Asi berjalan di sekitar taman untuk menghilangkan kepenatan yang menjajah di
kepalanya. Langkahnya terhenti ketika menatap
patung ikan emas di tengah taman.
Seraya patung itu mengajak tersenyum . Setelah itu, tatapannya beralih ke pohon
plamboyan yang daunnya saling bergesekan, seakan-akan menggelitik untuk menari
salsa. Lalu, tangannya sambil merogoh saku roknya untuk mengambil tisu. Ia menyeka
peluh di raut wajahnya hingga membasahi seluruh tubuhnya. Teriknya mentari tak
membuat dirinya beranjak mencari ke tempat yang teduh. Suara yang nyaring melenyapkan
kenyamanannya, “Buuuu…,” Teriak dari seberang sambil berlari ke arah Asi. Nafasnya tersengal-sengal, tampak
rambut lepas dari ikatannya.
“Saya
mohon, Bu. Jadikan saya menjadi tokoh utama di cerpen, Ibu. Mungkin, permohonan
saya ini tidak masuk akal bagi Ibu.”
Raut
wajah Asi tersenyum saat mendengar
permohonan Sina, siswanya kelas XI IPS. Asi mengajak Sina
ke tengah taman. Tiupan daun plamboyan melambai-lambai menambah kesejukan. ”Sin,
maafkan ibu karena tak bisa mengabulkan permohonan kamu." Sina langsung
pergi sambil menangis.”
“Siswa
sekarang memang banyak
maunya. Dia hanya mengganggu ketenanganku. Anak itu memang
aneh, selalu ngotot untuk dijadikan
peran utama. Sebenarnya, aku
bosan mendengar keluhannya bahkan ingin membentaknya. Hal itu tak bisa kulakukan, seakan ada yang
menahan amarahku. Melihatnya menangis, luluh juga hatiku. Padahal, kerjaanku menumpuk di November ini..”
Bisiknya dalam hati. Rintik hujan terasa, mulai membasahi dinas kerjanya. Asi berlari kecil. Matanya sibuk mencari
becak motor. Ketika membalikkan badan, becak motor sudah di hadapannya. Dalam
becak motor, Asi merasa tak nyaman saat
menolak permohonan Sina .
Sekitar lima menit becak motor sudah
mengantarnya di depan rumahnya. Saat
turun dari bemo, Asi terkejut melihat amplop putih mengintip di bibir kotak
surat yang melekat di pagar rumahnya. “Surat? Dari mana datangnya? Hampir tahun
ini aku tak pernah membalas surat dari John, pria yang memutuskan hubungan
melalui chat yang berisi selamat
tinggal. Tapi, siapa ya? Jaman sekarang masih adakah orang yang surat-
menyurat? Handphone kan bisa jadi
sarana tercepat untuk berkomunikasi.” Asi bicara sendiri penuh heran. Tangannya
mendarat mengambil surat itu. Tanpa ada pengirim bertambahlah rasa herannya.
Dicepatkan langkah kakinya menuju pintu. Dia hempaskan tasnya ke sofa, dirinya
melangkah ke kamarnya lalu ia rebahkan
tubuhnya di kasur empuknya. Perlahan dibukanya surat itu, lipatan surat begitu
rapi dan harum. Warna putih bergaris hitam menghiasi kertas seolah kematian.
Bu, saat ini mataku mulai kabur melihat keindahan bahkan senyum indah Ibu. Kakiku mulai lemah untuk melangkah, laksana kanker ganas berkuasa di dinding kakiku. Tinggal hitung hari saja. Jariku mulai kaku menulis surat seakan berbisik untuk berhenti. Darahku mulai sirna dengan hadirnya luka yang mengerogoti tubuhku. Hatiku gelisah karena rasa takutku lebih besar. Hari ini, besok dan seterusnya saya tidak pernah desak Ibu lagi untuk menjadikan saya pelaku utama. Mungkin, saya tidak akan mengganggu kenyamanan Ibu lagi. Dia mau datang membawaku.
Tulisan Sina menghilangkan rasa kantuk Asi. Angin senja mengusik kamarnya seakan mengajak
berkisah. Hati tergelitik untuk menulis kisah Sina.Tinta-tinta terus berbisik
dalam kertas seolah tak mau berhenti. Senyum mekar tampak dalam kertas. Wajah
Sina menjadi objek dalam tulisannya. “Besok, kulanjutkan lagi cerpen ini. Pasti dia akan bahagia menerima
cerpen ini." Bisiknya dalam hati.
Asi kaget melihat jam mengarah ke angka 12 malam.
Matanya juga belum terpejam. Kakinya bolak-balik berjalan di sekitar kamar.
Rasa gelisah menghantuinya. Ada gerangan apa? Kenapa hatiku gelisah? Herannya, ingin menangis saja, tapi menangis untuk
siapa? Pertanyaan bertubi-tubi di pikirannya.
Asi
terpekik saat melihat kursi Sina kosong. Pandangan Asi terus mengarah ke kursi Sina,
seolah kursi itu berbisik tentang darah kehidupan. Pikiran tersebut segera
ditepisnya. Akhirnya, Asi teringat kalau dirinya lupa memberi
cerpen sebagai hadiah ulang tahun Sina. “Ya, Tuhan, aku lupa memberi cerpen itu.
Bahkan aku lupa memberi ucapan selamat di hari jadinya. Mungkin saja, dia
kecewa sehingga dia tidak datang ke sekolah sampai hari ini.” Gumamnya dalam
hati
“Bu, Bu,” Panggil Tio. Suara Tio membuyarkan
lamunannya dan spontan dirinya terkejut.
“Ia, Tio.” Balasnya menyembunyikan
keterkejutannya.
“Ibu kenapa hari ini? Sepertinya ibu, kurang semangat hari ini.”
“Tidak apa-apa. Hari ini, ibu
tak melihat Sina. Dia ke mana?”
“Kami juga kecarian, Bu. Kata
Lili bahwa dia tidak pernah ada di rumah, Bu. “ Ujar Tio.
“Benar itu Li?” Tanya Asi penuh penasaran. Lili mengangguk.
“Saya dengar dari tetangganya kalau Sina opname di Rumah Sakit Harapan
Bu. Tetangganya bilang, Sina sudah sembilan hari dirawat di rumah sakit
semenjak kejadian ulang tahunnya. Waktu itu dirinya terjatuh pada saat meniup
lilin. Kami semua terkejut melihat kejadian itu, dia langsung dilarikan ke
rumah sakit, setelah itu saya dan teman-teman pulang Bu. Bagaimana kalau kita
menjenguknya hari ini, Bu?” Cerita
Lili.
Air mata
Asi berjatuhan, sepertinya ia merasa bersalah. Semua siswanya juga turut sedih mendengar kisah dari Lili. Kesedihanpun
merasuki ruangan.
Asi,
selaku wali kelas, mengajak siswanya untuk menjenguk Sina. Sesampainya di rumah sakit, air mata Asi membanjiri wajahnya. Dengan tulus, Lili
menyeka wajah Asi dengan sapu tangannya. Dari pintu terlihat
Sina tertidur di ranjang yang ditemani seprei putih. Perlahan Tio membuka pintu
yang tak terkunci rapat, rasa sedih menggayut di hati mereka ketika melihat tubuh
Sina yang kian mengurus, wajah terlihat pucat seakan darah putih menjadi
penguasa di tubuhnya. Rambut yang lebat, berwarna hitam legam tiada lagi
kesuburannya, kepala mungil kini
tertutup dengan songkok putih yang menambah kekusaman di balik wajahnya. Sina
pun terbangun dari lelahnya. Dengan samar, Sina menatap mereka, namun matanya
hanya mencari sosok seseorang yang ingin ditunggunya. Wajah Bu Asi muncul dari himpitan siswa yang berdiri.
Melihat wajah Bu Asi, Sina terlihat
gembira dengan mata berkaca-kaca. Perlahan Sina membuka selang oksigen dari hidungnya. Dengan
tersendat-sendat dia berusaha untuk bicara, “Bu…u, sa-ya se-na-ng.”
“Selamat ulang tahun, anakku”, Seru Bu Asi sambil mengecup keningnya. “Ibu, juga
senang melihat Sina. Sudah Ibu tulis
kisahmu di cerpen. Awalnya ibu mengalami kesulitan menulis kisah kamu. Akhirnya,
ibu bisa menyelesaikan cerpen itu dengan baik. Sebelum hari ulang tahun kamu,
ibu mengirimnya ke media. Semoga kisah tentang kita bisa menjadi makna bagi
mereka yang mengenal kasih. Ibu janji
akan menulis kisah-kisah Sina. Ibu juga janji untuk selalu mendengar kisahmu.
Tapi, Sina harus janji agar tetap semangat dan tidak menyerah. Ibu
dan semua temanmu berdoa untukmu. Kami semua merindukan senyum dan ceriamu. Kami bahagia
bersamamu. Ibu sudah menulis cerpen tentang Sina. Kalau sudah selesai, akan ibu berikan padamu, sayang” Seru Bu Asi sambil meremas
jemari Sina. Ia berusaha menahan tangisnya yang berkecamuk di dalam dadanya.
“B..u, makasih ya”. Sina meraih tangan Asi sambil menyerahkan kertas yang sudah lama
ditulisnya. Sina tak mampu menahan kanker otak yang merajai di kepalanya.
Matanya menutup kisahnya . Tangisan dan jeritan menjadi sahabat
untuk kepergian Sina. Tapak langkah Bu
Asi mulai gontai dan ia keluar sambil membuka surat itu.
Dear Ibu Asi, lama saya tunggu kehadiran Ibu. Kini doaku sudah terjawab. Jangan ambil nyawaku sebelum saya melihat kehadiran Ibu Asi. Itulah doaku. Saya bahagia Ibu datang. Bu Asi menangis terisak-isak saat membaca surat Sina. Tangisannya semakin menjadi-jadi. Bayangan Sina seakan menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Selamat jalan Sina.
Asi dan siswa-siswanya terisak-isak saat membaca cerpen,"Gegara Cerpen" yang telah terbit di media cetak.
0 komentar:
Posting Komentar