Guru Penggerak merupakan episode kelima dari rangkaian kebijakan Merdeka Belajar yang diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan dijalankan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK). Program Guru Penggerak ini bertujuan untuk menyiapkan para pemimpin pendidikan Indonesia masa depan, yang mampu mendorong tumbuh kembang murid secara holistik; aktif dan proaktif dalam mengembangkan guru di sekitarnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid; serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila.
Berdasarkan tujuan program guru penggerak, diperlukan seorang pemimpin yang mampu mengambil keputusan dengan bermanfaat. Keberhasilan seorang pemimpin dalam mengemban salah satu tugas tersulit, yaitu mengambil suatu keputusan yang efektif. Keputusan-keputusan ini, secara langsung atau tidak langsung bisa menentukan arah dan tujuan institusi atau lembaga yang dipimpin oleh seorang pemimpin, yang tentunya berdampak kepada mutu pendidikan yang didapatkan murid- murid.
Dalam pengambilan suatu keputusan, seringkali kita bersinggungan dengan prinsip-prinsip etika. Etika di sini tidak berkaitan dengan preferensi pribadi seseorang, namun merupakan sesuatu yang berlaku secara universal. Seseorang yang memiliki penalaran yang baik, sepantasnya menghargai konsep-konsep dan prinsip-prinsip etika yang pasti. Prinsip-prinsip etika sendiri berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui bersama, lepas dari latar belakang sosial, bahasa, suku bangsa, maupun agama seseorang. Nilai-nilai kebajikan universal meliputi hal-hal seperti Keadilan, Tanggung Jawab, Kejujuran, Bersyukur, Lurus Hati, Berprinsip, Integritas, Kasih Sayang, Rajin, Komitmen, Percaya Diri, Kesabaran, dan masih banyak lagi.
| Wakil Kurikulum membuka sosialisasi |
| Para guru mendengar sosialisasi |
Sebagai calon guru penggerak maka saya akan membahas atau mensosialisasikan tentang pengambilan keputusan dalam pemimpin pembelajaran, baik itu berupa refleksi pribadi ataupun mengkritisi suatu pengambilan keputusan atau membuat suatu keputusan yang kreatif kepada warga sekolah. Materi pengambilan keputusan sangat penting untuk dipahami oleh warga sekolah, yaitu Kepala Sekolah, guru, murid, orangtua, pengawas, tata usaha agar semua warga dapat mengambil keputusan dengan efektif, dan dapat membedakan mana kasus dilema etika maupun bujukan moral.
Peristiwa (Fact)
Sebagai calon guru penggerak, saya bergerak untuk melakukan rencana. Adapun rencana yang akan saya gerakkan, yiatu mensosialisasikan kepada warga sekolah, baik itu guru, maupun siswa tentang pengambilan keputusan dalam pemimpin pembelajaran. Maka itu, saya berusaha menyusun langkah-langkah strategis.
Pertama, koordinasi dengan Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Rantau Selatan: Drs. Sahar, untuk menyampaikan aksi nyata saya tentang sosialisasi pemngambilan keputusan dalam pemimpin pembelajaran. Selain itu juga untuk mendapatkan dukungan dalam pelaksanaan. Kedua, menyusun rencana aksi dengan menyiapkan materi yang dikemas dalam bentuk PPT dengan menayangkan video yang berisi kasus dilema etika dan bujukan moral yang akan dibagikan kepada guru.
Ketiga, saat berbagi maka saya membagi beberapa kelompok untuk menganalisis kasus yang saya bagikan, selanjutnya tiap kelompok mempresentasikan. Tujuan tersebut dilakukan agar para guru memahami dan mengenal kasus apa itu dilema etika maupun bujukan moral sehingga saat mengambil keputusan lebih berpihak pada murid dan lebih bertanggung jawab. Langkah ini untuk menguatkan pemahaman tentang pengambilan keputusan. Hal ini mengingat pemahaman terkait hal ini masih membutuhkan penguatan secara langsung di sekolah.
Keempat, saya juga mensosialisasikan kepada siswa tentang pengambilan keputusan dalam pemimpin pembelajaran sehingga siswa memahami apa itu dilema etika maupun bujukan moral. Kelima, melakukan refleksi atau evaluasi. Saya akan melakukan ini pada akhir kegiatan. Kegiatan berupa percakapan santai yang bermakna. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana penerapan pengambilan keputusan oleh sejawat. Termasuk di dalamnya adalah kendala yang ada. Hasil kegiatan ini adalah terpetakannya keberhasilan dan kendala yang ada. Hal ini juga sekaligus untuk mengukur efektivitas keberhasilan pengambilan keputusan.
| Siswa antusias mendengar materi dilema etika |
Perasaan (Feelings)
Setelah melakukan aksi nyata modul 3.1. Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran, saya merasa bahagia karena Kepala Sekolah mendukung aksi tersebut, begitujuga para guru antusias untuk belajar dan berdiskusi. Hal tersebut dapat terlaksana karena dukungan dan kolaborasi dari Kepala Sekolah, guru, siswa, tata usaha kolaborasi aksi nyata pun bisa terlaksana dengan baik. Saat pelaksanaan perasaan lebih lega dan tenang. Hal ini karena sesuai rencana yaitu kolaborasi atau bersamaan dengan kegiatan lain sejenis yang dilaksanakan sejawat untuk efektivitas waktu.
| CGP mengapresiasi guru yang presentasi tentang dilema etika |
| Mendampingi guru ketika menganalisis kasus |
| CGP mensosialisasikan dilema etika kepada siswa |
Pembelajaran (Findings)
Banyak pembelajaran baru yang saya terima yaitu menjalin kolaboarsi dengan warga sekolah dalam melakukan aksi nyata. Pembelajaran tersebut terkait dengan diri sendiri maupun orang lain. Salah satu pembelajaran baik bagi diri sendiri, yaitu bahwa awal baik bagi sebuah perubahan adalah kolaborasi. Dari kolaborasi ada pembelajaran tentang menyamakan persepsi dalam menyusun langkah perubahan. Pembelajaran baik lainnya, yaitu para guru menerima ilmu dengan senang hati dan bahagia sehingga mereka lebih bijaksana saat mengambil seputusan. Begitujuga dengan siswa karena memahami cara mengambil keputusan saat mengalami dilema etika dengan menerapkan sembilan langkah pengambilan keputusan.
| Guru menganalisis kasus |
| CGP menjelaskan dilema etika pada siswa dan didampingi guru senior |
Penerapan ke depan (Future)
Sebagai calon guru penggerak, saya tetap menjalin kolaborasi yang baik kepada warga sekolah. Dengan menguatkan kerjasama maka visi sekolah akan lebih bermakna. Selain itu, rasa optimis yang meningkat terutama terkait kompetensi diri dalam pengambilan keputusan. Hal ini akan berpengaruh nyata terhadap keputusan yang diambil ke depannya terkait peran sebagai pemimpin pembelajaran. Perubahan lainnya, yaitu semakin meningkatnya komitmen diri untuk melakukan perubahan ke arah kebaikan di sekolah. Dan, memiliki rasa tanggung jawab yang besar untuk meningkatka pembelajaran yang berpihak pada murid
9 komentar:
Bagus sekali ibu Sovi ๐๐๐๐. Sangat bermanfaat. Ditunggu karya terbarunya.
Terima kasih Bu Juhaini. Sama2 belajar kita ya
Sangat menginspirasi. Semangat selalu menjadi pendidik yg bisa membawa perubahan๐ช๐ช๐ช
Kereeen
Kereeen bu
Menginspirasi
Terima kasih Bu Sri..sama-sama kita melakukan perubahan
Terima kasi Bu
Terima kasih bu
Keren mantap luar biasa tetap semangat sampai akhir kegiatan
Posting Komentar