Selasa, 11 Oktober 2016 | By: sovisimbolon@blogspot.com

Catatan


#Day 1 (SMAS)
Lets Get Lost….Mari Tersesat
Judul ini sangat ajaib membuat suasana nano-nano.

Mari tersesat sesuatu ide yang sering diabaikan setiap orang terkadang kegiatan ini terkandung magnet. Suasana tersesat menjadikan hidup semakin berani untuk menyelesaikan sendiri dengan pikiran dan hati yang tenang. Pikiran dan hati yang tenang yang panik saat tersesat menimbulkan rasa khawatir bersetubuh dalam jiwa. Coba Anda ingat ketika Anda tersesat apa yang ada di pikiran Anda? Pikiran positif yang mengejar pikiran dan hati Anda atau pikiran negatif yang bersetubuh di pikiran dan hati Anda. Hal ini mengingatkan saya bersama adikku Adikku ini bernama Rotupa. Saat itu kami berada di Medan yang memiliki tujuan untuk melegalisasi ijazah ke Unimed. Herannya kami tidak memikirkan di mana kami menginap. Akhirnya adikku ini bertanya, " Di mana kita menginap, Kak ?" Mendengar pertanyaannya aku berusaha untuk tenang. Sedikit mengambil napas aku langsung berujar, " Tenang saja, masalah menginap sudah kakak SMS teman". Tapi hatiku terusik karena semua SMS yang ku kirim tak ada yang membalas. Tiba-tiba muncul di pikiranku nama Kak Diana. Kakak ini teman diskusiku di perpustakaan Rantauprapat. Setiap minggu Kak Diana selalu ke Medan karena dia melanjutkan studi S2 di Unimed. Saya menghubungi Kak Diana dan berharap kami bisa menginap di kamar kosnya. Ternyata kamar kosnya tidak memungkinkan karena suami beserta kedua putrinya berada di kosnya. Kami berusaha tidak panik dan tetap fokus pada tujuan. Tujuan kami untuk melegalisasi dan melihat keadaan Adik Oriza di USU. Meskipun tempat menginap kami tak jelas, kami tetap melanjutkan tujuan kami ke Medan. Setelah urusan kami di Unimed dan USU selesai, aku BBM mantan siswaku bernama Sharlen. Dia , mantan siswaku di Methodist Rantauprapat. Tanpa menanyai kabarnya aku langsung mengutarakan niatku untuk menginap di rumahnya. Tapi, dia menyarankan aku dan Rotupa menginap tempat mamanya. Dan saran itu tidak kami terima karena kami segan. Kami berusaha tenang untuk mencari tempat menginap yang nyaman. Kami berjalan ke gramedia untuk mencari buku lalu kami ke carefour untuk melihat notebook. Tak terasa berjalan, angka 5 di jam tangan sudah menggelitik hatiku. Aku berusaha untuk berpikir dan mencari tempat menginap bagi kami. Tiba- tiba Sharlen mengirim pesan BBM agar aku menerima pertemanan Dewi di BBM. Aku menerima pertemanan itu karena Dewi juga mantan siswaku. Dia juga mengetahui kondisi kami yang tidak memiliki tempat menginap. Dewi menyarankan kami menginap di Hotel Medan Ville Bintang 3. Kebetulan Dewi bekerja di hotel tersebut. Dewi menawarkan kami untuk menginap bahkan dia memesan kamar di hotel itu. Ternyata kedua siswaku membayari kami secara gratis bahkan mengajak kami makan di Restauran. Aku menyadari indahnya menjadi guru saat kami tersesat. Aku juga terkagum saat mantan siswaku yaitu Sharlen menyalam jemari kami berdua dan meletakkannya di keningnya bahkan memeluk kami dengan hangat. Begitu juga Dewi menyambut kami dengan ceria. Mereka melayani kami setulus hati bahkan kasih di hati mereka terpancar bagi kami. Indahnya saat suasana tersesat menjadikan taman bagi hidup kami. Aku pun juga teringat dengan pengalamanku saat tersesat di kelas XII IPA 3 dalam Catatan                                                                                                                     









#Day 2 (SMAS)
Let’s Get Lost with Sinergia Consultant
Kalimat ini mengguncang setiap pemilik akun facebook. Kenapa? Karena kalimat ini terkandung gaya gravitasi. Gaya dan strategi yang diberikan Sinergia Consultant mengguncang pikiran pemilik facebook. Bahkan virus yang dahsyat dimiliki oleh Sinergia consultant menjadi pandemi di setiap akun facebook. Pemilik akun facebook berlomba-lomba ikut mengembangkan topik emas yang diberikan Sinergia Consultant dalam tantangan menulis. Wow...Luas biasa pengikutnya. Ide dan pikiran emas yang ditulis di setiap dinding pemilik facebook menyebarkan virus yang dahsyat ketika bermain writtingchallaenge. Gerakan yang disebarkan Sinergia Consultant membuahkan hasil dengan topik cemerlang yang dikembangkan oleh pemilik akun facebook yang bergabung pada kegiatan itu. Aku juga merasakan guncangan yang hebat bahkan aku ikut bergabung dan menerima tantangan menulis itu. Aku mengikuti tantangan ini berawal dari virus yang disebarkan Kak Diana agar aku ikut mencoba memberikan ide-ide emas. Teringat juga dengan ajakan adekku yang bernama Rotupa agar aku menumbuhkan dan mengembangkan ide-ide emas. Guncangan ini semakin hebat aku rasakan karena teringat pernyataan Pramoedya Ananta Toer, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah". Wow...Akhirnya aku bergabung di Sinergia Consultant untuk menyebarkan ide-ide yang bervirus. Ide- ide yang disebarkan diriku dengan teman-teman melalui facebook yang bergabung pada kegiatan ini bisa mengubah menjadi pribadi yang berkarakter. Saatnya aku meminjam kata- kata pamungkas pemilik Bung Karno, "Berikan sepuluh teman pemilik akun facebook pada Sinergia Consultant maka akan diguncangnya dunia".Pada tantangan menulis yang dikemas Sinegia Consultant membuat aku tersesat dan terguncang. Kini aku menyadari indahnya tantangan menulis. Dengan writtingchallenge, aku berusaha memberikan ide-ide yang bersinergi yang bisa mengguncang teman-teman facebook dan para siswaku. Misalnya, aku akan mengajak generasi emas khususnya para siswaku untuk bergabung di Sinergia consultant dalam writtingchallenge. Menerima tantangan menulis membuat diri tak hilang dari masyarakat dan sejarah. Jadikan Sinergia Consultant sebagai taman di dinding Anda.







#Day 3 (SMAS)
Aku ingin tersesat di rumah sakit umum.
Sinergia Consultant membuat pengikutnya tersesat karena pengaruh obat yang diberikan kepada setiap pengikutnya. Obat tersebut sangat mujarab. Khasiat dari obat yang diberikan Sinergia Consultant dapat melatih dan mengembangkan otak agar memiliki pikiran sehat. Obat itu juga menjadikan pengikutnya candu untuk meminumnya. Akibat obat itu, muncul keberanian untuk tersesat. Kini, aku juga meminum obat itu dan semakin beraksi tersesat dalam tantangan menulis. Akhirnya, aku memilih tersesat di rumah sakit. Karena, pengaruh obat Sinergia Cosultant dan kondisi mamakku yang luka pada matanya. Bagaimana dengan Anda? Pasti Anda akan tersesat juga di rumah sakit jika melihat salah satu keluarga Anda sakit. Apalagi kalau yang sakit itu ayah, ibu, saudara, atau orang yang Anda banggakan sakit. Anda akan bersedia tersesat di rumah sakit.
Mendengar rumah sakit umum kebanyakan kaki-kaki enggan berkunjung karena yang ada di pikiran tentang luka fisik, luka pikiran, dan luka hati. Padahal, rumah sakit umum dapat dijadikan taman cerita yang berisi insfirasi dan renungan bagi semua orang bahkan berbagai kalangan. Aku menikmati tersesatku di Sinergia Consultant karena aku akan membagi ceritaku saat tersesat di rumah sakit umum.
Rumah sakit tempat yang layak untuk nyasar. Kenapa? Karena rumah sakit umum tempat berkumpulnya orang-orang yang fisiknya sakit ditambah lagi pikiran yang rumit dan ditemani orang-orang yang fisiknya sehat dan pikiran yang sulit dengan ditangani oleh arsitek jiwa yang hebat dan ahli. Saat ini, aku mulai menemani mamak ke Rumah Sakit Umum Tebing Tinggi. Kami berjalan menuju loket pendaftran pasien sambil membawa surat pengantar. Ketika duduk di jajaran kursi sambil menunggu panggilan, mataku menjelajah di setiap sudut. Terlihat berbaris orang-orang berusia belia yang digendong ibunya, kanak-kanak, remaja sampai usia 70-an sambil ditemani salah satu keluarga. Termasuk aku menemani mamakku. Mamakku seorang perempuan perkasa. Aku sangat bersyukur bisa lahir di rahimnya yang sederhana dengan kasih yang luar biasa. Meski sakit kedua mata mamakku, dia bisa memberikan insfirasi bagi teman-teman seperjuangannya di rumah sakit tersebut. Luar biasa juga mamakku. Rasa kagumku terlihat saat seorang ibu yang usianya mungkin 70-an berjalan ke loket pendaftaran pasien tanpa ditemani. Semakin aku amati ibu itu, dia juga terluka pada kedua matanya. Mungkin dibenaknya berkata,"Sakit fisik, pikiran, dan hati kini aku rasakan di usiaku ini". Begitu juga di belakang kursiku duduk seorang bapak yang usianya 70-an duduk sambil menunggu panggilan dari loket. Kemudian, terlihatku muncul seorang bapak mengantar tiketnya ke petugas tanpa dipanggil. Dengan tegas dan lembut, petugas askes menyarankan antre. Mungkin menurut pengamatanku, bapak yang memiliki kulit gersang itu tak sanggup menahan antre dan rasa sakit makanya dia menerobos. Terdengar nomor tiket mamak dipanggil dua kali oleh petugas loket. Dan kami pun diarahkan petugas menuju poli mata sambil membawa surat yang ditandatangani petugas. Di poli mata aku juga melihat orang-orang antrean panjang di ruangan tersebut. 
Ruangan itu terdapat tiga ruangan klinik, di antaranya klinik mata, THT, dan anak. Semua pasien sabar menunggu untuk diperiksa. Aku mulai berpikir begitu mahalnya kesehatan itu. Aku juga teringat pada kata-kata bijak dari Deforest Clinton Jarvis, "Jauh lebih sulit untuk membuat orang sehat daripada membuat mereka sakit ". Penyataan ini memberikan kekuatan kepadaku untuk menjaga kesehatan mamakku. Mungkin kebanyakan orang termasuk mamakku, rasa sakitlah yang membuat semuanya menjadi taat. Tepat di klinik mata, mamakku disambut dokter-dokter muda. Mereka mulai melakukan motto mereka, yaitu senyum, sapa, dan sentuh saat berahadapan dengan pasien. Herannya mamakku sudah dikenal para dokter termasuk dokter spesialis mata di Rumah Sakit Umum Tebing Tinggi. Ternyata mamakku ini ibaratnya pasien bintang tamu. Kenapa aku katakan bintang tamu? Karena mamakku ini, rajin memeriksa matanya. Bahkan dokter spesialis mata itu senang bercerita dan bersenda gurau. Aksi mamakku ternyata membuat para dokter terpikat untuk memeriksanya. Kepolosan dan ketulusan untuk bercerita tentang kondisi matanya membuat dokter itu tersenyum tulus. Guratan tangan mamakku yang keras dan tertawa tanpa ada enam gigi yang tersenyum. Dokter itu tetap menyentuh mamakku seakan dia merindukan ibunya. Mungkin ibunya sebaya dengan mamakku. Wow...aku semakin terpesona melihat mamakku yang sederhana ternyata diperhatikan dokter itu. Rasanya aku dan mamakku menikmati indahnya tersesat di rumah sakit umum ini. Jadikan Sinergia Consultant sebagai taman insfirasi dan renungan di dinding facebook Anda. 
           











#Day 4 (SMAS)
Pernah tersesat? Tentu saja aku pernah tersesat. Bahkan aku tersesat di kota yan tak pernah aku kunjungi.Perasaan yang aku alami pada saat tersesat berusaha untuk tidak panik, takut, dan tidak berpikiran negatif meski situasi saat itu menegangkan.
Cara aku mengatasi tersesat, aku langsung berdiskusi kepada Tuhan dalam hati di mana pun itu tempatnya, apa pun keadaannya, dan bagaimanapun situasinya. Karena, berdiskusi dengan Dia menyegarkan jiwa dan pikiran sehat. Kemudian, aku mengamati situasi dan berusaha untuk bersahabat agar aku bisa menemukan cara untuk menyelesaikan keadaan tersesat. Lalu, aku berdiskusi dengan orang yang mengetahui tempat itu meski aku tersesat dengan bahasa mereka. Selanjutnya, aku berdiskusi dengan sahabatku. Setelah itu, aku menarik napas dan mengeluarkannya agar bisa kembali tenang. Akhirnya, aku bisa menyimpulkan situasi itu dan berusaha menemukan jalan keluar. Keadaan tersesat membuat kita semakin tangguh, rasa keberanian menggelora dan memeroleh pelajaran dari tersesat itu. 
Saat itu, aku dengan sahabatku bernama Olga Natalia pergi ke Jawa Tengah, Kabupaten Grobogan, Kota Purwodadi. Tujuan kami saat itu mengikuti ujian CPNS di kabupaten itu. Tiba di Stasiun Poncol, Semarang kami agak bingung dan cemas karena tidak paham bahasa Jawa di daerah itu. Apalagi, kami ini berasal dari Sumatera Utara, suku Batak Toba. Bahasa yang sering kami gunakan bahasa Indonesia tapi logat Batak. Lalu Olga berbisik ke telingaku, " Kita naik apa dari stasiun ini, Sov?" Dengan tenang, aku menjawab," Kita tanya sama polisi". Di setiap perjalanan ketika melihat polisi kami bertanya dan menceritakan tujuan kami. Mungkin polisi heran melihat kami karena berani datang tanpa ada saudara. Setelah menerima petunjuk dari polisi dan juga saran dari Abang Olga. Tiba-tiba kami dijemput seorang pendeta dari salah satu gereja di Semarang. Ternyata pendeta itu teman dari Abang Olga. Kami pun menginap di gereja. Paginya kami disarankan pendeta ke rumah salah satu jemaatnya di Purwodadi. Kebetulan jemaatnya suku Batak. Dan kami pun diantar sama jemaat pendeta itu untuk melihat lokasi ujian di Purwodadi. Karena esoknya, kami ujian CPNS di kabupaten itu. Saat di rumah jemaat gereja itu, kami mengajak bermain anak-anaknya. Putri bungsunya saat itu sakit jantung bahkan di dadanya terlihat bekas jahitan operasi. Aku pun mulai beraksi mengajak gadis kecil itu untuk bermain. Aku juga mengajaknya bernyanyi. Kami sangat akrab dan aku pun mulai menyanyangi gadis kecil itu. Sedangkan Olga, dia menunjukkan aksinya memasak di dapur. Dia berusaha mengemas makanan dengan cinta. Kami pun asyik menikmati aksi yang kami berikan di rumah itu. Esoknya kami mengikuti ujian dan kami pun tidak lupa untuk berdiskusi pada Tuhan. Meski kalah dan menang pada ujian, kami tetap puji Tuhan. Sampai di lokasi ujian, aku masuk ke ruangan. Herannya, peserta ujian di ruanganku berbahasa Jawa kecuali aku. Satu kalimat pun aku tak mengerti apa yang mereka sampaikan. Di depan kursiku seorang peserta mengajakku berbincang tapi, dia memakai bahasa Jawa. Untuk menanggapinya, aku hanya tersenyum. Herannya, dia terus mengajakku berbicara padahal aku hanya menjawab dengan senyum. Dalam hati aku menahan tawaku dan berbisik, "Apa mirip wajahku ini suku Jawa? Makanya dia terus mengajakku berbahasa Jawa. Padahal, wajahku kelihatan Batak". Ketika ujian berlangsung, muncul panitia ujian sambil bertanya," Ada peserta ujian datang dari Sumatera Utara? Boleh mengenalkan dirinya?" Mata panitia menatap kami dalam ruangan itu. Kembali lagi dia bertanya. Dari raut wajahnya penuh heran karena dia melihat pesaerta ujian lengkap. Aku hanya diam dan menahan tawaku dalam hati karena aku malu. Tambah lagi ujianku tak bisa aku jawab pada soal otonomi tentang Kabupaten Grobogan. Rasa kecewa juga muncul karena di internet penerimaan CPNS di Kabupaten Grobogan jurusan kami dibutuhkaan sepuluh kenyataannya satu. Akhirnya, aku dan olga tertawa terbahak-bahak mengenai masalah tersesat itu. Mengingat masalah tersesat itu menjadi insfirasi dan renungan kami. 





#Day 5 (SMAS)
Topik kali ini memang cetar mambahana yang dikemas Admin-admin yang smart and creatif. Bahkan, mengajak aku dan pengikutnya untuk tetap memberi virus yang cetar membahana. Kata cetar membahana yang pernah dipopulerkan artis cantik, yaitu Syahrini.
Kota yang ingin aku kunjungi Kota Helsinki, Finlandia. Aku kagum dengan negaranya. Kenapa? Dari segi pendidikan, negara ini yang terbaik di dunia dan teknologi. Masih ingat dengan Handphone Nokia? Finlandialah yang merakitnya terlebih dahulu. Pemerintahnya juga memberikan gratis pada warganya untuk mengecap dunia pendidikan. Sesuatu yang menakjubkan dari negara ini gemar membaca dan memenuhi toko-toko buku bahkan perpustakaan. Herannya, ternyata profesi guru di negara itu sangat berharga dan terhormat. Soal ujian untuk menjadi guru di negara itu lebih sulit soalnya daripada soal masuk dokter, pengacara, atau profesi lainnya. Pemerintahnya mengatakan, "Kunci dari kesuksesan negara adalah pendidikan". Ternyata budaya mereka agak mirip dengan Indonesia. Misalnya, negara ini senang berbincang. Kemudian, datang ke rumah salah satu warganya harus membuka sepatu atau sandal karena menunjukkan hormat pada pemilik rumah. Dan mereka senang minum kopi sambil berbincang.
Aduh...catatan kecilku dan buku petunjukku tinggal. Rasa kecewa menyelimutiku. Karena, catatan itu berisi rencana-rencana terindah di kota itu selama lima hari. Aku juga bingung karena aku tersesat dengan bahasa mereka. Tambah lagi aku kurang mahir berbahasa inggris. Kata Adikku Rotupa, sang pelatih kalau nilai berbicara dan mendengar pada bahasa Inggrisku -13. Tapi, dia berusaha melatihku untuk mengartikan film-film dan buku-buku cerita yang subtitle Engglish. Dengan modal mengartikan, aku sedikit terbantu untuk menyampaikan tujuanku meskipun dengan menulis di buku catatan kecil pada orang yang ingin aku tanyai. Kalau pun mereka tidak mengerti juga, terpaksa memakai jurus mengekpresikan untuk menyampaikan maksud yang ada di pikiran. Ibaratnya, aku tunawicara. Rasa cemas dan panik berterbangan di benakku. Untuk menghilangkan itu semua, aku bercerita pada Tuhan agar aku bisa menikmati perjalananku.
Kondisi tersesat yang menjadikan aku berani dan menemukan cara untuk menikmati perjalanan meski tak sesuai rencana. Aku juga harus mengatur keuanganku selama lima hari di kota itu dan bersahabat dengan lingkungan di kota itu. Tersesat ini menjadikan catatanku lebih asyik dan menantang tanpa ada panduan.

#Day 6 (SMAS)
Suasana tersesat di kelas XII IPA 3, SMA Negeri 2 Rantau Selatan, Labuhanbatu. Kelas ini, aku sebut kelas tampil beda. Kenapa? Karena, banyak aksi yang mereka buat di kelas. Baik itu saat belajar maupun istrahat. Mereka menunjukkan aksinya dengan gayanya masing- masing. Sebagai walikelas, aku mengikuti dunia mereka. Bahkan, aku terhibur dan mendapat insfirasi dari kelas itu. Kerjaan mereka selalu beraksi dan membuat sensasi. Mereka ada 32, di antaranya 12 lelaki dan 20 perempuan. Selain mengajar di sekolah ini, aku juga mengajar di SMA Methodist. Jadwalku di negeri mulai hari Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu sedangkan di Methodist jadwalku Rabu dan Jumat.
Debi, sekretaris kelasku. Dia selalu melapor kalau ada masalah di kelas. Saat aku menerima catatan kelas dan laporan kehadiran dari Debi, mataku langsung tertuju pada Mahes. Terlihat absennya menumpuk. Celetuk Fani, "Bu, selama tiga hari ini aku melihat Mahes cabut dan sering ke warnet. Mungkin surat palsu yang dikirimnya selama tiga hari ini, Bu." Mendengar pengakuan Fani, aku langsung mempunyai ide. Aku ajak siswaku untuk datang ke rumah Mahes setelah pulang sekolah tanpa sepengetahuannya. Tiba kami di rumahnya terlihat wajah Mahes pucat dan khawatir. Herannya, dia masih memakai seragam sekolah padahal tadi pagi dia tak datang ke sekolah. Dia juga memanggil mamanya. Mamanya juga terkejut melihat kedatangan kami. Karena, hampir sekelas kami datang. "Ada apa, Bu?" Tanya mamanya. Tanpa basa-basi aku menceritakan kondisi Mahes. Mamanya terkejut dan malu melihat sikap putranya. Mamanya juga bercerita kalau dia selalu berangkat sekolah dari rumah. Kenyataannya dia tak pernah sampai ke sekolah. Dengan kejadian itu, Mahes merasa bersalah dan malu dengan temannya. Akhirnya, dia berubah di semester dua. Dia rajin mengerjakan tugas. Dia juga mendapat pujian dari Guru Matematika. Kata guru tersebut kalau Mahes semangat mengerjakan soal dan tugas matematika meski salah. Dia tetap berusaha. Aku hampir tersesat untuk mendiamkannya begitu lama tapi, melihat kesungguhannya rasa diamku kembali cair.
Rata-rata siswaku ini sering bernyanyi di kelas jika guru lagi berhalangan. Terkhususnya si Sakti yang senangan bernyanyi sambil begendang. Dia dijuluki temannya " Sang Judika". Di antara mereka terkadang saling menyindir lewat lagu. Aku juga hampir tersesat melihat aksi mereka. Tiba aku berada di anak tangga menuju ruangan mereka sekejap mereka tenang. Mereka seperti aktor kawakan.
Ketika istirahat, Arfan siswa kelas 12 IPA 4 menghampiriku sambil bertanya," Kata Rahmadani, Ibu memanggil saya?"
"Siapa yang bilang?" Tanyaku dengan tenang.
"Rahmadani, Bu."Jawabnya.
“Oh...Sudah kamu selesaikan tugas dari Ibu?" Tanyaku kembali.
"Sudah, Bu". Jawabnya penuh pasti.
"Sekarang kamu panggil Rahmadani". Ucapku. Secepat kilat dia memanggil Rahmadani. Wajah penuh malu dan menunduk, Rahmadani menjumpaiku. Aku pun mengatakan pada Arfan kalau sebenarnya aku tidak memanggilnya. Mendengar pengakuanku, Rahmadani langsung minta maaf sambil memberi alasannya.
"Bu, sebenarnya Arfan pernah mengerjaiku. Katanya kalau aku dipanggil Bu Juntak, Guru BP. Jadi, aku balas candaannya. Saya terima hukuman dari kesalahan saya. Saya minta maaf, Bu". Kata Rahmadani sambil duduk di lantai untuk mohon maaf.
"Saya juga minta maaf, Bu karena mengerjai Rahmadani". Kata Arfan. Aku hampir tersesat untuk melarang mereka untuk mengikuti mata pelajaranku. Tapi, melihat ketulusan mereka jadi luluh hatiku. Rahmadani juga lansung menunjukkan tugasnya yang selama ini. Dia juga selalu diajari oleh Dewi, Anggun kurus, dan Riani ketika belajar.
Terkadang aku hampir tersesat untuk memahami Rizky. Dia terkadang lelah dan mengantuk saat belajar. Ternyata, di sela sekolah dia juga bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Bahkan, dia berusaha menyelesaikan tugas-tugasnya di sekolah.
Sosok pendiam dimiliki siswaku Sobirin. Dia sangat gigih pergi ke sekolah padahal jarak rumahnya kurang lebih 8 kilometer. Pantas saja dia terlambat ke sekolah ditambah lagi ekonomi keluarganya menengah ke bawah.
Fani siswi perempuan. Hobinya selalu menyanyi ibaratnya seperti artis. Meski sakit, dia tetap eksis menyanyi. Kalau Kiki yang senangan merepeti Irwansah tapi, dia tak pernah melawan. Meskipun Kiki suka merepet, dia memiliki hati yang lembut.
Lomo sang mahahadir. Taat dan sopan. Selalu sabar mengajari Kasnaria. Terkadang dia kewalahan menghadapi temannya selaku dia ketua kelas. Menurutnya, agak susah diatur temannya.
Eneng memiliki sifat yang sabar. Dia selalu mengingatkan Rizki untuk selalu sekolah dan belajar. Sedangkan Tika selalu memberi yang terbaik ketika belajar. Bawaan Tika tidak banyak bicara. Kalau Mariatik selalu impiannya menjadi Guru SD. Maria Ulpa yang senangan bicara dan bercermin. Heru senang membiarkan pakaiannya tidak rapi tapi, saat dia melihat diriku dengan segera merapikannya. Anggun besar kalau tertawa cetar membahana dan tepat waktu mengumpulkan tugas. Kasnaria dan Awaliah mudah menyerah dalam belajar tapi, mau mendengar untuk menjadi lebih baik. Impian menjadi polisi adalah Dalni tapi, grogian jika berbicara di depan banyak orang. Reno yang senangan ke warnet sampai uang bulanannya lansung habis. Tapi, syukurlah dia anak toke sawit di kampungnya. Jubaidah siswi yang mudah menyerah tapi, mau diajari ketika belajar. Anggi yang senangan membantu Sakti ketika belajar. Tari berusaha menjadi terbaik. Eli gigih belajar dan senang membahas soal. Cita-citanya ingin menjadi Guru Matematika. Kalau nilainya rendah, dia berusaha untuk memperbaiki nilainya yang rendah. Sutini, siswi yang tidak banyak bicara dan tepat waktu mengerjakan tugas.
Tiap hari Selasa dan Sabtu David tidak pernah hadir. Ketidakhadirannya ternyata karena tidak mau rambutnya dipotong. Aku selalu mengingatkan siswa pria agar panjang rambutnya dua sisir atau tiga sisir. Jika mereka tidak merapikannya, aku langsung beraksi. Akhirnya, David merapikan rambutnya. Hanya dia yang ujian praktik didampingi orang tuanya. Atas kejadian itu, dia berubah menjadi lebih baik.
Hanya dia siswaku yang ujian praktik setelah Ujian Nasional. Dia adalah Wahyu. Padahal, dia termasuk siswa yang cerdas tapi, malas datang ke sekolah. Aku tetap bersyukur padanya karena dia menyelesaikan ujian praktiknya meski terlambat.
Saat perpisahaan kelas XII di sekolahku, aku berharap agar mereka hadir dan memberikan senyum yang tulus. Bagiku, mereka adalah doa dan insfirasi tulisanku. Aku juga bersyukur menjadi walikelas mereka karena aku belajar menjadi lebih sabar, dan memahami karakter mereka. Melihat mereka seperti aku melihat taman yang indah. Semoga, mereka sukses di masa depan dan menjadi alumni yang berkarakter. Tulus, alamiah, dan mengandalkan Tuhan selalu kusampaikan kepada siswaku baik itu di negeri maupun di swasta.
                       








#Day 7 (SMAS)
Bulan Juni adalah bulan pertama kali aku mengikuti Sinergia Consultant. Seketika aku tertarik ketika  membaca tulisan-tulisan dari pengikutnya. Baru aku menyadari kalau Sinergia Consultant telah mencuri hatiku.           
Awal aku tersesat mengikuti Sinergia Consultant dari Kak Diana, Ratu Volunter, dia memberikan Virus PICT ke dinding facebookku. Virus pun berkuasa di pikiranku. Virus itu pun beraksi melebihi kecepatan cahaya di dalam pikiranku. Ajakan adikku, Rotupa juga merasukiku. Kini, aku bergabung di Sinergia Consultant.
Topik yang hangat selalu diberikan Admin-admin yang kece. Tiap topik terkandung Virus PICT. Virus itu menjadikan pengikutnya berpikir positif ketika tersesat, mampu menyelesaikan konflik dengan akal yang sehat, menciptakan tulisan menjadi insfirasi dan renungan, kreatif berimajinasi, dan berani mengubah sesuatu menjadi lebih bermakna.
Di sela mengikuti tantangan menulis di Sinergia Consultant, aku menemukan teman baru. Menemukan pengalaman baru dari tulisan-tulisan teman yang bergabung di Sinergia Consultant. Banyak ditemukan tips-tips ketika menghadapi suasana tersesat.
Gebrakan yang dilakukan Sinergia Consultant sangat besar untuk memegaruhi pengikutnya. Semua pengikutnya termasuk aku melakukan gebrakan juga kepada orang-orang sekitarnya. Gebrakan yang dilakukan semua pengikutnya berupa tulisan-tulisan yang ajaib di setiap dinding facebook. Setiap pembaca yang membaca tiap tulisan pengikut Sinergia Consultant bisa mengubah cara berpikir dan termotivasi menjadi orang yang lebih luar biasa. Karena, Sinergia Consultant memiliki Magnet PICT.
Virus PICT pernah aku berikan pada siswaku di SMA Methodist kelas XB. Waktu itu aku menyarankan mereka untuk menulis cerita atau pengalaman mereka. Syarat menulis cerita aku tentukan 10.000 atau 12.000 karakter. Setelah tulisan mereka selesai, langsung dikirim ke surat kabar Sinar Indonesia Baru dan Analisa. Juliana menghampiriku dan memberikan tulisannya. Membaca tulisannya hampir tersesat aku. Ejaannya berantakan dan kandungan isinya rasa nano-nano. Hal itu, terlintas di benakku. Dan, aku bersama siswaku terus belajar untuk memperbaiki tulisan yang kurang. Dengan gigih, Juliana memperbaiki tulisannya. Begitu juga dengan Margaretta, Rima, Hansen, Vandis, Elyn, Friskila, dan temannya yang lain. Hampir tiga minggu mereka sibuk menulis dan mengedit tulisan mereka. "Sulit menulis ya, Bu." Tanya Juliana.
"Paksa diri untuk menulis. Tulis apa maumu. Jangan menyerah pada satu kalimat. Kembangkan kalimat itu menjadi lebih bermakna". Jawabku sambil tersenyum. Aku berjalan ke kursi siswa yang satu ke kursi berikutnya sambil melihat tulisan mereka. Aku terpesona dengan tulisan-tulisan yang mereka buat. Banyak yang mereka ceritakan. Di antara mereka pun memiliki ciri-ciri khas tersendiri pada tulisan mereka. Akhirnya, mereka mengirim ke surat kabar. Ternyata, hanya Friskilla yang lolos tulisannya di media massa. Dia menunjukkan surat kabar kalau tulisannya dimuat. Tulisannya dimuat karena dikabari Kepala Sekolah SD Methodist Rantauprapat. Aku hampir tersesat pada pikiranku. Aku berpikir pasti tidak ada satu pun yang dimuat. Kenyataannya ada. Pikiran tersesatku pun lenyap seketika. Dari semua siswa hanya si Berkat yang tidak menulis. Kalau si Joy, dia mengirim tulisannya meski terlambat dan dia juga menunjukkan vidio iklannya. Herannya, Paman Joi, Pak Juniston, ikut andil berperan dalam iklan keponakannya. Melihat vidio tersebut aku tertawa dan bahagia karena paman kandungnya ikut juga tersesat dengan tugas Joi. Wow.. luar biasa keluarga Joi memerhatikannya. Istimewanya lagi di kelas XB, pengalaman mereka wajib di share di facebook, blog, instagram, dan line. Aku pun bahagia membaca tulisan-tulisan siswaku. Bahkan, ayah dan ibu mereka, kakak dan abang mereka, serta saudara mereka, dan temannya ikut memberikan komentar ketika membaca tulisan siswa kelas XB di facebook, blog, dan line. Ternyata siswaku juga bisa mengguncang keluarga mereka dengan tulisan mereka yang kreatif dan insfirasi. Indahnya menjadi pengikut Sinergia Consultant dan menjadikan dinding facebook sebagai taman inspirasi dan renungan. 

0 komentar: