkan Bu, boleh lagikan Bu,” pintanya tanpa malu. Tangannya lansung mendarat
di atas makanan yang disuguhkan untuk kedua kalinya. Rasa lapar dan haus sirna
sekejap. Bunyi sendawa beberapa kali
terdengar.
Mega
mencurahkan kisah-kisah kehidupannya kepada Via, guru bahasa Indonesia, yang
dipercayainya. Ia bingung memulai kisahnya. Mata berkaca-kaca tak mampu menahan
air mata. Dibiarkan mutiara bening terus mengalir. “Bu, Bu, Bu…,” panggilnya
berkali-kali. Via tak sabar mendengar kisah hidup Mega seakan dia ikut ambil bagian dalam kisah Mega. “Aku
benci kemiskinan. Kenapa aku terlahir untuk hidup serba melarat. Apa yang aku
punya, Ibu kandungku gila karena tingkah laku Bapakku seperti binatang. Mata
Via tetap menatap, mendengar keluh kesah siswanya. Bapak tak punya pekerjaan
menetap. Dia bukan figur seorang “Bapak” yang bertanggung jawab ini malah
menjijikkan, sudah malas cari nafkah, lihai main perempuan. Ibu menjadi pelampiasan
kemarahannya, tiap kali Ibu menegur, pukulan jadi hadiah sehari-hari. Karakter
Bapak membuat Ibu mengalami tekanan demi
tekanan. Ibu menjadi stres akhirnya jadi gila. Bapak tidak peduli lagi dengan
kehidupan kami. Sekarang dia pergi tak
diketahui di mana batang hidungnya. Sampai mati pun aku tak peduli dengan
bangsat itu. Kini kerjaanku jadi pencopet di setiap toko, pusat perbelanjaan
bahkan terminal. Tempat-tempat itu memenuhi kebutuhan kami. Apa yang harus
kulakukan, Bu?” ceritanya penuh emosi. Via meremas jemari Mega seakan memberi
penguatan atas penderitaan yang dialami Mega. Dengan tatapan yang penuh kasih
Via pun berujar, “Anakku, jangan kamu lakukan itu. Kamu harus bangkit dari
gelapnya hidup. Segera tinggalkan rasa dendam dan kegiatan copet itu, karena
jika kita berbuat kesalahan, ia akan menanggung akibat kesalahannya itu. Hiduplah
dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada.
Bekerjalah sesuai kehendak Dia. Dan berdoa juga untuk hatimu dan ibumu agar
pulih kembali.,” nasihatnya membuka hati Mega yang hampir hilang. “Anakku, hidup
adalah penderitaan, kita harus atasi. Hidup juga teka-teki, kita harus
pecahkan.” Setelah mendengar nasihatnya, Mega langsung pergi dengan air mata
penyesalan. Via terus mengikuti langkah siswanya yang gontai. Via duduk menyendiri
di warung tanpa Mega. Dia berbisik kepada hatinya, “Pengharapan, datanglah untuk
membangkitkan hidup Mega.”
Bunyi
sms, membuyarkan ingatannya kepada
Mega. Isi sms singkat mempercepat langkahnya
menuju daun pintu rumahnya. Ia berlari kecil ke kemar mandi, dan tangannya
menyambar handuk yang tersangkut di balik pintu. Ditariknya tanpa melihat sobekan.
Ia merendam tubuhnya dalam bak air. Segarnya tubuh terasa nyata yang memberi
warna. “Seandainya hati bagai air mengalir secara rendah hati di setiap celah.
Aku akan memberikan pengharapan kepada mereka tercela,” bicara kepada dirinya
sendiri.
06.30 Via bergegas dari rumah menuju
sekolah. Seperti biasanya Via menampakkan diri penuh simpatik dan sukacita
begitu masuk kelas. Senyum khas jadi warna hidupnya. Senyum itu bermakna bagi
setiap siswa. Sentuhan katanya
merasuki hati siswa-siswa. Kata-kata itu
mengandung motivasi yang dalam ketika berada di hadapan siswa. Bahkan Via
memperlakukan siswa selayaknya adik atau teman. Dalam kelas pun bila proses
belajar berlangsung terkadang pujian dan motivasi diberikan kepada siswa untuk
memacu semangat belajar mereka. Di samping itu humor Bu Via beraksi, ketika
suasana menuju kebosanan, sehingga suasana kelas jadi nyaman untuk belajar. Siswa
pun terpancing berinteraksi. Sejenak tatapannya menyapu bersih setiap siswa dalam
kelas namun batang hidung Mega tak tampak ibarat debu di hembus. Awal masuk
kelas biasanya Via melakukan percakapan ringan, saat ini dirinya kurang
semangat. Hatinya terus berbisik tentang Mega, “Apa dia kembali mencuri? Semoga pikiran itu tidak benar.” Bisikan itu
sirna saat ide cemerlang muncul di
kepalanya. Ide itu dibuatnya dalam bentuk tugas agar dikerjakan oleh siswa.
Menurutnya tugas ini sangat layak dikerjakan. Diambilnya spidol, kata “Mama” tertulis
di white board. “Judul ini kalian
kembangkan menjadi sebuah karangan berdasarkan pengalaman. Sekarang kerjakan!”
perintahnya kepada siswa. Mereka mulai
sibuk mengingat kenangan tentang mama. Mereka berusaha membuka dan
mengutak-ngatik memori lama. 90 menit diberikan Via bagi siswa untuk
menyelesaikan sebuah karangan. Saat melangkah kakinya berhenti di sudut
kursi belakang, tempat di mana Cica
duduk. Cica, siswa pendiam di antara siswa yang lain. Watak tersembunyi serasa
ada benda tajam yang tertancap di tubuhnya. Senyum kaku menghiasi wajah,
memiliki tatapan mata redup tak terarah. Via tersentak membaca kertas Cica
berisi “Mamaku Perek”. Untuk menyembunyikan
rasa tersentaknya kepada siswa, Via menyarankan agar Cica melanjutkan tulisannya.
Ucapan Via tidak digubris Cica. Tiba-tiba bel berbunyi memberi tanda bahwa
pelajaran sudah usai. Satu per satu siswa mengantar hasil tugasnya, tapi Cica sibuk
dengan pikirannya sendiri. Cica diam di kursi tanpa menghiraukan kata terlambat untuk mengumpul tulisannya.
Setelah Via keluar dari ruangan serasa ada bayangan tampak mengikutinya
ternyata Cica. Tarikan tangan Cica begitu kuat hampir kaki Via terpeleset. “Ada apa, Anakku?” ucap Via
sambil melepaskan tangannya dari genggaman siswa itu secara perlahan. “Saya
butuh Ibu,” balasnya dengan mata berkaca-kaca. Pikiran Cica terbaca oleh Via
kalau siswa itu ingin menyampaikan sesuatu yang sangat rahasia. Kemudian mereka
berjalan ke belakang sekolah. Mata mereka beradu saat melihat sebuah ”Nodate”. Tiupan angin di sekitar Nodate menghadiahkan rasa nyaman bagi
seseorang yang hatinya sesak. Nodate
layak untuk dimiliki siapa saja yang ingin berkisah tanpa rasa curiga. Berkisah
suatu masalah memang pantas di Nodate,
jika seseorang merasa lelah atau penat, kasih sayang akan membuat tenang dan
mengusir rasa penat. Tempat itu sering disebut “Nodate”, istilah ini diambil dari kosakata Jepang. Artinya
tempat yang nyaman. Nodate jadi
sasaran mereka untuk bercerita.
Air
mata terus mengalir, entah dari mana sumber air mata yang tidak henti-hentinya
mengalir di pipi siswa itu. Serasa beban berat sangat sulit untuk diringankan,
nafasnya tak sanggup untuk menahan tekanan dari dalam. Bongkahan hati mencair
setelah Via menyentuh mata yang tidak pernah bersinar.
“Semasa
kecil, aku terlahir tanpa Papa. Mama sering mengatakan aku anak bajingan,
bangsat, bahkan anak begu. Terkadang
aku tidak tahan mendengar kata-kata itu seakan aku debu. Serendah itukah
diriku, Bu? Apakah proses membuatku menjijikkan? Manusia sungguh kejam! Dunia
tertawa melihat masa kecilku yang suram. Tiupan angin pun tidak mampu menerpa
suramku. Suramku tak pernah terhapus ibarat stempel termaterai di pintu hatiku.
Aku muak. Siapa Papaku? Aku tidak mengenalnya, bentuk hidungnya pun aku tidak
tahu, apalagi hatinya. Herannya, Mama sering mengataiku anak begu. Malam hari adalah peristiwa kacau
bagiku. Setiap malam Mama menangis
tersedu-sedu. Mendengar tangisannya, aku ikut menangis. Rasa tangis kutahan
sekuat tenaga karena Mama tidak suka melihat diriku menangis. Tiba-tiba air
mataku keluar di depannya. Bentakan, makian, dan tamparan mendarat begitu hebat. “Jangan cengeng anak begu, bajingan…,” teriakan disertai botol-botol miras berhamburan
di lantai. Abu rokok menghiasi lantai kusam. Onderdil wanita berserak di
mana-mana, muntahan-muntahan di setiap sudut dinding. Tampak kasur tak terarah
tempatnya, bantal-bantal berkeluaran kapasnya bagai usus perut yang bergantung.
Daun pintu menganga setiap hari, diisi jiwa-jiwa aneh yang tak terarah.
Dengkuran, desahan nafas terdengar serasa binatang liar, bahkan ketika pulang
pergi dari sekolah. Aku beranikan diri untuk bertanya tentang Papaku, tapi tamparan mendarat beberapa kali
di pipi. “Dengar ya, belajar tidak menyebut Papa. Lelaki adalah biadab. Papamu
sudah mati dimakan anjing gila. Ngertiii…camkan
juga, kau hari ini bisa hidup karena aku. Jika aku tak mampu untuk melayani
laki- laki jalang, maka penggantinya kau. Paham…,” pekik wanita itu emosi.
Setiap
malam aku tidur tanpa terlelap. Perlahan-lahan Mama memindahkan tubuhku di
balik ranjang. Mama pikir aku pulas tertidur, padahal tiap malam mataku tidak
tenang. Hati terus bicara. Suara desahan Mama dengan lelaki selalu terdengar di
atas ranjang, ”Mama, Ma, Ma…” terucap bila malam tiba. Tangisan malam setia
menemaniku dan dinginnya lantai tak mampu menghapus kesedihanku. Dan Tuhan pun
diam.
Neraka mulai menunjukkan apinya, panasnya
mulai terasa di sel tubuh. Beberapa bulan setelah Mama sakit, ia kerap
marah-marah sambil melempar botol bir ke mukaku. Tatapan matanya terus bicara
agar aku melayani laki-laki biadab yang datang sesuka hati. Baru kali ini aku lihat
Mama tersenyum. Dulu, senyum itu suram. Saat ini senyum itu memiliki maksud
seakan aku turut melayani hidung belang. Penolakan tak mampu kukatakan. Takutku terlalu hitam, tanpa berkata
hanya anggukan menyatakan ia.
Dengan
ragu aku melangkah. Berkali-kali menoleh pintu kamar. Kuberanikan diri ke
kamar. Pria berumur sekitar 40-an menatap penuh nafsu. Kulitnya hitam legam,
terdapat gambar tato ular. Kelihatannya pria itu seorang residivis, mungkin banyak kejahatan yang pernah dilakukannya.
Tangannya yang kokoh menggerayanggi tubuhku. Berahi menghancurkan aroma
tubuhku. Aku tak berdaya untuk melawan. Aku lunglai kemudian pria itu menikmati
semua yang kupunya tanpa menghiraukan air mata jatuh. Air mata sebagai pertanda
diriku adalah darahnya. Amarah
berkecamuk di hati bagai badik tertancap
di dinding tubuh. Selesai takhtaku lenyap, pria itu pergi, namun langkahnya
berhenti saat Mama di hadapannya. Mama menjerit, “16 tahun yang silam kau
lenyapkan mahkota harapanku. Hari ini kau sudah melenyapkan mahkota harapan
hasil biadabmu.” senyum bengis tersimpul di bibir Mama. Kemenangan sudah diraih.
Wajah Mama tampak riang karena dendam
sudah terbalas. Jeritan Mama menghantuiku seperti hantu. Harapanku kian hampa
dan berseru, ”Mama, Ma…pantaskah aku jadi korban? Kenapa harus aku? Aku rindu
rupa, rindu rasa. Di mana Engkau, Tuhan? Aku sepi.” Aku berlari terseok-seok,
tak sadar sehelai baju tak melekat. Tatapan mata yang tajam menatap penuh keheranan.
Olokan demi olokan terlontar seperti titik hujan. Semua mata hanya bisa
menghakimi. Mata-mata itu hanya bisa melihat selumbar mata orang lain, tapi balok
mata sendiri tidak diketahui. “Ma, aku sudah menepati janji. Janji untuk
melayani bagian darahku. Harapanmu terlaksana kepada pria yang dulu menghancurkan
mahkota harapanmu.”
Kisah
ini lama menggerogoti pikiran Cica, ibarat penyakit kanker merajai tubuhnya.
Tangisan gadis itu memilukan hati Via. Tangannya membelai rambut gadis itu penuh
kasih sayang, kemudian ia rebahkan kepala Cica secara perlahan ke bahunya sembari
berseru, “Anakku, mengasihi musuh dan berbuat baik kepada orang yang membenci
kita sungguh sulit untuk melakukannya. Tapi, jika kita mengasihi orang yang
mengasihi kita, apakah jasa kita? Orang-orang jahat sekalipun mereka juga
melakukan itu. Dan jika kita meminjamkan sesuatu kepada orang karena berharap
akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasa kita? Pemerkosa, pembunuh, bahkan
teroris pasti meminjamkan kepada orang-orang seperti itu, agar mereka menerima
kembali sama banyak. Anakku, kamu sudah menunjukkan keperkasaanmu terhadap
orang yang membencimu. Walau keluarga dan sekitarmu menolak kehadiranmu, Tuhan
tidak menolakmu. Engkau mutiara bagi Dia dan juga Ibu.” Sentuhan kata Via menyinari hidup gadis itu. Setelah itu Via
mengajaknya berdoa bersama memohon
penguatan dan pengampunan kepada Tuhan.
Di hari Minggu ketika senja tiba, Via
menelusuri jalan raya, tampak gedung-gedung menjulang tinggi, penghijauan pun
mulai layu. Hidup di kota
pun jadi suram, indah dan nyaman jadi gelap. Dia melewati trotoar, lalu masuk
ke mulut gang, muncul di jalan raya, lantas dirinya menyebrang. Setelah
melewati gang ia berhenti di depan kerumunan warga. Dia terperanjat saat mendengar
teriakan suara ramai seperti suara yang lagi demosntrasi untuk menyampaikan
aksi dan inspirasi ke gedung DPR. Teriakan suara pun mulai terdengar. Teriakan jadi berkuasa di setiap sudut gang.
“Terus
terang, aku tidak sudi perempuan itu di komplek kita,” gugat wanita gendut.
“Aku juga setuju yang Ibu katakan tadi,” timpal wanita penggosip. “Intinya
perempuan pelacur itu harus dibantai. Aku tidak sabar menghantam si brengsek
itu,” tiba-tiba gadis perawan tua berujar. “Bantai pelacur itu,” sorak warga
seperti paduan suara. Tapi, seorang wanita yang berwajah teduh datang menengahi
masalah yang terjadi. ”Bapak, Ibu bagaimana masalah ini kita didiskusikan
dengan Pak RT terlebih dahulu. Dan kita jangan
langsung main usir tanpa ada bukti kuat. Apalagi menghakiminya karena negara
kita negara hukum bukan negara rimba. Satu hal yang kita ingat dia berhak
tinggal di mana saja,” ungkap wanita itu meredakan suasana. “Saya setuju dengan
usul Bu Cia. Masalah ini harus kita sampaikan kepada Pak RT,” ungkap pria breok
yang sependapat dengan Bu Cia. Warga kompak mendatangi Pak RT, salam pun tak
terhirau lagi. Wajah bingung Pak RT tampak, saat warga berdatangan ke pintu.
“Kami
harap Pak RT segera mengusir perempuan pelacur itu!” perintah seorang gadis
yang kelihatan benci kepada Rina yang sering dianggap sebagai pelacur komplek.
“Memang, perempuan itu melakukan tindakan apa? Sehingga Bapak, Ibu berniat
untuk mengusir perempuan itu.” kata Pak RT tegas. “Karena tindakannya itu Pak,
kami sepakat untuk mengusir perempuan jalang itu.” jawab pria tua tak kalah
tegasnya.
“Begini
Pak, kami sepakat agar Rina, perempuan pelacur itu tidak tinggal di komplek ini.
Perempuan itu sudah mencemarkan nama baik komplek kita. Jika istri dan anak
lagi bepergian, dia mulai beraksi menggoda para suami. Tindakannya sudah sangat
keterlaluan. Dia berani buka-bukaan. Semua warga sudah resah melihat sikapnya.
Kami mohon perempuan itu diusir segera,” potong Bu Meri penuh emosi yang
suaminya doyan selingkuh. Percakapan warga dengan Pak RT menggelitik hati Via untuk
mengetahui masalah sebenarnya.
Beramai-ramai
warga sepakat menggerebek kediaman Rina setelah dari rumah Pak RT. Pintu rumah
Perempuan itu digedor-gedor. Daun pintu langsung terbuka akibat dobrakan setumpuk
tangan. Mata warga menggeledah dari
segala arah. Pintu kamar terkunci lalu didobrak. Semua mata terperanjat melihat
adegan perjinahan. Tanpa dikomando tamparan, pukulan, dan cibiran mendarat di
wajah perempuan itu. Beberapa tangan kokoh menarik kedua tangan Rina. Rambut
penggodanya habis dibabati oleh warga komplek. Kemudian penyeretan dilakukan.
Perempuan itu digiring keluar. Tubuhnya diempaskan ke pasar. Warga kurang puas.
lemparan batu pun mendarat ke tubuh perempuan itu. Rina pun tidak berdaya lagi,
tubuhnya rebah di pasar. Dia tak sanggup berlari dari antaman warga. “Lihat, itu gurunya,”
teriak seorang wanita sambil menunjuk ke arah Via. Semua mata mengarah pada Via.
Wajah takut tidak kelihatan di roman mukanya. Dia datang dan berdiri tegak di antara
kerumunan warga. Via melihat Rina rebah di tengah kerumunan seakan Rina segera
di bawa ke tiang gantungan. Via terkejut sekali melihat tubuh perempuan itu babak
belur ketika mendekat. Perempuan itu menunduk saat Via menatapnya. Ingatan Via
bekerja di memorinya, ia merasa kenal dan begitu dekat dengan Perempuan itu.
Akhirnya memorinya dapat diajak kompromi, ternyata perempuan itu Rina, mantan
siswanya di SMA Swasta Jelita Medan. Mantan siswanya itu pernah mencemarkan
nama baiknya. Dengan bukti palsu yang dibuat Rina.Via jadi terpojok lebih dalam
lagi. Koran sumatera pun ikut andil berbicara, “Via
sebagai arsitek jiwa pembunuh karakter siswa dan layak dipecat tanpa hormat”.
Berita itu pun menyebar di setiap daerah. Sebagai arsitek jiwa, dirinya menanggung
malu bertahun-tahun, tapi Tuhan tetap menunjukkan kepada semua orang bahwa Via,
arsitek jiwa adalah guru yang
berintegritas dan andal. Namun kebencian tak muncul di nuraninya, tapi rasa iba
yang ada saat melihat siswanya hampir tewas
dibantai warga. Rina tetap menundukkan kepala. Kemudian Via menunduk lalu menyeka
bagian yang terluka di tubuh Rina dan menyeka bercak darah yang keluar dari
tangan dan kakinya. Setelah itu, dia berdiri di hadapan warga sambil berseru
dengan mata berkaca, ”Barang siapa di antara kita tidak pernah melakukan
kesalahan, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini,” mendengar
seruannya, warga mundur selangkah demi selangkah sambil melepaskan batu di
dalam genggaman tangan mereka. Tinggallah Via seorang diri dengan Rina di
tempat itu. Ia memapah perempuan itu sambil berbisik, ”Tidak ada lagi seorang
pun yang menghukum dirimu, termasuk diriku. Kembalilah seperti perempuan apa
adanya.”
“Bu,”
teriak Rina memeluk erat tubuh Via. Keduanya saling menangis. “Tiga tahun yang
lalu, aku menghina Ibu dan mengatakan pelacur di hadapan guru dan siswa. Aku
yang menghasut dan mengajak siswa-siswa
lain untuk melempari Ibu dengan batu, kini lemparan itu mendarat padaku. Aku
juga yang memberi berita yang tak benar di koran yang mengatakan Ibu ingin melacurkan
kami, sehingga Ibu diberhentikan tanpa hormat. Aku melakukan semua itu karena
aku benci dengan wajah teduh Ibu, seolah wajah itu mengajak hatiku untuk
bercermin. Kebencian tertanam untuk menghancurkan wajah itu dan segala cara
kulakukan agar Ibu hancur. Padahal semua
itu tidak pernah Ibu lakukan. Aku tak pantas hidup. Aku benci dengan diriku.
Maafkan aku. Bu…,” tangisnya seperti nelangsa.
Salah satu jari Via menyentuh pintu bibir Rina. “Sudah lama Ibu memaafkan
engkau, Anakku. Sedikit pun benci itu tidak ada bagimu. Nak, engkau anak yang
baik. Engkau lebih baik daripada yang
engkau lakukan. Ingatlah itu, karena kau mulai memilih jalan yang salah. Ibu
berharap, jangan kembali ke tempat gelap itu. Mata kamu adalah pelita tubuhmu.
Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tapi jika matamu jahat, gelaplah
tubuhmu. Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi
kegelapan. Jika seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka
seluruhnya akan terang, sama seperti apabila pelita menerangi engkau dengan
cahayanya.” tangisan pun terhenti saat ucapan itu merasuk ke hati rapuh Rina.
Tiga
kisah elegi menghabiskan lelahnya dalam
tulisan di buku harapan. Tulisan pun
terhenti. Bayangan masa lalu kembali mengusik untuk dituangkan di buku itu. Via
berusaha untuk menangkis ingatan masa lalunya. Dan dia berusaha untuk tidur
agar jeritan masa lalu berakhir. Mata juga belum terpejam. Suara angin terus
nyaring di pepohonan. Malam kian larut. Kelamnya malam mengingat tangisan itu.
Hujan semakin deras, tiupan angin kencang terasa di celah-celah jendela kamar.
Angin merobohkan pepohonan. Sesekali tampak kilatan petir membelah langit.
Suara kilat menunjukkan kehebatannya. Ketakutan Via terusik di malam sunyi. Malam
itu datang mengantar kisah lama yang terkubur.
“Kau anak sial, anak sial. Sebenarnya
kau tak layak lahir di rahimku. Melihat rupamu aku jijik. Kau bukan darahku.
Sebutan mama tidak pantas kau sebut. Apalagi di sisiku.” pernyataan itu berapi
di mulut Mama Via, ketika umurnya lima
tahun, bahkan sampai hari ini.
“Ma, Pa, jangan buang aku dari
kehidupan kalian.” ucap bibir mungil Via sambil menangis. Via meraih tangan papa
dan mamanya, namun pria dan wanita itu menepiskan tangan mungilnya sehingga
gadis itu terbentur di balik pintu.’
“Ma, Ma…,” tangisnya memilukan saat menyebut
kata mama, tapi bentakan diterimanya. “Jangan sebut nama mama, karena aku bukan
Mamamu,” jerit wanita itu. “Kenapa aku tidak boleh menyebut mama kepada mama
kandungku dengan sebutan “Mama”. Apa salahku? Jangan usir aku,” kembali
tangisan itu memilukan dinding rumah.
Suara
mobil terdengar kuat, berhenti tepat di halaman kediaman rumah keluarga itu. Teriakan
dan tangisan juga berhenti. Sepasang suami istri berdiri di depan pintu. Maksud
kedatangan pasangan itu sudah direncanakan. Tujuan pasangan itu hanya membawa
Via pergi dari rumah itu. Tangisan gadis itu kian kuat dan pilu, namun papa dan
mamanya tak menghiraukan kepergian gadis mungil itu. Rasa bahagia terpancar di
wajah pasangan itu. Akhirnya Via hidup bersama
keluarga Pak Yoel di Kota Medan.
Kasih sayang pasangan itu terlihat tulus ketika menatap wajah mungil gadis itu.
Hati Via terus menolak dan selalu minta pulang. Bu Yoel terus berusaha untuk
membujuk agar gadis itu diam, tapi tak kunjung jua. “Pak, Bu, kembalikan aku.
Pulangkan aku,” mohon Via dengan mencium kaki pasangan itu. Mendengar tangisan
yang pilu. Pasangan itu pun jadi kasihan. “Anakku, kami ngerti dengan sedihmu. Ibu
mohon, jangan nangis lagi ya. Bapak dan Ibu janji akan bawa kamu ke sana. Diam ya sayang,”
bujuk wanita itu. Tiba-tiba jantung wanita itu kambuh. Ia mengejang, mata
tertutup, dan tubuh menggeletar. Via pun kaget melihat kondisi wanita itu. Tak
ingin terjadi hal-hal yang makin meresahkan, Via mendekatinya. “Via tidak akan
nangis Bu. Bangun, bangun Bu. Via janji tidak akan minta pulang lagi,” rengek
gadis itu sembari memeluk tubuh wanita itu. “Benar Anakku? Tidak akan nangis
lagi,” ungkap Bu Yoel bangun dari siumannya. Via mengangguk saat mendengar
suara wanita itu. Keduanya saling berpelukan dengan erat seolah tidak mau
dilepas.
Waktu
terus bergulir, 28 tahun Via berada di kediaman Pak Yoel. Kebahagiaan terukir
di keluarga itu dengan hadirnya Via. Canda dan tawa bersinar di tiap saat.
Sabtu subuh di bulan Maret keluarga Pak Yoel dan Via pergi ke Tebing Tinggi
untuk menghadiri pesta pernikahan. Tempat pesta itu di wisma Arjuna. Jarak wisma kurang lebih 200 meter dari kediaman orang tua
kandungnya. Sesampainya di wisma, bayangan keluarga seakan menggelitik dirinya
untuk ke tempat itu. Dia berjalan menelusuri jalan. Matanya fokus pada sebuah
rumah yang bercat biru. Taman yang tertata
rapi, terlihat mekar bunga mawar di tengah taman. Patung berbentuk ikan mas
terukir tegak dengan posisi yang sama, ketika ia meninggalkan rumah itu. Sebelah
kanan patung terlihat pohon bonsai yang rimbun daunnya seakan menutupi daun
pintu rumah itu. Ternyata dirinya sudah sampai di rumah yang mengatakan dirinya
sial. Pertanyaan di hati tetap bersarang, “Kenapa orang tuaku sebut aku anak sial? Kenapa
aku dibuang? Masih adakah orang tua berkata jijik jika anak lahir dari
rahimnya? Kenapa aku tak bisa menyebut mama
kepada mama kandungku dengan sebutan ”Mama”?”
Perlahan
dia buka pagar yang tidak terkunci rapat. Ia mulai berjalan menuju pintu yang sudah lama tak disentuhnya. Saat
membuka pintu, berdiri seorang wanita yang setengah abad. Wajah dipenuhi
keriput, guratan urat tampak di lengan. Tubuh yang mengurus, rambut berganti
warna. Warna putih merambat di kepala. “Ma,” ucap Via pelan. Kepekaan wanita
itu dalam mengenal suara Via tak hilang di telinga yang mulai keriput. “Dengar
ya anak sial, sampai mati kau bukan
Anakku!” bentaknya kencang lalu meludahi muka gadis itu. Mendengar teriakan
wanita itu seisi rumah bangkit ke arah jeritan. ”pergi…,” teriak wanita itu
emosi. “Kau lahir membawa sial di rumah ini, gara-gara kau kakakmu meninggal
juga adikmu. Jadi tubuh kau bersusun bangkai. Karena menggendongmu papaku meninggal,
ikut juga mamaku pergi saat membeli susu untuk dirimu.” ucap wanita itu sambil
menangis. “Kau memang titipan begu. Titipan
binatang!” perkataan wanita itu menyudutkan hatinya. Rio,
abang sulungnya, langsung menyeret dirinya keluar. “Dasar anak sial,” bentak Rio, tanpa dengar keluhan Via adiknya. “Terima aku…” belum
sempat Via meneruskan mohonnya. Rio semakin
mempercepat langkahnya dan menyeret tubuh Via keluar pagar. Via rebah di pasar,
tatapan mata hanya diam tak mengerti. Tangisannya terbang bersama angin. Darah
asing mengalir di darahnya, tapi darah sendiri berhenti di darahnya. Ucapan
terus berbisik.
Titik-titik
hujan mengguyur tubuhnya. Dia berharap hujan mendahului harapannya. “Tuhan,
harapanku pudar sepudar kabut. Benarkah darahku sial?” jeritnya di tengah hujan
lebat. Badannya yang tadi menggigil jadi begitu hangat ketika Ibu Yoel memeluk
tubuh Via dengan segenap darahnya. “Anakku, kasih sayangku melebihi kasih sayang
darahmu sendiri,” bisik wanita itu ke telinganya.
Kenangan Via terhadap kisah hilang
saat kilat menggelegar kuat. Tiupan angin bersemilir setiap arah. Kerinduan Via
terhadap keluarga yang mengasuh dan mengajarinya untuk berkasih di dalam hidup
terus bergulir. Foto pasangan suami istri terpajang di dinding kamar seolah
berbisik, “Hiduplah anakku, kami terus mendampingimu,” Via tersenyum dan
menggumam dalam hati, ”Pa, Ma, engkau adalah darahku. Hidupku pasti nyata.
Meski dunia kita berbeda, tapi kasihmu selalu ku kenang dalam darahku. Darahmu
mengalir di tiap sel tubuhku, walau diriku bukan darah merahmu. ”
Harapan memberi penguatan bagi
hidupku dan hidupmu yang terluka. Harapanku ada di dalam darah merah. Merahnya
darah jadi kisah-kisah ujung tulisanku
di buku harapan.
Begu = setan
Badik = pisau
Nelangsa= sedih
0 komentar:
Posting Komentar