Catatan Kelas XII IPA 3 Tahun Ajaran 2015-2016 SMA Negeri 2 Rantau Selatan
Sebagai wali kelas aku sangat bersyukur bisa mengenal dan merasakan kasih sayang yang diberikan siswa-siswiku.read more
Aku sangat bangga dengan mereka karena mereka memberikan segudang catatan selama satu tahun. Mereka ada 32 orang. Siswaku perempuan sekitar 20 orang dan siswaku lelaki sekitar 12 orang. Masing-masing siswaku ini memberi catatan kelas. Catatan itu asyik dan menarik. Mengingat catatan mereka membuat aku tergelitik dan terhibur. Bahkan aku tertawa dengan sikap mereka selama satu tahun. Di catatan ini aku akan menguraikan tentang mereka. Aku mulai dari catatan siswa lelaki. Sakti namanya. dari namanya sudah muncul kekuatan untuk bernyanyi. Hobinya selalu menyanyi dalam kelas jika guru tak hadir. Suaranya indah dan menarik. Teman-temannya di kelas menyebutnya " Sang Judika" mendengar sebutan itu hatiku tertawa. Jemarinya tak pernah berhenti begendang di meja. Semua temannya asyik menikmati bunyi gendangnya bahkan mereka tidak terganggu. Kata temannya di kelas mereka terhibur. Herannya, di kelas itu jika mereka bertengkar satu sama lain mereka saling menyindir melalui lagu. Aku juga tertawa melihat sikap siswaku ini. Lain lagi dengan Halomoan. Sikapnya yang sopan dan beretika. Selalu siap membantu temannya yang lemah dalam belajar. Dia termasuk siswa mahahadir dan tidak mengabaikan tugasnya sebagai ketua kelas. Kemudian Irwansyah, siswaku ini sangat nalar dan cepat memahami pelajaran. Melihat dia jadi teringat dengan temannya si Kiki yang selalu merepetinya, tapi dia hanya tersenyum membalasnya.Reno, siswa yang asyik dengan game online dan senang ke warnet. Belum satu bulan, bulanannya sudah habis. Syukurlah orang tuanya toke sawit. Si golap sebutannya kupanggil di kelas. Dia adalah David. Bermain bola kaki kegemarannya. Jiwanya selalu di bola. Guru olahraga selalu memilihnya sebagai tim bola kaki tingkat kabupaten. Karakter pendiam dimiliki oleh siswaku yang bernama Sobirin. Siswaku ini sangat sederhana. Aku salut melihat dirinya. Selama dua jam dia menembus perjalanan dari rumah menuju sekolah.Dia berusaha keras untuk datang ke sokolah meski jarak rumah ke sekolah jauh. Aku juga salut siswaku ini yang bernama Rizki. Dia gigih bekerja. Dia bekerja untuk membiayai uang sekolah dan kebutuhannya sehari-hari. Karena lelah bekerja, terkadang dia tertidur di kelas. Rahmadani adalah siswaku yang paling tinggi di kelas. Satu hal yang menarik dari dirinya senang minta maaf jika melakukan kesalahan. Tapi, gemar ke kantin. Kalau si Dalni berharap ingin menjadi polisi, tapi orangnya agak grogi tiap presentasi. Sedangkan Mahes senang menolong teman yang terkendala dalam dana. Gigih mengerjakan soal matematika meski selalu salah. Dia berusaha memperbaiki kesalahan tiap mengerjakan soal. Aku juga heran dengan siswaku yang satu ini. Dia bernama Wahyu. Di antara siswaku dia yang mengerjakan ujian praktik Fisika dan Kimia setelah Ujian Nasional. Aku terkadang lelah menghadapinya karena guru bidang studi selalu mencarinya. Kehadirannya timbul tenggelam. Namun, siswaku ini tidak pernah lupa sholat lima waktu. Beda lagi dengan siswaku ini. Dia adalah Heru. Kebiasaannya selalu mengeluarkan baju seragam. Tiap hari guru mengingatkannya untuk merapikan bajunya. Ketika Heru melihat diriku, dengan sigap dia langsung merapikan seragam sekolahnya. Siswa perempuan kelas XII IPA 3 juga terlibat memberikan catatan. Mereka adalah Debi, siswi cerdas, senang bercerita dengan sebangkunya. Eneng memiliki hati yang sabar untuk mengingatkan Riski belajar. Syahrida senang minta maaf jika melakukan kesalahan dan berusaha mengerjakan tugas dengan baik. Meski senang merepeti temannya, Kiki memiliki hati yang lembut dan perasa. Sutini yang pendiam selalu tepat waktu mengerjakan tugas sekolah. Awaliah memiliki keinginan untuk kuliah , tapi mudah menyerah. Semoga harapannya terkabul. Si Dewi, siswiku yang cerdas, selalu mengajari Rahmadani belajar. Aku juga bersyukur karena dia lulus jalur undangan di PTN. Sedangkan Riani senang juga mengingatkan Dalni dalam belajar. Bahkan mengajari Dalni menulis karangan. Eli selalu ingat Tuhan. Kalau hatinya sedih, pasti bawaannya menangis. Senang belajar Matematika dan berharap jadi guru Matematika. Kasnaria mudah menyerah, tapi mau belajar jika diingatkan temannya. Anggi siswi yang tulus dan selalu bersedia mengajari Sakti belajar. Tepat waktu mengerjakan tugas. Aku juga bangga dia bisa lulus jalur undangan di PTN. Siswi yang sifatnya pendiam adalah Tika. Dia berusaha memberi yang terbaik ketika mengerjakan tugas. Anggun besar kalau tertawa suaranya menggelegar dan gigih belajar. Anggun kurus senang menjual makanan di kelas. Hasil makanan yang dijualnya digunakannya untuk keperluan sekolah. Tari selalu mengingatkan Sakti belajar. Dan Tari tidak pernah lupa untuk mengerjakan tugas dari guru. Maria Ulpa senang berkaca dan bercerita. Cita-cita menjadi guru SD dia adalah Mariatik. Sedangkan Jubaidah mudah menyerah dalam belajar. Si Fani yang senangan bernyanyi seolah seperti artis. Bernyanyi bagian dari hatinya. Melihat sikap siswaku seolah menjadi obat mujarab. Mereka berusaha menjadi siswaku yang terbaik. Suasana kelas selalu hidup. Ada saja cerita kelas yang mereka sampaikan seakan aku sebagai penonton dan mereka pemainnya.Mereka selalu membuatku tertawa. Banyak catatan yang mereka tinggalkan untukku. Mereka semua adalah doa bagiku. Dan mereka juga meninggalkan catatan terindah di masa perpisahan mereka. Saat perpisahaan aku berharap semua siswaku hadir dengan memberikan senyuman yang tulus. Pada saat aku mulai mengalungkan medali di leher mereka, aku berharap agar mereka sukses di masa depan. Medali 32 aku pegang dengan erat. Di altar aku menyerahkan medali satu per satu tapi dua medali masih aku pegang karena dua siswaku yang bernama Wahyu dan David belum juga muncul. Mataku mulai menjelajahi semua arah dan sudut. Tapi, mereka belum juga muncul. Hatiku terasa sedih dan merasa keluargaku kurang lengkap. Aku berusaha menunggu mereka dengan penuh harap. Di altar aku menunggu dan berkata dalam hati mana tahu mereka datang. Aku tetap menunggu mereka dengan kepala menunduk.Ternyata kedua siswaku tak kunjung tiba. Rasannya keluargaku kurang lengkap. Aku tetap berharap di akhir perpisahan mereka datang meski terlambat. Tahun ini memberi anugarah yang berlimpah bagiku. semoga mereka melanjutkan impian mereka. Harapan ini pun pernah aku lontarkan pada siswaku di swasta. Mengingat siswa swasta teringat siswaku yang pernah menolongku ketika tersesat di kota Medan. Kisah ini aku tulis ketika menulis tantangan menulis di Day
Aku sangat bangga dengan mereka karena mereka memberikan segudang catatan selama satu tahun. Mereka ada 32 orang. Siswaku perempuan sekitar 20 orang dan siswaku lelaki sekitar 12 orang. Masing-masing siswaku ini memberi catatan kelas. Catatan itu asyik dan menarik. Mengingat catatan mereka membuat aku tergelitik dan terhibur. Bahkan aku tertawa dengan sikap mereka selama satu tahun. Di catatan ini aku akan menguraikan tentang mereka. Aku mulai dari catatan siswa lelaki. Sakti namanya. dari namanya sudah muncul kekuatan untuk bernyanyi. Hobinya selalu menyanyi dalam kelas jika guru tak hadir. Suaranya indah dan menarik. Teman-temannya di kelas menyebutnya " Sang Judika" mendengar sebutan itu hatiku tertawa. Jemarinya tak pernah berhenti begendang di meja. Semua temannya asyik menikmati bunyi gendangnya bahkan mereka tidak terganggu. Kata temannya di kelas mereka terhibur. Herannya, di kelas itu jika mereka bertengkar satu sama lain mereka saling menyindir melalui lagu. Aku juga tertawa melihat sikap siswaku ini. Lain lagi dengan Halomoan. Sikapnya yang sopan dan beretika. Selalu siap membantu temannya yang lemah dalam belajar. Dia termasuk siswa mahahadir dan tidak mengabaikan tugasnya sebagai ketua kelas. Kemudian Irwansyah, siswaku ini sangat nalar dan cepat memahami pelajaran. Melihat dia jadi teringat dengan temannya si Kiki yang selalu merepetinya, tapi dia hanya tersenyum membalasnya.Reno, siswa yang asyik dengan game online dan senang ke warnet. Belum satu bulan, bulanannya sudah habis. Syukurlah orang tuanya toke sawit. Si golap sebutannya kupanggil di kelas. Dia adalah David. Bermain bola kaki kegemarannya. Jiwanya selalu di bola. Guru olahraga selalu memilihnya sebagai tim bola kaki tingkat kabupaten. Karakter pendiam dimiliki oleh siswaku yang bernama Sobirin. Siswaku ini sangat sederhana. Aku salut melihat dirinya. Selama dua jam dia menembus perjalanan dari rumah menuju sekolah.Dia berusaha keras untuk datang ke sokolah meski jarak rumah ke sekolah jauh. Aku juga salut siswaku ini yang bernama Rizki. Dia gigih bekerja. Dia bekerja untuk membiayai uang sekolah dan kebutuhannya sehari-hari. Karena lelah bekerja, terkadang dia tertidur di kelas. Rahmadani adalah siswaku yang paling tinggi di kelas. Satu hal yang menarik dari dirinya senang minta maaf jika melakukan kesalahan. Tapi, gemar ke kantin. Kalau si Dalni berharap ingin menjadi polisi, tapi orangnya agak grogi tiap presentasi. Sedangkan Mahes senang menolong teman yang terkendala dalam dana. Gigih mengerjakan soal matematika meski selalu salah. Dia berusaha memperbaiki kesalahan tiap mengerjakan soal. Aku juga heran dengan siswaku yang satu ini. Dia bernama Wahyu. Di antara siswaku dia yang mengerjakan ujian praktik Fisika dan Kimia setelah Ujian Nasional. Aku terkadang lelah menghadapinya karena guru bidang studi selalu mencarinya. Kehadirannya timbul tenggelam. Namun, siswaku ini tidak pernah lupa sholat lima waktu. Beda lagi dengan siswaku ini. Dia adalah Heru. Kebiasaannya selalu mengeluarkan baju seragam. Tiap hari guru mengingatkannya untuk merapikan bajunya. Ketika Heru melihat diriku, dengan sigap dia langsung merapikan seragam sekolahnya. Siswa perempuan kelas XII IPA 3 juga terlibat memberikan catatan. Mereka adalah Debi, siswi cerdas, senang bercerita dengan sebangkunya. Eneng memiliki hati yang sabar untuk mengingatkan Riski belajar. Syahrida senang minta maaf jika melakukan kesalahan dan berusaha mengerjakan tugas dengan baik. Meski senang merepeti temannya, Kiki memiliki hati yang lembut dan perasa. Sutini yang pendiam selalu tepat waktu mengerjakan tugas sekolah. Awaliah memiliki keinginan untuk kuliah , tapi mudah menyerah. Semoga harapannya terkabul. Si Dewi, siswiku yang cerdas, selalu mengajari Rahmadani belajar. Aku juga bersyukur karena dia lulus jalur undangan di PTN. Sedangkan Riani senang juga mengingatkan Dalni dalam belajar. Bahkan mengajari Dalni menulis karangan. Eli selalu ingat Tuhan. Kalau hatinya sedih, pasti bawaannya menangis. Senang belajar Matematika dan berharap jadi guru Matematika. Kasnaria mudah menyerah, tapi mau belajar jika diingatkan temannya. Anggi siswi yang tulus dan selalu bersedia mengajari Sakti belajar. Tepat waktu mengerjakan tugas. Aku juga bangga dia bisa lulus jalur undangan di PTN. Siswi yang sifatnya pendiam adalah Tika. Dia berusaha memberi yang terbaik ketika mengerjakan tugas. Anggun besar kalau tertawa suaranya menggelegar dan gigih belajar. Anggun kurus senang menjual makanan di kelas. Hasil makanan yang dijualnya digunakannya untuk keperluan sekolah. Tari selalu mengingatkan Sakti belajar. Dan Tari tidak pernah lupa untuk mengerjakan tugas dari guru. Maria Ulpa senang berkaca dan bercerita. Cita-cita menjadi guru SD dia adalah Mariatik. Sedangkan Jubaidah mudah menyerah dalam belajar. Si Fani yang senangan bernyanyi seolah seperti artis. Bernyanyi bagian dari hatinya. Melihat sikap siswaku seolah menjadi obat mujarab. Mereka berusaha menjadi siswaku yang terbaik. Suasana kelas selalu hidup. Ada saja cerita kelas yang mereka sampaikan seakan aku sebagai penonton dan mereka pemainnya.Mereka selalu membuatku tertawa. Banyak catatan yang mereka tinggalkan untukku. Mereka semua adalah doa bagiku. Dan mereka juga meninggalkan catatan terindah di masa perpisahan mereka. Saat perpisahaan aku berharap semua siswaku hadir dengan memberikan senyuman yang tulus. Pada saat aku mulai mengalungkan medali di leher mereka, aku berharap agar mereka sukses di masa depan. Medali 32 aku pegang dengan erat. Di altar aku menyerahkan medali satu per satu tapi dua medali masih aku pegang karena dua siswaku yang bernama Wahyu dan David belum juga muncul. Mataku mulai menjelajahi semua arah dan sudut. Tapi, mereka belum juga muncul. Hatiku terasa sedih dan merasa keluargaku kurang lengkap. Aku berusaha menunggu mereka dengan penuh harap. Di altar aku menunggu dan berkata dalam hati mana tahu mereka datang. Aku tetap menunggu mereka dengan kepala menunduk.Ternyata kedua siswaku tak kunjung tiba. Rasannya keluargaku kurang lengkap. Aku tetap berharap di akhir perpisahan mereka datang meski terlambat. Tahun ini memberi anugarah yang berlimpah bagiku. semoga mereka melanjutkan impian mereka. Harapan ini pun pernah aku lontarkan pada siswaku di swasta. Mengingat siswa swasta teringat siswaku yang pernah menolongku ketika tersesat di kota Medan. Kisah ini aku tulis ketika menulis tantangan menulis di Day
6 komentar:
setelah saya membaca postingan ibu. saya jadi teringat kakak-kakak kelas saya tepatnya kelas XII IPA 3 semoga mereka semakin sukses aminnnnn.
semoga mereka semua sukses dan dapat mengejar impian mereka, Aminnnn
Trima ksihdana dn agus. Smgt mnulis.
wah,,senangnya mereka bisa terdokumentasikan di tulisan ibu.
Trimksih rizky
selamat sore bu sovi saya milandra dari kelas XII IPA 1 Bu mana soal saya untuk ujian online?
Posting Komentar