Senin, 21 September 2020 | By: sovisimbolon@blogspot.com

Gegara Cerpen

    Asi berjalan di sekitar taman untuk menghilangkan kepenatan yang menjajah di kepalanya. Langkahnya terhenti ketika menatap  patung  ikan emas di tengah taman. Seraya patung itu mengajak tersenyum . Setelah itu, tatapannya beralih ke pohon plamboyan yang daunnya saling bergesekan, seakan-akan menggelitik untuk menari salsa. Lalu, tangannya sambil merogoh saku roknya untuk mengambil tisu. Ia menyeka peluh di raut wajahnya hingga membasahi seluruh tubuhnya. Teriknya mentari tak membuat dirinya beranjak mencari ke tempat yang teduh. Suara yang nyaring melenyapkan kenyamanannya, “Buuuu…,” Teriak dari seberang sambil berlari ke arah Asi. Nafasnya tersengal-sengal, tampak rambut  lepas dari ikatannya.

                “Saya mohon, Bu. Jadikan saya menjadi tokoh utama di cerpen, Ibu. Mungkin, permohonan saya ini tidak masuk akal bagi Ibu.”

               Raut wajah  Asi tersenyum saat mendengar permohonan Sina, siswanya kelas XI IPS.  Asi  mengajak Sina  ke tengah taman. Tiupan daun plamboyan  melambai-lambai menambah kesejukan. ”Sin, maafkan ibu karena tak bisa mengabulkan permohonan kamu." Sina langsung pergi sambil menangis.”     

               “Siswa sekarang memang banyak maunya. Dia  hanya mengganggu ketenanganku. Anak itu memang aneh,  selalu ngotot untuk dijadikan peran utama. Sebenarnya, aku bosan mendengar keluhannya bahkan ingin membentaknya.  Hal itu tak bisa kulakukan, seakan ada yang menahan amarahku. Melihatnya menangis, luluh juga hatiku. Padahal, kerjaanku  menumpuk di November ini..” Bisiknya dalam hati. Rintik hujan terasa, mulai membasahi dinas kerjanya.  Asi berlari kecil. Matanya sibuk mencari becak motor. Ketika membalikkan badan, becak motor sudah di hadapannya. Dalam becak motor,  Asi merasa tak nyaman saat menolak permohonan Sina .

             Sekitar lima menit becak motor sudah mengantarnya di depan  rumahnya. Saat turun dari bemo, Asi terkejut melihat amplop putih mengintip di bibir kotak surat yang melekat di pagar rumahnya. “Surat? Dari mana datangnya? Hampir tahun ini aku tak pernah membalas surat dari John, pria yang memutuskan hubungan melalui chat yang berisi selamat tinggal. Tapi, siapa ya? Jaman sekarang masih adakah orang yang surat- menyurat? Handphone kan bisa jadi sarana tercepat untuk berkomunikasi.” Asi bicara sendiri penuh heran. Tangannya mendarat mengambil surat itu. Tanpa ada pengirim bertambahlah rasa herannya. Dicepatkan langkah kakinya menuju pintu. Dia hempaskan tasnya ke sofa, dirinya melangkah ke kamarnya lalu  ia rebahkan tubuhnya di kasur empuknya. Perlahan dibukanya surat itu, lipatan surat begitu rapi dan harum. Warna putih bergaris hitam menghiasi kertas seolah kematian.

 

Bu, saat ini mataku mulai kabur melihat keindahan bahkan senyum indah Ibu. Kakiku mulai lemah untuk melangkah, laksana kanker ganas berkuasa di dinding kakiku. Tinggal hitung hari saja. Jariku mulai kaku menulis surat seakan  berbisik untuk berhenti. Darahku mulai sirna dengan hadirnya luka yang mengerogoti tubuhku. Hatiku gelisah karena rasa takutku lebih besar. Hari ini, besok dan seterusnya saya tidak pernah desak Ibu lagi untuk menjadikan saya pelaku utama. Mungkin, saya tidak  akan mengganggu kenyamanan Ibu lagi. Dia mau datang membawaku. 

             Tulisan Sina menghilangkan rasa kantuk  Asi.  Angin senja mengusik kamarnya seakan mengajak berkisah. Hati tergelitik untuk menulis kisah Sina.Tinta-tinta terus berbisik dalam kertas seolah tak mau berhenti. Senyum mekar tampak dalam kertas. Wajah Sina menjadi objek dalam tulisannya. “Besok, kulanjutkan lagi cerpen ini. Pasti dia akan bahagia menerima cerpen ini." Bisiknya dalam hati.

  Asi  kaget melihat jam mengarah ke angka 12 malam. Matanya juga belum terpejam. Kakinya bolak-balik berjalan di sekitar kamar. Rasa gelisah menghantuinya. Ada gerangan apa? Kenapa  hatiku gelisah? Herannya,  ingin menangis saja, tapi menangis untuk siapa? Pertanyaan bertubi-tubi di pikirannya.

            Asi terpekik saat melihat kursi Sina kosong.  Pandangan Asi terus mengarah ke kursi Sina, seolah kursi itu berbisik tentang darah kehidupan. Pikiran tersebut segera ditepisnya. Akhirnya,   Asi teringat kalau dirinya lupa memberi cerpen  sebagai hadiah ulang tahun Sina.  “Ya, Tuhan, aku lupa memberi cerpen itu. Bahkan aku lupa memberi ucapan selamat di hari jadinya. Mungkin saja, dia kecewa sehingga dia tidak datang ke sekolah sampai hari ini.” Gumamnya dalam hati

 “Bu, Bu,” Panggil Tio. Suara Tio membuyarkan lamunannya dan spontan dirinya terkejut.

 “Ia, Tio.” Balasnya menyembunyikan keterkejutannya.

 “Ibu kenapa hari ini? Sepertinya ibu, kurang semangat hari ini.”

“Tidak apa-apa. Hari ini, ibu tak melihat Sina. Dia ke mana?”

“Kami juga kecarian, Bu. Kata Lili bahwa dia tidak pernah ada di rumah, Bu. “ Ujar Tio.

“Benar itu Li?” Tanya Asi penuh penasaran. Lili mengangguk.

“Saya dengar dari tetangganya kalau Sina opname di Rumah Sakit Harapan Bu. Tetangganya bilang, Sina sudah sembilan hari dirawat di rumah sakit semenjak kejadian ulang tahunnya. Waktu itu dirinya terjatuh pada saat meniup lilin. Kami semua terkejut melihat kejadian itu, dia langsung dilarikan ke rumah sakit, setelah itu saya dan teman-teman pulang Bu. Bagaimana kalau kita menjenguknya hari ini, Bu?” Cerita Lili.

 Air mata   Asi berjatuhan, sepertinya ia merasa bersalah.  Semua siswanya juga turut  sedih mendengar kisah dari Lili. Kesedihanpun merasuki ruangan.

              Asi, selaku wali kelas, mengajak siswanya untuk menjenguk Sina. Sesampainya di rumah sakit, air mata   Asi  membanjiri wajahnya. Dengan tulus, Lili menyeka wajah   Asi dengan sapu tangannya. Dari pintu terlihat Sina tertidur di ranjang yang ditemani seprei putih. Perlahan Tio membuka pintu yang tak terkunci rapat, rasa sedih menggayut di hati mereka ketika melihat tubuh Sina yang kian mengurus, wajah terlihat pucat seakan darah putih menjadi penguasa di tubuhnya. Rambut yang lebat, berwarna hitam legam tiada lagi kesuburannya, kepala mungil  kini tertutup dengan songkok putih yang menambah kekusaman di balik wajahnya. Sina pun terbangun dari lelahnya. Dengan samar, Sina menatap mereka, namun matanya hanya mencari sosok seseorang yang ingin ditunggunya. Wajah  Bu Asi muncul dari himpitan siswa yang berdiri. Melihat  wajah Bu Asi, Sina terlihat gembira dengan mata berkaca-kaca. Perlahan Sina membuka selang oksigen dari hidungnya. Dengan tersendat-sendat dia berusaha untuk bicara, “Bu…u, sa-ya se-na-ng.”

 “Selamat ulang tahun, anakku”, Seru  Bu Asi sambil mengecup keningnya. “Ibu, juga senang melihat Sina.  Sudah Ibu tulis kisahmu di cerpen. Awalnya ibu mengalami kesulitan menulis kisah kamu. Akhirnya, ibu bisa menyelesaikan cerpen itu dengan baik. Sebelum hari ulang tahun kamu, ibu mengirimnya ke media. Semoga kisah tentang kita bisa menjadi makna bagi mereka yang mengenal kasih.  Ibu janji akan menulis kisah-kisah Sina. Ibu juga janji untuk selalu mendengar kisahmu. Tapi, Sina harus janji agar tetap semangat dan tidak menyerah.  Ibu dan semua temanmu berdoa untukmu. Kami semua merindukan senyum dan ceriamu.  Kami bahagia bersamamu. Ibu sudah menulis cerpen tentang Sina. Kalau sudah selesai, akan ibu berikan padamu, sayang” Seru  Bu Asi sambil meremas jemari Sina. Ia berusaha menahan tangisnya yang berkecamuk di dalam dadanya.

 “B..u, makasih ya”. Sina meraih tangan  Asi sambil menyerahkan kertas yang sudah lama ditulisnya. Sina tak mampu menahan kanker otak yang merajai di kepalanya. Matanya menutup kisahnya . Tangisan dan jeritan menjadi sahabat untuk kepergian Sina. Tapak langkah  Bu Asi mulai gontai dan ia keluar sambil membuka surat itu.

Dear Ibu Asi, lama saya tunggu kehadiran Ibu. Kini doaku sudah terjawab. Jangan ambil nyawaku sebelum saya melihat kehadiran  Ibu Asi. Itulah doaku. Saya bahagia Ibu datang. Bu Asi menangis terisak-isak saat membaca surat Sina. Tangisannya semakin menjadi-jadi. Bayangan Sina seakan menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Selamat jalan Sina. 

Asi dan siswa-siswanya  terisak-isak saat membaca cerpen,"Gegara Cerpen" yang telah terbit di media cetak.

0 komentar: