Selasa, 15 Agustus 2017 | By: sovisimbolon@blogspot.com

Mahakarya

Aku sangat bersyukur bisa lahir dari perempuan sederhana yang memiliki rahim yang hebat. Ibuku adalah perempuan yang hebat. Kenapa? Naluri memaafkan dalam diri ibuku lebih besar daripada kebencian. Hal ini terlihat saat saudaranya, sahabatnya atau orang terdekatnya menyakitinya atau merendahkan ibuku.
Tak ada niatnya membalas kejahatan orang. Bahkan, ibuku membalasnya dengan cara mendoakannya. Aku semakin terpesona melihat ibuku karena kesetiannya begitu besar terhadap almarhum ayahku. Kesetiannya terlihat saat ayahku dipanggil Sang Mahakuasa di usia 41 tahun, tak ada di pikiran ibuku untuk mencari yang kedua, tetapi ibuku lebih memilih untuk setia. Baginya kesetiaan itu mahal harganya. Sampai sekarang usia ibuku hampir 71 tahun. 

Teringat cerita ibuku kenapa ayahku meninggal. Ternyata, penyakit ginjal bersarang di tubuh ayahku. Penyakit ginjal yang membuat ayahku tak bertahan hidup. Saat itu usiaku lima tahun. Pada masa itu, aku belum mengerti tentang kehilangan seorang ayah. Sejak duduk di kursi SD (Sekolah Dasar), baru kusadari bahwa aku anak yatim. Sorot mataku terus mengamati teman-teman di sekolah saat mereka diantar-jemput oleh ayahnya. Sejak itu kurindu mendengar kisah ayahku. Menurut cerita ibuku dan orang- orang yang mengenalnya, bahwa ayahku cerdas, mandiri, dan pekerja keras.Termasuk guruku, yaitu Guru Geografi SMA Negeri 3 Tebing Tinggi. Beliau bernama Ibu Rotua Siahaan. Selain Pegawai Negeri Sipil di Kantor Penerangan Tebing Tinggi, ayahku juga Guru SMA EF. Tandean Kotamadya Tebing Tinggi. Meski bekerja pada kedua tempat, terkadang ayahku memberi waktunya untuk melukis dan bercerita. Hasil lukisannya dipajangkan di jalan-jalan besar Tebing Tinggi. Tiap malam, ayahku bercerita tentang inspirasi kepada abangku dan kedua kakakku. Dalam ceritanya terkandung nilai kejujuran, tanggung jawab, dan hidup sederhana. Kehilangan suami tak membuat ibuku menyerah. Dan ibuku tetap kokoh tak tertandingi untuk menghidupi kami sekeluarga. Akhirnya, ibuku terjun ke ladang orang agar bisa mendapat upah. Di ladang orang, ibuku mencabuti rumput, mencangkuli tanah, dan menanami ubi atau padi. Saat panen padi tiba, ibuku memungut sisa-sisa padi orang yang terbuang atau terjatuh di sawahnya. Padi-padi itu dipilah-dipilahnya dengan cara menampinya, menjemurnya, lalu digilingnya ke kilang padi. Alhasil, keluargaku dapat menikmati nasi dari hasil pungutan sisa-sisa padi orang. Masih kuingat betapa rajinnya ibuku menabung uang seribu di kaleng-kaleng. Ternyata uang tabungan itu untuk membeli baju natalku. Dengan cara menabung, ibuku dapat membuka kios kecil di rumah. Tiap pagi ibuku berbelanja ke pasar pagi untuk membeli sayur-sayur, ikan-ikan, dan sembako lainnya untuk dijual. Kegigihan ibuku adalah inspirasiku untuk meraih masa depan.

Aku semakin gigih menyelesaikan kuliahku di Universitas Negeri Medan. Selama aku menyelesaikan kuliah, aku tinggal di rumah namboruku atau adik perempuan bapak ( Istilah adat Batak). Dengan doa ibuku dan jerih payahnya serta bantuan dari keluarga namboru, kuliahku selesai sampai meraih gelar sarjana. Selesai menamatkan kuliah, para penagih hutang berdatangan ke rumah kami. Hutang ibuku menumpuk dan berbunga lebat karena membayar segala perobatan ayahku semasa hidup, tambah lagi abangku kecelakaan sampai menghabiskan ratusan juta, dan biaya kuliahku. Semua penderitaan ibuku selalu disimpannya sendiri. Ibuku tidak ingin kami tahu tentang kesusahannya. Melalui doa ibuku, aku mendapat pekerjaan di sekolah swasta dan bimbingan belajar. Tepat tahun 2010 aku lulus menjadi Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Labuhanbatu. Aku ditempatkan di Sekolah SMA Negeri 2 Rantau Selatan, Labuhanbatu. Aku menyadari telah lama aku menikmati mahakarya yang diberikan ibuku, tapi aku belum mampu memberikan mahakarya yang hebat. Sebagai putri bungsunya, kini giliranku membalas jasanya sekarang. Tiap gajian, kutabung uang sedikit demi sedikit. Setelah uang tabungan terkumpul, aku melunasi semua hutang ibuku. Mahakarya yang akan kupersembahkan untuk ibuku adalah menyegarkan jiwanya dan memberikan kehangatan. Sebagai guru akan kusebarkan jiwa kegigihan, ketulusan, dan cinta Tuhan kepada siswaku karena mereka adalah generasi emas yang kelak memberikan mahakarya kepada ayah-ibunya. Bahkan, memberikan mahakarya kepada Kabupaten Labuhanbatu dan Indonesia.


0 komentar: