Minggu, 19 Desember 2021 | By: sovisimbolon@blogspot.com

Modul 2.3.a.9 Koneksi Antar Materi-Coaching

 

A.        A. Latar Belakang

Sebagai guru, kita  memahami bahwa murid kita bukanlah kertas kosong. Yang boleh kita coret-coret sesuai kehendak kita. Kita harus menyadari, kehadiran siswa  datang ke sekolah dengan berbagai latar belakang, kemampuan, dan potensi. Tugas kita sebagai guru, yaitu menjadikan latar belakang mereka sebagai keunikan dan kekuatan bagi guru, sebagai pemimpin dalam pembelajaran. Selain itu, guru berperan mengembangkan dan menumbuhkan potensi yang ada dalam diri siswa.  Oleh karena itu, diharapkan bahwa seorang guru harus memiliki keterampilan yang dapat menuntun dan mengarahkan siswa  menemukan jati diri sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Salah satu keterampilan yang diperlukan adalah keterampilan coaching. Coaching sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasildan sistematis, dimanacoach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja,pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi daricoachee (Grant, 1999)  

Coaching merupakan salah satu metode yang efektif untuk diterapkan dalam bidang pendidikan yang prosesnya berpusat pada siswa. Dengan metode ini, pendidik dapat mendorong peserta didik untuk menerapkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kreatif. Dalam coaching ada proses menuntun yang dilakukan guru sebagai coach kepada murid sebagai coachee untuk menenemukan kekuatan kodrat dan potensinya untuk bisa hidup sesuai tuntutan alam dan zaman. Pramudianto (2020) menyampaikan tiga makna yaitu:1. Kemitraan. Hubungan coach dan coachee adalah hubungan kemitraan yangsetara. Untuk membantucoachee mencapai tujuannya, seorangcoach mendukung secara maksimal tanpa memperlihatkan otoritas yang lebih tinggi dari coachee. 2. Memberdayakan. Proses inilah yang membedakan coaching dengan proseslainnya. Dalam hal ini, dengan sesicoaching yang ditekankan pada bertanyareflektif dan mendalam, seorang coach menginspirasi coachee untukmenemukan jawaban-jawaban sendiri atas permasalahannya. 3. Optimalisasi. Selain menemukan jawaban sendiri, seorang coach akanberupaya memastikan jawaban yang didapat oleh coachee diterapkan dalam aksi nyata sehingga potensi coachee berkembang

B.     Guru sebagai penuntun (Among)

Bersama Siswa


Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa tujuan pendidikan itu ‘menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Oleh sebab itu peran seorang coach(pendidik) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagaimanusia maupun anggota masyarakat. Dalam proses coaching, murid diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahanagar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’dapat memberikan ‘tuntunan’ melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif agar kekuatan kodrat anak terpancar dari dirinya.

 Saat ini, coaching menjadi salah satu proses‘menuntun’ kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah.Coaching sangat penting dilakukan di sekolah terutama dalam program merdeka belajar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Program ini dapat membuat murid menjadi lebih merdeka dalam belajar untuk mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensinya. Harapannya, proses coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi guru untuk membantu murid mencapai tujuannya yaitukemerdekaan dalam belajar.Masih terkait dengan kemerdekaan belajar, proses coaching merupakan proses untuk mengaktivasi kerja otak murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dalam dapat membuat murid melakukan metakognisi. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan dalam prosescoaching juga membuat murid lebih berpikir secara kritis dan mendalam.Yang akhirnya, murid dapat menemukan potensi dan mengembangkannya.Murid kita di sekolah tentunya memiliki potensi yang berbeda-beda dan menunggu untuk dikembangkan. Pengembangan potensi inilah yang menjadi tugas seorang guru. Apakah pengembangan diri anak ini cepat, perlahan-lahan atau bahkanberhenti adalah tanggung jawab seorang guru. Pengembangan diri anak dapatdimaksimalkan dengan prosescoaching.

Coaching, sebagaimana telah dijelaskan pengertiannya dari awal memiliki peranyang sangat penting karena dapat digunakan untuk menggali potensi muridsekaligus mengembangkannya dengan berbagai strategi yang disepakati bersama.JIka prosescoaching berhasil dengan baik, masalah-masalah pembelajaran ataumasalah eksternal yang mengganggu proses pembelajaran dan dapat menurunkanpotensi murid akan dapat diatasi.

C.              C. Model TIRTA dalam Coaching

Mengingat pentingnya proses coaching ini sebagai alat untuk memaksimalkanpotensi murid, guru hendaknya memiliki keterampilancoaching. Keterampilan coaching ini sangat erat kaitannya dengan keterampilan berkomunikasi. Berkomunikasi seperti apakah yang perlu seorang coach miliki akan dibahas pada bagian selanjutnya dalam modul coaching ini. 

https://www.youtube.com/watch?v=lxD1IBnIBmI

Selain keterampilan berkomunikasi, beberapa keterampilan dasar perlu dimiliki oleh seorang coach.International Coach Federation (ICF) memberikan acuan mengenai empat kelompok kompetensi dasar bagi seorang coach yaitu:Empat keterampilan dasar seorang coach seharusnya dapat dimiliki oleh guru ketika memerankan diri sebagaicoach. Keterampilan membangun dasar proses coaching keterampilan membangun hubungan baik keterampilan berkomunikasi keterampilan memfasilitasi pembelajaran, yaitu Keterampilan membangun dasar proses coaching, Keterampilan membangun hubungan baik. Keterampilan berkomunikasi, Keterampilan memfasilitasi pembelajaran.Untuk membantu mengarahkan coach dalam proses coaching dibutuhkan langkah pengaplikasian.  Langkah Coaching Model TIRTA antara lain:Tujuan utama pertemuan/pembicaraan, Identifikasi masalah coach, Rencana aksi coachee, Tanggung jawab/komitmen.

https://www.youtube.com/watch?v=pZpMS2lI6DA&t=90s

D.    D. Koneksi Pembelajaran Berdiferensiasi dan Sosial dan Emosional

Mengintegrasikan pembelajaran berdifrensiasi kedalam pembelajaran, dimana pembelajaran harus disesuaikan dengan minat, profil dan kesiapan belajar, sehingga pembelajaran dapat mengakomodir kebutuhan individu peserta didik, dalam hal ini “KHD mengibaratkan bahwa guru adalah petani, dan peserta didik adalah tanaman dan setiap individu peserta didik adalah tanaman yang berbeda, jika tanaman padi membutuhkan banyak air, tentu akan berbeda perlakuan terhadap tanaman jagung yang justeru membutuhkan tempat yang kering untuk tumbuh dengan baik”.

Selain itu pendekatan Sosial dan Emosional dalam praktik coaching juga sangat diperlukan, melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan guru, peserta didik akan menemukan kedewasaan dalam proses berfikir melalui kesadaran dan pengelolaan diri, sadar akan kekuatan dan kelemahan yang dimilkinya, mengambil prespektif dari berbagai sudut pandang sehingga sesuatu yang menjadi keputusannya telah didasarkan pada pertimbangan etika, norma sosial dan keselamatan. Guru berperan sebagai coach pada saat murid membutuhkan bantuan untuk bisa menemukan potensi dirinya. Dengan memberikan arahan, murid akan bisa mengeksplorasi potensi diri. Caranya yaitu dengan berdiskusi melalui pertanyaan-pertanyaan menggali potensi diri murid. Selanjutnya memberikan masukan tentang apa yang bisa dilakukan untuk mengembangkan potensinya.

Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. Pembelajaran sosial dan emosional bertujuan untuk 1) memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi 2) menetapkan dan mencapai tujuan positif 3)merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain 4)membangun dan mempertahankan hubungan yang positif serta 5)membuat keputusan yang bertanggung jawab. Dalam membimbing murid membuat keputusan yang bertanggung jawab salah satunya dapat dilakukan dengan proses coaching.

Pembelajaran Sosial-Emosional berbasis kesadaran penuh untuk mewujudkan kesejahteraan (well-being). Kompetensi Sosial Emosional tersebut yaitu kesadaran diri (pengenalan emosi), pengelolaan diri (pengenalan emosi dan fokus), kesadaran diri (empati), keterampilan sosial (resiliensi) dan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab.

E.     E. Prinsip-Prinsip Coach

1.      Kesadaran diri. Dengan adanya kesadaran diri ini akan menjadikan lebih mudah dalam melakukan coaching;

2.      Kolaboratif. Prinsip ini berkaitan dengan kerjasama dengan pihak lain, baik sekolah, sejawat, orang tua maupun murid;

3.      Fokus pada solusi. Coaching untuk menemukan solusi permasalahan bersama;

4.      Berorientasi pada hasil dan sistematis. Coaching dilaksanakan bisa lebih berhasil guna sesuai permasalahan yang ada;

5.      Pembuka potensi. Coaching menggali lebih dalam lagi potensi yang dimiliki seseorang untuk menjadi lebih baik.

F.       F. Ada Empat Aspek Berkomunikasi yang Harus Kita Pahami

Percakapan yang kreatif akan mengasah keterampilan berpikir murid sehingga dapat menemukan poptensinya untuk mengantarkan mereka  dari situasi saat ini ke situasi ideal dimasa depan. Coaching sangat penting karena dapat digunakan untuk menggali potensi murid sekaligus mengembangkannya dengan berbagai strategi yang disepakati. Keterampilan coaching sangat diperlukan untuk dapat membantu seorang guru dalam menjalankan pendidikan yang bepihak pada murid. Empat aspek berkomunikasi yang harus kita pahami dan latih untuk mendukung praktek coaching 1. Komunikasi Asertif (menyamakan kata kunci, menyamakan bahasa tubuh, dan menyelaraskan emosi). 2. Pendengar aktif (memberikan perhatian penuh lawan bicara, mendengarkan, menanggapi perasaan dengan tepat, parafrase dan bertanya)

3. Bertanya efektif (pertanyaan dapat menstimulasi pemikiran, memunculkan hal-hal yang belum terfikirkan, mengungkapkan emosi atau nilai dalam diri yang mendorong untuk membuat sebuah aksi). 4. Umpan balik positif (membangun potensi dan menginspirasi coachee untuk berkarya dan memaknai umpan balik sebagai refleksi dan pengembangan diri).

G.        Refleksi

Coaching adalah salah satu bentuk usaha yang dilakukan guru untuk menuntun segala potensi murid untuk hidup sesuai kodratnya  yang dimilikinya. Coaching mnejadikan murid dapat hidup sebagai individu dan bagian masyrakat yang mampu menggali dan memaksimalkan segala potensi yang dimilikinya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Pada pengalaman masa lalu sebagai guru, saya tidak menerapkan berkomunikasi secara asertif yang tujuannya  membangun kualitas hubungan kita dengan orang lain menjadi lebih positif karena ada pencapaian bersama dan kesepakatan dalam pemahaman dari kedua belah pihak. Selain itu, kurang memperhatikan kualitas hubungan yang diharapkan dibangun atas rasa hormat pada pemikiran dan perasaan orang lain. Selain itu, sebagai guru kadang saya kurang tidak menjadi pendengar yang aktif.

Semenjak mengikuti calon guru penggerak, saya semakin sadar untuk mengalami perubahan menjadi guru yang berpihak kepada murid. Di mana sebagai guru, saya harus memahami kebutuhan murid, misalnya kesiapan belajar mrid, minat, dan gaya belajar murid dengan menerapkan coaching dengan model TIRTA, yaitu tujuan, identifikasi masalah, rencana aksi, dan tujuan. Karena itu, guru juga harus memahmai kesadaran diri, sosial, emosional dalam dirinya dengan menggunakan teknik STOP.  Guru juga harus mengajak murid untuk memahami emosi dalam dirinya. Dalam coaching, sebagai seorang coach kita akan menghendaki adanya hasil yang dicapai dan ada kalanya coachee kita (murid) merasa tidak suka atau merasa ragu serta tertekan dengan komunikasi yang hendak dibangun. Karenanya, sebuah pemahaman komunikasi asertif perlu dibangun agar timbul rasa percaya dan aman.Ketika rasa aman itu hadir dalam sebuah hubungan coach and coachee.

 

 

 

Selasa, 16 November 2021 | By: sovisimbolon@blogspot.com

Aksi Nyata Menerapkan Budaya Positif pada Modul 1.4.a.10.2

A. Latar Belakang
Saat ini penerapan budaya positif di lingkungan sekolah sudah semarak digerakkan. Menggerakkan budaya yang positif, sekolah perlu menyediakan lingkungan yang positif, aman, dan nyaman agar murid-murid mampu berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka, mandiri, dan bertanggung jawab. Karena itu, warga sekolah mulai dari Kepala Sekolah, para guru, murid, tata usaha, komite, pengawas, orangtua perlu berkolaborasi untuk menggerakkan budaya positif.
Salah satu strategi untuk membangun budaya positif, terutama paradigma atau pola pikir harus berubah, Stephen R. Covey (Principle-Centered Leadership, 1991) mengatakan bahwa ubahlah sikap atau perilaku. Namun bila kita ingin memperbaiki cara-cara utama kita, maka kita perlu mengubah kerangka acuan kita. 
Saat pola pikir kita berubah motivasi prilaku juga berubah. Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, menyatakan ada 3 alasan motivasi perilaku manusia: 

  1. Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman
Ini adalah tingkat terendah dari motivasi perilaku manusia. Biasanya orang yang motivasi perilakunya untuk menghindari hukuman atau ketidaknyamanan, akan bertanya, apa yang akan terjadi apabila saya tidak melakukannya? Sebenarnya mereka sedang menghindari permasalahan yang mungkin muncul dan berpengaruh pada mereka secara fisik, psikologis, maupun tidak terpenuhinya kebutuhan mereka, bila mereka tidak melakukan tindakan tersebut.

  2. Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain.
Satu tingkat di atas motivasi yang pertama, disini orang berperilaku untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Orang dengan motivasi ini akan bertanya, apa yang akan saya dapatkan apabila saya melakukannya? Mereka melakukan sebuah tindakan untuk mendapatkan pujian dari orang lain yang menurut mereka penting dan mereka letakkan dalam dunia berkualitas mereka. Mereka juga melakukan sesuatu untuk mendapatkan hadiah, pengakuan, atau imbalan.

  3. Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya
Motivasi dalam diri sudah terbentuk maka perlu menerapkan kesepakatan kelas dalam kelas. Setiap tindakan atau perilaku yang kita lakukan di dalam kelas dapat menentukan terciptanya sebuah lingkungan positif. Perilaku warga kelas tersebut menjadi sebuah kebiasaan, yang akhirnya membentuk sebuah budaya positif.
Kebutuhan dasar tersebut harus dipenuhi dengan melakukan kolaborasi bersama. Dan juga guru harus menerapkan budaya positif di kelas dan sekolah dengan posisi kontrol sebagai manajer dan pemantau saat berhadapan dengan murid. Menerapkan posisi kontrol guru sebagai pemantau dan manajer. Kadang guru menganggap bahwa menjadi penghukum membuat murid menjadi penurut dan taat, tanpa kita sadari kita telah menumbuhkan rasa dendam dalam dirinya. Posisi itu harus kita buang dalam diri kita, begitu juga saat posisi kontrol guru membuat murid merasa bersalah. Hal tersebut membuat murid merasa tak berharga atau merasa tak berguna. Posisi itu juga harus dibuang jauh-jauh. Lalu posisi kontrol sebagai teman. kita menjadikan murid bergantung kepada kita, saat kita tak bersamanya, dia menjadi tak semangat dan tak bisa bergaul dengan yang lain. Posisi itu harus kita hindari juga.
Nah, posisi kontrol sebagai pemantau dapat diterapkan kepada murid dengan memantau kegiatan mereka saat. Dan lebih baiknya posisi sebagai Manajer. Posisi manajer menjadikan murid lebih mandiri, bertanggung jawab, dan menyadari kesalahan untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. Tapi, ada murid yang belum bisa menerima posisi kita sebagai manajer maka kita beralih sebagai pemantau. Posisi kontrol guru sebagai manajer dan pemantau perlu diterapkan saat berhadapan dengan murid yang kurang disiplin maka digerakkan segitiga restitusi, yaitu pemulihan kembali: menstabilkan identitas, validasi kesalahan, menanyakan keyakinan kelas. Oleh karena itu, budaya positif sangat penting diterapkan dengan kolaborasi bersama warga sekolah.
Untuk terbentuknya budaya positif di lingkungan kelas maka pertama-tama perlu diciptakan dan disepakati keyakinan-keyakinan atau prinsip-prinsip dasar bersama di antara para warga kelas. Namun guru dan murid harus memahami kebutuhan dasar manusia, yaitu bertahan hidup, cinta dan kasih sayang, penguasaan, kesenangan, kebebasan. Kebutuhan dasar tersebut harus dipenuhi dengan melakukan kolaborasi bersama. 

Respon murid terhadap budaya positif




B. Deskripsi Aksi Nyata
Tahun ajaran 2021-2022 saya bertugas mengajar di kelas XII IPA 1, 2, 3, 4, 5, XII IPS 2 dan 3. Saya mulai menggerakkan budaya positif ke tiap kelas yang saya ajar. Saya menyampaikan materi budaya positif kepada murid mulai paradigma, motivasi, kebutuhan dasar murid, kesepakatan kelas, restitusi, dan segitiga restitusi. Saya mengajak murid berkolaborasi membuat kesepakatan kelas di tiap kelas.
Setiap kelas saya bagi beberapa kelompok sesuai minat dan bakat mereka, tiap kelompok mendiskusikan kesepakatan kelas, lalu dipresentasikan dan kelompok lain menanggapi, setelah itu semua warga kelas memililih kesepakatan kelas secara bersma-sama untuk disepakati. Adapun kespakatan kelas, yaitu kami guru dan murid menghargai diri sendiri dan orang lain, kami guru dan murid peduli terhadap lingkungan kelas dan sekolah, kami guru dan murid menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan tepat waktu, kami guru dan murid saling berkolaborasi, kami guru dan murid berdoa sebelum pelajaran dimulai dan berdoa setelah mengakhiri pelajaran. Begitu juga saat saya menghadapi murid yang kurang disiplin saya belajar menerapkan posisi manajer atau pemantau, ternyata posisi manajer tanpa disadari membentuk karakter murid lebih bertanggung jawab dan mandiri dengan menerapkan segitiga restitusi.

https://www.youtube.com/watch?v=w37G2qD1ktc&t=36s
 
Saya juga mensosialisasikan budaya positif kepada warga sekolah. Saya tidak bisa bergerak sendiri tanpa dukungan mereka.
Hal tersebut terutama saya diskusikan kepada Kepala Sekolah. Dukungannya memberi ruang untuk saya bergerak mensosialisasikan buya positif, dengan menyampaikan materi tentang paradima, motivasi prilaku manusia, kebutuhan dasar manusia, posisi kontrol guru, restitusi, segitiga restitusi. Warga sekolah menyambut dengan baik bahkan antusias menangagpi tiap materi, dan warga sekolah mulai bergerak untuk memperbaiki diri sebagai guru baik di kelas maupun di sekolah.penerapan kesepakatan kelas ini mampu dipahami dan diterima oleh rekan sejawat yang lain
C. Tujuan
Adapun tujuan dari Tindakan aksi nyata ini adalah sebagai berikut : 1. Menumbuhkan karakter Profil Pelajar Pancasila melalui budaya positif 2. Menumbuhkan jiwa peduli lingkungan kelas dan sekolah 3. Menumbuhkan sikap menghargai diri sendiri dan orang lain 4. Menumbuhkan jiwa kolaborasi, seperti kesepakatan kelas, yaitu kami guru dan murid menghargai diri sendiri dan orang lain, kami guru dan murid peduli terhadap lingkungan kelas dan sekolah, kami guru dan murid menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan tepat waktu, kami guru dan murid saling berkolaborasi, kami guru dan murid berdoa sebelum pelajaran dimulai dan berdoa setelah mengakhiri pelajaran.
D. Tolak Ukur
Siswa mengerjakan tugas tepat waktu dengan melihat daftar nilai, siswa dan guru tepat waktu datang ke sekolah dengan melihat absen guru dan kelas, muriddan guru berkolaborasi menjaga dan merawat lingkungan kelas dan sekolah. Guru dan murid menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. Linimasa Tindakan yang Dilakukan
Sebagai guru, calon guru penggerak, saya menerapkan pemikiran Ki Hajar Dewantara, tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagaiaan setinggi-tingginya sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Agar dapat menuntun kodrat anak, maka seorang guru penggerak harus memiliki nilai-nilai dan menjalankan perannya sebagai guru penggerak. Dengan melakukan pendekatan Inkuiri Apresiatif dengan model BAGJA. Inkuiri Apresiatif, dikenal dengan pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Pendekatan Inkuiri Apresiatif ini dimulai mengidentifikasi hal baik apa yang ada di sekolah, bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan dan memunculkan strategi untuk mewujudkan perubahan ke arah lebih baik lagi. Hal-hal ini dilakukan dengan menerapkan BAGJA yang terdiri dari buat pertanyaan, ambil pelajaran, gali impian, jabarkan rencana, dan atur eksekusi.
Saya juga harus menggerakkan warga sekolah mewujudkan budaya positif di sekolah yang berpihak pada murid. Budaya positif adalah kebiasaan yang harus dilakukan secara terus menerus. Guru harus melahirkan murid dimasa depan sesuai minat dan bakat dalam diri murid dengan karakter Pancasila. Salah satu contoh penerapan budaya positif adalah membuat kesepakatan kelas. Dalam Menyusun kesepakatan kelas ini guru bertanya kepada muri tentang kelas impian dan harapannya tentang kelas impian para murid. Hal ini dilakukan untuk mendorong motivasi intrinsik pada diri murid dalam pembentukan karakter positif.


E. Adapun linimasa Tindakan yang akan saya lakukan untuk mewujudkan aksi nyata ini adalah sebagai berikut :
1. Berkoordinasi dengan walikelas dan murid terkait pelaksanaan aksi nyata
2. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan
3. Melakukan kesepakatan kelas bersama murid secara berkelompok
4. Menyusun kesepakatan kelas berdasarkan ide dan masukan para murid
5. Tiap kelompok menyampaikan kesepakatan kelas apakah sudah sesuai dengan keinginan dan harapan mereka 
6. Kelompok lain menanggapi hasil kesepakatan kelas berdasarkan kelompok, lalu memilih masing-masing kesepakatan kelas di tiap kelompok untuk menjadi kesepakatan di kelas
7. Kespakatan kelas dibuat dalam benttuk kaotok dan postwer


 F. Dukungan yang dibutuhkan

Untuk melancarkan pelaksanaan rancangan tindakan aksi nyata yang telah disusun, tentunya memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Adapun dukungan yang diperlukan yaitu dukungan dari : 

1. Sekolah, sebagai tempat mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki murid dengan program yang terstruktur dan sistematis 
2. Murid, keterlibatan murid sangat penting dalam keikutsertaannya membuat kesepakatan kelas untuk mewujudkan budaya positif 
3. Keluarga, sebagi tempat pendidikan pertama bagi murid sebagai cikal awal pembentukan karakter untuk mewujudkan budaya positif di sekolah.

 
G. Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang 

1. Pembuatan kesepakatan kelas harus di laksanakan di setiap kelas 
2. Kesepaktan kelas harus diterapkan dengan bahagia dan nyaman 
3.Warga sekolah harus konsinten menerapkan budaya positif, yaitu kesepakatan kelas dan sekolah.








Selasa, 09 November 2021 | By: sovisimbolon@blogspot.com

Modul 2.1.a.9 Koneksi Antar Materi

Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti guru harus mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan yang kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak. Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaotic), yang gurunya kemudian harus membuat beberapa perencanaan pembelajaran sekaligus, di mana guru harus berlari ke sana kemari untuk membantu si A, si B atau si C dalam waktu yang bersamaan. Bukan. Guru tentunya bukanlah malaikat bersayap atau Superman yang bisa ke sana kemari untuk berada di tempat yang berbeda-beda dalam satu waktu dan memecahkan semua permasalahan.

Saat berbagi kelompok sesuai minat murid


Keputusan-keputusan yang perlu diperhatikan para guru saat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi harus terkait dengan:

1.      Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.

2.      Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.

3.      Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.

4.      Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.

5.    Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.

Oleh karena itu, pembealjaran berdiferensiasi harus memahami kebutuhan murid berdasarkan tiga aspek, yaitu Kesiapan belajar (readiness) murid, Minat murid, dan Profil belajar murid

a.       Kesiapan Belajar Murid

Saat pembelajaran guru perlu memetakan kebutuhan murid. Misalnya:guru harus mendiagnosis kesiapan belajar murid. Kemampuan tiap murid pasti berbeda-beda. Ada murid yang sudah siap mempelajari materi yang di dalamnya terdapat masalah berupa tantangan atau kemampuan Ada juga murid yang belum menegerti dan memahami materi. Tentunya,  guru mempersiapkan media, bahan ajar, metode yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut dalam pembelajaran.Guru juga harus menerapkan scaffolding yaitu  bantuan atau dukungan yang diberikan guru kepada murid menyesuaikan dengan tingkat kesiapan belajar murid itu sendiri.

b.      Minat Belajar Murid

Guru perlu memetakan murid berdasarkan minat belajarnya. Misalnya: contoh, ada murid yang senang belajar seni, olah raga, sains atau bidang-bidang tertentu, matematika, politik, budaya, ekonomi, pertanian, dll. Karena itu, guru harus siap untuk memfasilitasi kebutuhan murid tersebut. Guru memberikan kebebasan kepada murid untuk belajar sesuai dengan minatnya, contoh saat membuat produk. Dalam diferensiasi produk, murid menghasilkan produk disesuaikan dengan minat belajar murid masing-masing. Murid diberikan kebebasan dalam belajar. Murid bebas menghasilkan produk baik berupa fliyer, infografis, audio, audivisual, teks atau tulisan seperti artikel, narasi, karangan atau bentuk produk lain yang sesuai minat

c.       Profil Belajar Murid

Pemetaan kebutuhan murid berdasarkan gaya belajar murid. Misalnya pada diferensiasi proses, untuk murid yang memiliki gaya belajar visual maka pada proses pembelajaran guru dapat memberikan materi dengan menggunakan media berupa slide go,  gambar-gambar menarik sesuai minat murid, tampilan slide power point, bagan, tabel, flyer, dan sebagainya yang membantu murid dalam belajar dan mengaitkan konsep satu dengan yang lainnya sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Demikian pula, untuk murid yang memiliki gaya belajar auditori maka guru dapat memberikan materi rekaman suara, audio. Gaya belajar murid yang senang gerakan diberikan diberikan ekspresi gerakan yang memicu semangat.

Kebutuhan dasar murid


Berdasarkan ketiga aspek tersebut, guru akan mampu merancang pembelajaran berdiferensiasi dengan baik sesuai tujuan pembelajaran dapat dicapai, yaitu mampu memenuhi perbedaan kebutuhan  dari murid. Mulai dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap murid dalam pembelajaran di kelas. Pembelajaran berdiferensiasi tidak berarti bahwa guru harus melakukan kegiatan yang berbeda dalam membuat perencanaan pembelajaran atau menyusun beberapa perencanaan pembelajaran untuk setiap kali pertemuan. Namun, dalam melakukan praktik pembelajaran berdiferensiasi tentunya harus dilakukan secara efektif dan efisien, mempertimbangkan waktu, media, dan kerja keras.

Langkah-langkah dalam pembelajaran  Berdiferensiasi

1.      Menetapkan Tujuan Pembelajaran (Pahami Kompetensi Dasar atau Standar yang akan dicapai, Tentukan Tujuan Pembelajaran).

2.      Melakukan pemetaan kebutuhan siswa (Pre tes minat, profil belajar dan kesiapan belajar)

3.      Menentukan Strategi dan alat penilaian yang digunakan

4.      Menentukan Kegiatan Pembelajaran (Konten, Proses, Produk)

            Cara-Cara Guru untuk Mengidentifikasi Kebutuhan Belajar Murid.

  1. mengamati perilaku murid-murid mereka; 
  2. mengidentifikasi pengetahuan awal yang dimiliki oleh murid terkait dengan topik  yang akan dipelajari;
  3. melakukan penilaian untuk menentukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka saat ini, dan kemudian mencatat kebutuhan yang diungkapkan oleh informasi yang diperoleh dari proses penilaian tersebut;
  4. mendiskusikan kebutuhan murid  dengan orang tua atau wali murid;
  5. mengamati murid ketika mereka sedang menyelesaikan suatu tugas atau aktivitas;
  6. bertanya atau mendiskusikan permasalahan dengan murid;
  7. membaca rapor murid dari kelas mereka sebelumnya untuk melihat komentar dari guru-guru sebelumnya atau melihat pencapaian murid sebelumnya;
  8. berbicara dengan guru murid sebelumnya;
  9. membandingkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan tingkat pengetahuan atau keterampilan yang ditunjukkan oleh murid saat ini;
  10. menggunakan berbagai penilaian penilaian diagnostik untuk memastikan bahwa murid telah berada dalam level yang  sesuai;
  11. melakukan survey untuk mengetahui kebutuhan belajar murid;
  12. mereview dan melakukan refleksi terhadap praktik pengajaran mereka sendiri untuk mengetahui efektivitas pembelajaran mereka; dll. 

Berdasarkan cara-cara tersebut, pembelajaran berdiferensiasi dapat tercapai sehingga pemenuhan kebutuhan murid tercapai dan memeroleh hasil yang maksimal sehingga guru dan murid merasa bahagia dalam proses belajar dan mengajar dengan menerapkan pemetaan kebutuhan murid berdasarkan tiga aspek, yaitu kesiapan belajar murid, minat, dan profil belajar murid

Keterkaitan Antar Materi dengan Modul Lain dengan Progaram  Pendidikan Guru Penggerak

            Keterkaitannya sangat erat karena pembelajaran berdiferensiasi merupakan kunci untuk memberi kebahagian dan keselamatan dalam proses belajar dan mengajar. Dengan menerapkan pemetaan kebutuhan murid sesuai kesiapan belajar murid, minat, dan profil belajar murid maka lingkungan pembelajaran di kelas dan sekolah nyaman dan bahagia. Dan, guru dan murid saling menghargai antra yang satu dengan lain, saling berkolaborasi. Karena itu, guru harus menuntun murid dengan tulus tanpa melihat perbedaan, dan memahami karakteristik murid sesuai kodrat dalam dirinya dan kodrat zaman dengan merdeka belajar, memberi kebebasan kepada murid mengembangkan bakat dan potesnsi dalam diri dengan menumbuhkan Profil Pelajar Pancasila .

https://www.youtube.com/watch?v=tv6-C-aPi_0&t=8s