Senin, 28 Maret 2022 | By: sovisimbolon@blogspot.com

Modul 3.2.a.10 Aksi Nyata ( Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya)

https://www.youtube.com/watch?v=JMzeN0lX96I  

            A.    Latar Belakang

Les tambahan adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk membantu siswa dalam proses belajar supaya lebih optimal. Les tambahan secara gratis ini dapat diterapkan di sekolah pada siswa kelas  XII. Apalagi siswa sudah dipenuhi dengan pilihan ynag ingin melanjutkan ke PTN, sekolah kedinasan, persero, UASBN. Dengan membuat les tambahan, tanpa kita sadari melatih kegigihan murid dan budaya positif dalam dirinya. Menurut saya, perkembangan belajar tidak selalu berjalan lancar dan memberikan hasil seperti yang diharapkan. Adakalanya siswa akan menghadapi berbagai macam tantangan dalam belajar. Oleh karena itu,  les tambahan  bagi siswa adalah untuk membantu siswa memecahkan masalah belajarnya. Dengan mengikuti les tambahan siswa akan lebih mudah menguasai setiap materi pelajaran yang diberikan di sekolah. Les tambahan akan membantu siswa untuk memahami materi dan mampu mengaplikasikan dalam aksi nyata

Les tambahan adalah alternatif bagi anak untuk memperdalam materi yang ingin dikuasai. Selain itu juga untuk memperdalam dan memahami materi yang belum dipahami secara keseluruhan. Kelebihan les tambahan adalah memberikan kenyamanan bagi siswa dalam hal belajar. Karena siswa akan lebih leluasa berkonsultasi mengenai kesulitan dalam belajarnya. Les tambahan juga akan memberikan kemudahan untuk siswa dalam berdiskusi dengan gurunya. Terutama untuk materi pelajaran yang anak belum paham dan juga membantu anak dalam menyelesaikan tugas dan praktik yang diberikan oleh guru di sekolah.

Membahas soal dalam bentuk permainan


Les tambahan gratis




B. Tujuan

1.      Menjadikan sekolah sebagai rumah belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan.

2.      Menumbuhkembangkan semangat belajar siswa

3.      Menumbuhkembangkan karakter dan budaya positif siswa di sekolah

C. Tolak Ukur

1. Tersedianya kelas yang nyaman bagi peserta didik.

2. Peserta didik bahagia memahami materi.

3 . Peserta didik dapat menyelesaikan tugas dan memahami materi dengan bahagia


D. LINIMASA TINDAKAN ( BAGJA)

B- ( Buat Pertanyaan)

Bagaimana cara meningkatkan minat belajar siswa

a. Mengkondisikan lingkungan kelas yang nyaman

b. menerapkan budaya positif.

c. Menerapkan untuk mendalami materi yang sulit bagi siswa.

Cara Menumbuhkan Minat Belajar Murid:

1.Membuat les tambahan selama satu jam setelah pulang sekolah.

2. Membuka ruang diskusi saat siswa mengalami kesulitan dalam materi

 3.Menjadikan perpustakaan sebagai rumah belajar.

4. Memberi soal kepada siswa sebanyak 5.

 

A- Ambil Pelajaran

Melakukan pemetaan terhadap aset yang dimiliki sekolah.

Kepala sekolah, guru, siswa, orangtua menjalin kolaborasi dan , memberikan arahan dan bimbingan.

G- Gali Mimpi

Siswa sudah mampu memutuskan ketika siswa tamat dari SMA Negeri 2 Rantau Selatan

1.       Peserta didik memanfaatkan les tambahan sebagai runag diskusi dalam pemilihan jurusan sebelum memasuki PTN

2.      Peserta didik memanfaatkan waktu dalam penggalian materi

J- Jabarkan Rencana

1.       Berkoordinasi kepada Kepala Sekolah, orangtua, dan siswa tentang program yang diselenggarakan

2.      Melakukan les tambahan setelah pulang sekolah selama satu jam

3.      Membuka ruang diskusi

4.      Memberi soal dan materi untuk penggalian ilmu dan wawasan siswa

A- Atur Eksekusi

1.       Kepala sekolah sebagai penanggung jawab memberikan dukungan.

2.      Pelaksana program sebagai penanggung jawab

3.      Wakil Kepala Sekolah  dan wali kelas berkolaborasi untuk memotivasi murid dalam menggali ilmu dan wawasan serta karakter

4.      Guru dan orangtua serta pegawai berkolaborasi dalam membantu menyukseskan program

5.      Peserta didik memanfaatkan aset yang dimiliki di sekolah



Siswa bahagia belajar saat menggali materi





E.    DUKUNGAN YANG DIBUTUHKAN

Calon guru penggerak berkolbarasi dengan Kepala Sekolah


Biotik: 

Kepala sekolah, kepala perpustakaan,  wali kelas, guru, TU, Peserta didik, komite, orang tua peserta didik.

Abiotik:

Anggaran dan sarana dan prasarana.

Kamis, 24 Maret 2022 | By: sovisimbolon@blogspot.com

Modul 3.3.a.6 Refleksi Terbimbing (Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

Gotong royong

  1.  Apa yang menarik bagi Anda setelah mempelajari pengelolaan program yang berdampak pada murid? 

Menurut saya, yang menarik, yaitu menentukan program harus memperhatikan suara murid,       pilihan, dan kepemilikan murid. Hal tersebut, memiliki pengaruh yang besar untuk menerapkan program. Sebagai guru, kita memberikan kebebasan kepada murid untuk bertanya, mengeluarkan ide, dan berdiskusi tentang program yang ingin mereka terapkan sesuai bakat dan potensi, kita juga memberi kesempatan kepada murid untuk membangun kepercayaan diri murid, membangun interaksi sosial,dan membangun sosial dan emosional. Menentukan prioritas masalah dan kebutuhan di sekolah. Bentuk-bentuk program dan strategi memilih bentuk program yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan aspek-aspek dalam pengembangan program (format, durasi kerja, sumber daya, lokasi). Tahapan pengelolaan program yang efektif dan berdampak serta mengevaluasi praktik yang selama ini dijalankan di sekolah. Oleh karena itu, peran guru dan orangtua hanya mendampingi murid agar pengembangan potensi kepemimpinan mereka tetap sesuai dengan kodrat, konteks dan kebutuhannya.dan,  Mengurangi kontrol kita terhadap mereka.

2. Apa yang mengejutkan yang Anda temukan dalam proses pembelajaran tentang pengelolaan program yang berdampak pada murid?
Membaca di taman literasi

 

Yang mengejutkan saya, yaitu guru  menjadikan siswa sebagai pemimpin bagi proses pembelajarannya sendiri, dan memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kemmapuannyaa dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik. Tugas guru hanya menyediakan lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana siswa memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan dalam apa yang mereka pikirkan, niat yang mereka tetapkan, bagaimana mereka melaksanakan niat mereka, dan bagaimana mereka merefleksikan tindakan mereka. Bahwa sebagai guru, saya tak boleh memaksakan kehendak kepada murid saat menyampaikan pengelolaan program yang berpihak pada murid. Saya harus mendengar suara murid, memberikan kesempatan kepada murid untuk menyampaikan hal yang diharapkan sesuai bakat dan potensi. Dan, saya juga harus bisa menuntun murid saat memilih program sesuai harapan mereka sehingga program tersebut dijalankan dengan bahagia karena merasa kepemilikan.

3. Apa yang berubah yang akan Anda lakukan setelah memahami atau mempelajari materi ini?

Yang berubah dalam diri saya, yaitu saya bergerak untuk menganalisis asset atau kekuatan yang ada dalam penyusunan program. Merencanakan program yang berdampak pada murid dengan tahapan BAGJA. Menerapkan manajemen Risiko dan mengelola risiko menjadi sebuah potensi yang berorientasi pada pembelajaran murid. Melakukan monitoring dan evaluasi dalam pengelolaan program.


4. Apa yang menantang  bagi Anda untuk memahami apa yang disampaikan dalam modul ini?

Yang menantang bagi saya, yaitu membuat program baru di sekolah berdasarkan pembelajaran berpihak pada murid, dengan menerapkan model BAGJA, dan mendengar suara murid, pilihan, dan kepemilihan dengan memperhatikan karakteristik lingkungan.


5. Sumber-sumber dukungan yang saya miliki untuk membantu saya menyusun program yang berdampak pada murid.

Menurut saya, yaitu sumber dukungan dari Kepala Sekolah, Guru, murid, tata usaha, pegawai, orangtua, komite, dan pengawas. Semua sumber harus berkolaborasi

 

Selasa, 15 Maret 2022 | By: sovisimbolon@blogspot.com

Modul 3.1.a.10 Aksi Nyata (pegambilan Keputusan dalam Pemimpin Pembelajaran)



    Guru Penggerak merupakan episode kelima dari rangkaian kebijakan Merdeka Belajar yang diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan dijalankan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK). Program Guru Penggerak ini bertujuan untuk menyiapkan para pemimpin pendidikan Indonesia masa depan, yang mampu mendorong tumbuh kembang murid secara holistik; aktif dan proaktif dalam mengembangkan guru di sekitarnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid; serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila.
    Berdasarkan tujuan program guru penggerak, diperlukan seorang pemimpin yang mampu mengambil keputusan dengan bermanfaat. Keberhasilan seorang pemimpin dalam mengemban salah satu tugas tersulit, yaitu mengambil suatu keputusan yang efektif. Keputusan-keputusan ini, secara langsung atau tidak langsung bisa menentukan arah dan tujuan institusi atau lembaga yang dipimpin oleh seorang pemimpin, yang tentunya berdampak kepada mutu pendidikan yang didapatkan murid- murid.
    Dalam pengambilan suatu keputusan, seringkali kita bersinggungan dengan prinsip-prinsip etika. Etika di sini tidak berkaitan dengan preferensi pribadi seseorang, namun merupakan sesuatu yang berlaku secara universal. Seseorang yang memiliki penalaran yang baik, sepantasnya menghargai konsep-konsep dan prinsip-prinsip etika yang pasti. Prinsip-prinsip etika sendiri berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui bersama, lepas dari latar belakang sosial, bahasa, suku bangsa, maupun agama seseorang. Nilai-nilai kebajikan universal meliputi hal-hal seperti Keadilan, Tanggung Jawab, Kejujuran, Bersyukur, Lurus Hati, Berprinsip, Integritas, Kasih Sayang, Rajin, Komitmen, Percaya Diri, Kesabaran, dan masih banyak lagi.
Wakil Kurikulum membuka sosialisasi
Para guru mendengar sosialisasi
Sebagai calon guru penggerak maka saya akan membahas atau mensosialisasikan tentang pengambilan keputusan dalam pemimpin pembelajaran, baik itu berupa refleksi pribadi ataupun mengkritisi suatu pengambilan keputusan atau membuat suatu keputusan yang kreatif kepada warga sekolah. Materi pengambilan keputusan sangat penting untuk dipahami oleh warga sekolah, yaitu Kepala Sekolah, guru, murid, orangtua, pengawas, tata usaha agar semua warga dapat mengambil keputusan dengan efektif, dan dapat membedakan mana kasus dilema etika maupun bujukan moral.
Peristiwa (Fact) 

    Sebagai calon guru penggerak, saya bergerak untuk melakukan rencana. Adapun rencana yang akan saya gerakkan, yiatu mensosialisasikan kepada warga sekolah, baik itu guru, maupun siswa tentang pengambilan keputusan dalam pemimpin pembelajaran. Maka itu, saya berusaha menyusun langkah-langkah strategis.
Pertama, koordinasi dengan Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Rantau Selatan: Drs. Sahar, untuk menyampaikan aksi nyata saya tentang sosialisasi pemngambilan keputusan dalam pemimpin pembelajaran. Selain itu juga untuk mendapatkan dukungan dalam pelaksanaan. Kedua, menyusun rencana aksi dengan menyiapkan materi yang dikemas dalam bentuk PPT dengan menayangkan video yang berisi kasus dilema etika dan bujukan moral yang akan dibagikan kepada guru. Ketiga, saat berbagi maka saya membagi beberapa kelompok untuk menganalisis kasus yang saya bagikan, selanjutnya tiap kelompok mempresentasikan. Tujuan tersebut dilakukan agar para guru memahami dan mengenal kasus apa itu dilema etika maupun bujukan moral sehingga saat mengambil keputusan lebih berpihak pada murid dan lebih bertanggung jawab. Langkah ini untuk menguatkan pemahaman tentang pengambilan keputusan. Hal ini mengingat pemahaman terkait hal ini masih membutuhkan penguatan secara langsung di sekolah.
    Keempat, saya juga mensosialisasikan kepada siswa tentang pengambilan keputusan dalam pemimpin pembelajaran sehingga siswa memahami apa itu dilema etika maupun bujukan moral. Kelima, melakukan refleksi atau evaluasi. Saya akan melakukan ini pada akhir kegiatan. Kegiatan berupa percakapan santai yang bermakna. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana penerapan pengambilan keputusan oleh sejawat. Termasuk di dalamnya adalah kendala yang ada. Hasil kegiatan ini adalah terpetakannya keberhasilan dan kendala yang ada. Hal ini juga sekaligus untuk mengukur efektivitas keberhasilan pengambilan keputusan.
Siswa antusias mendengar materi dilema etika


Perasaan (Feelings) 
    Setelah melakukan aksi nyata modul 3.1. Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran, saya merasa bahagia karena Kepala Sekolah mendukung aksi tersebut, begitujuga para guru antusias untuk belajar dan berdiskusi. Hal tersebut dapat terlaksana karena dukungan dan kolaborasi dari Kepala Sekolah, guru, siswa, tata usaha kolaborasi aksi nyata pun bisa terlaksana dengan baik. Saat pelaksanaan perasaan lebih lega dan tenang. Hal ini karena sesuai rencana yaitu kolaborasi atau bersamaan dengan kegiatan lain sejenis yang dilaksanakan sejawat untuk efektivitas waktu.
CGP mengapresiasi guru yang presentasi tentang dilema etika
Mendampingi guru ketika menganalisis kasus
CGP mensosialisasikan dilema etika kepada siswa

Pembelajaran (Findings) 

    Banyak pembelajaran baru yang saya terima yaitu menjalin kolaboarsi dengan warga sekolah dalam melakukan aksi nyata. Pembelajaran tersebut terkait dengan diri sendiri maupun orang lain. Salah satu pembelajaran baik bagi diri sendiri, yaitu bahwa awal baik bagi sebuah perubahan adalah kolaborasi. Dari kolaborasi ada pembelajaran tentang menyamakan persepsi dalam menyusun langkah perubahan. Pembelajaran baik lainnya, yaitu para guru menerima ilmu dengan senang hati dan bahagia sehingga mereka lebih bijaksana saat mengambil seputusan. Begitujuga dengan siswa karena memahami cara mengambil keputusan saat mengalami dilema etika dengan menerapkan sembilan langkah pengambilan keputusan.

Guru menganalisis kasus

CGP menjelaskan dilema etika pada siswa dan didampingi guru senior


Penerapan ke depan (Future)

    Sebagai calon guru penggerak, saya tetap menjalin kolaborasi yang baik kepada warga sekolah. Dengan menguatkan kerjasama maka visi sekolah akan lebih bermakna. Selain itu, rasa optimis yang meningkat terutama terkait kompetensi diri dalam pengambilan keputusan. Hal ini akan berpengaruh nyata terhadap keputusan yang diambil ke depannya terkait peran sebagai pemimpin pembelajaran. Perubahan lainnya, yaitu semakin meningkatnya komitmen diri untuk melakukan perubahan ke arah kebaikan di sekolah. Dan, memiliki rasa tanggung jawab yang besar untuk meningkatka pembelajaran yang berpihak pada murid