#Day
1 (SMAS)
Lets Get Lost….Mari
Tersesat
Judul ini sangat ajaib
membuat suasana nano-nano.
Mari tersesat sesuatu ide yang sering diabaikan setiap orang terkadang kegiatan ini terkandung magnet. Suasana tersesat menjadikan hidup semakin berani untuk menyelesaikan sendiri dengan pikiran dan hati yang tenang. Pikiran dan hati yang tenang yang panik saat tersesat menimbulkan rasa khawatir bersetubuh dalam jiwa. Coba Anda ingat ketika Anda tersesat apa yang ada di pikiran Anda? Pikiran positif yang mengejar pikiran dan hati Anda atau pikiran negatif yang bersetubuh di pikiran dan hati Anda. Hal ini mengingatkan saya bersama adikku Adikku ini bernama Rotupa. Saat itu kami berada di Medan yang memiliki tujuan untuk melegalisasi ijazah ke Unimed. Herannya kami tidak memikirkan di mana kami menginap. Akhirnya adikku ini bertanya, " Di mana kita menginap, Kak ?" Mendengar pertanyaannya aku berusaha untuk tenang. Sedikit mengambil napas aku langsung berujar, " Tenang saja, masalah menginap sudah kakak SMS teman". Tapi hatiku terusik karena semua SMS yang ku kirim tak ada yang membalas. Tiba-tiba muncul di pikiranku nama Kak Diana. Kakak ini teman diskusiku di perpustakaan Rantauprapat. Setiap minggu Kak Diana selalu ke Medan karena dia melanjutkan studi S2 di Unimed. Saya menghubungi Kak Diana dan berharap kami bisa menginap di kamar kosnya. Ternyata kamar kosnya tidak memungkinkan karena suami beserta kedua putrinya berada di kosnya. Kami berusaha tidak panik dan tetap fokus pada tujuan. Tujuan kami untuk melegalisasi dan melihat keadaan Adik Oriza di USU. Meskipun tempat menginap kami tak jelas, kami tetap melanjutkan tujuan kami ke Medan. Setelah urusan kami di Unimed dan USU selesai, aku BBM mantan siswaku bernama Sharlen. Dia , mantan siswaku di Methodist Rantauprapat. Tanpa menanyai kabarnya aku langsung mengutarakan niatku untuk menginap di rumahnya. Tapi, dia menyarankan aku dan Rotupa menginap tempat mamanya. Dan saran itu tidak kami terima karena kami segan. Kami berusaha tenang untuk mencari tempat menginap yang nyaman. Kami berjalan ke gramedia untuk mencari buku lalu kami ke carefour untuk melihat notebook. Tak terasa berjalan, angka 5 di jam tangan sudah menggelitik hatiku. Aku berusaha untuk berpikir dan mencari tempat menginap bagi kami. Tiba- tiba Sharlen mengirim pesan BBM agar aku menerima pertemanan Dewi di BBM. Aku menerima pertemanan itu karena Dewi juga mantan siswaku. Dia juga mengetahui kondisi kami yang tidak memiliki tempat menginap. Dewi menyarankan kami menginap di Hotel Medan Ville Bintang 3. Kebetulan Dewi bekerja di hotel tersebut. Dewi menawarkan kami untuk menginap bahkan dia memesan kamar di hotel itu. Ternyata kedua siswaku membayari kami secara gratis bahkan mengajak kami makan di Restauran. Aku menyadari indahnya menjadi guru saat kami tersesat. Aku juga terkagum saat mantan siswaku yaitu Sharlen menyalam jemari kami berdua dan meletakkannya di keningnya bahkan memeluk kami dengan hangat. Begitu juga Dewi menyambut kami dengan ceria. Mereka melayani kami setulus hati bahkan kasih di hati mereka terpancar bagi kami. Indahnya saat suasana tersesat menjadikan taman bagi hidup kami. Aku pun juga teringat dengan pengalamanku saat tersesat di kelas XII IPA 3 dalam Catatan
Mari tersesat sesuatu ide yang sering diabaikan setiap orang terkadang kegiatan ini terkandung magnet. Suasana tersesat menjadikan hidup semakin berani untuk menyelesaikan sendiri dengan pikiran dan hati yang tenang. Pikiran dan hati yang tenang yang panik saat tersesat menimbulkan rasa khawatir bersetubuh dalam jiwa. Coba Anda ingat ketika Anda tersesat apa yang ada di pikiran Anda? Pikiran positif yang mengejar pikiran dan hati Anda atau pikiran negatif yang bersetubuh di pikiran dan hati Anda. Hal ini mengingatkan saya bersama adikku Adikku ini bernama Rotupa. Saat itu kami berada di Medan yang memiliki tujuan untuk melegalisasi ijazah ke Unimed. Herannya kami tidak memikirkan di mana kami menginap. Akhirnya adikku ini bertanya, " Di mana kita menginap, Kak ?" Mendengar pertanyaannya aku berusaha untuk tenang. Sedikit mengambil napas aku langsung berujar, " Tenang saja, masalah menginap sudah kakak SMS teman". Tapi hatiku terusik karena semua SMS yang ku kirim tak ada yang membalas. Tiba-tiba muncul di pikiranku nama Kak Diana. Kakak ini teman diskusiku di perpustakaan Rantauprapat. Setiap minggu Kak Diana selalu ke Medan karena dia melanjutkan studi S2 di Unimed. Saya menghubungi Kak Diana dan berharap kami bisa menginap di kamar kosnya. Ternyata kamar kosnya tidak memungkinkan karena suami beserta kedua putrinya berada di kosnya. Kami berusaha tidak panik dan tetap fokus pada tujuan. Tujuan kami untuk melegalisasi dan melihat keadaan Adik Oriza di USU. Meskipun tempat menginap kami tak jelas, kami tetap melanjutkan tujuan kami ke Medan. Setelah urusan kami di Unimed dan USU selesai, aku BBM mantan siswaku bernama Sharlen. Dia , mantan siswaku di Methodist Rantauprapat. Tanpa menanyai kabarnya aku langsung mengutarakan niatku untuk menginap di rumahnya. Tapi, dia menyarankan aku dan Rotupa menginap tempat mamanya. Dan saran itu tidak kami terima karena kami segan. Kami berusaha tenang untuk mencari tempat menginap yang nyaman. Kami berjalan ke gramedia untuk mencari buku lalu kami ke carefour untuk melihat notebook. Tak terasa berjalan, angka 5 di jam tangan sudah menggelitik hatiku. Aku berusaha untuk berpikir dan mencari tempat menginap bagi kami. Tiba- tiba Sharlen mengirim pesan BBM agar aku menerima pertemanan Dewi di BBM. Aku menerima pertemanan itu karena Dewi juga mantan siswaku. Dia juga mengetahui kondisi kami yang tidak memiliki tempat menginap. Dewi menyarankan kami menginap di Hotel Medan Ville Bintang 3. Kebetulan Dewi bekerja di hotel tersebut. Dewi menawarkan kami untuk menginap bahkan dia memesan kamar di hotel itu. Ternyata kedua siswaku membayari kami secara gratis bahkan mengajak kami makan di Restauran. Aku menyadari indahnya menjadi guru saat kami tersesat. Aku juga terkagum saat mantan siswaku yaitu Sharlen menyalam jemari kami berdua dan meletakkannya di keningnya bahkan memeluk kami dengan hangat. Begitu juga Dewi menyambut kami dengan ceria. Mereka melayani kami setulus hati bahkan kasih di hati mereka terpancar bagi kami. Indahnya saat suasana tersesat menjadikan taman bagi hidup kami. Aku pun juga teringat dengan pengalamanku saat tersesat di kelas XII IPA 3 dalam Catatan
#Day
2 (SMAS)
Let’s
Get Lost with Sinergia Consultant
Kalimat ini mengguncang setiap pemilik akun
facebook. Kenapa? Karena kalimat ini terkandung gaya gravitasi. Gaya dan
strategi yang diberikan Sinergia Consultant mengguncang pikiran pemilik
facebook. Bahkan virus yang dahsyat dimiliki oleh Sinergia consultant menjadi
pandemi di setiap akun facebook. Pemilik akun facebook berlomba-lomba ikut
mengembangkan topik emas yang diberikan Sinergia Consultant dalam tantangan
menulis. Wow...Luas biasa pengikutnya. Ide dan
pikiran emas yang ditulis di setiap dinding pemilik facebook menyebarkan virus
yang dahsyat ketika bermain writtingchallaenge. Gerakan yang disebarkan
Sinergia Consultant membuahkan hasil dengan topik cemerlang yang dikembangkan
oleh pemilik akun facebook yang bergabung pada kegiatan itu. Aku juga merasakan
guncangan yang hebat bahkan aku ikut bergabung dan menerima tantangan menulis
itu. Aku mengikuti tantangan ini berawal dari virus yang disebarkan Kak Diana
agar aku ikut mencoba memberikan ide-ide emas. Teringat juga dengan ajakan
adekku yang bernama Rotupa agar aku menumbuhkan dan mengembangkan ide-ide emas.
Guncangan ini semakin hebat aku rasakan karena teringat pernyataan Pramoedya
Ananta Toer, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak
menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah".
Wow...Akhirnya aku bergabung di Sinergia Consultant untuk menyebarkan ide-ide
yang bervirus. Ide- ide yang disebarkan diriku dengan teman-teman melalui
facebook yang bergabung pada kegiatan ini bisa mengubah menjadi pribadi yang
berkarakter. Saatnya aku meminjam kata- kata pamungkas pemilik Bung Karno,
"Berikan sepuluh teman pemilik akun facebook pada Sinergia Consultant maka
akan diguncangnya dunia".Pada tantangan menulis yang dikemas Sinegia
Consultant membuat aku tersesat dan terguncang. Kini aku menyadari indahnya tantangan menulis. Dengan
writtingchallenge, aku berusaha memberikan ide-ide yang bersinergi yang bisa
mengguncang teman-teman facebook dan para siswaku. Misalnya, aku akan mengajak
generasi emas khususnya para siswaku untuk bergabung di Sinergia consultant
dalam writtingchallenge. Menerima tantangan menulis membuat diri tak hilang
dari masyarakat dan sejarah. Jadikan Sinergia Consultant sebagai taman di dinding
Anda.
#Day
3 (SMAS)
Aku
ingin tersesat di rumah sakit umum.
Sinergia
Consultant membuat pengikutnya tersesat karena pengaruh obat yang diberikan
kepada setiap pengikutnya. Obat tersebut sangat mujarab. Khasiat dari obat yang
diberikan Sinergia Consultant dapat melatih dan mengembangkan otak agar
memiliki pikiran sehat. Obat itu juga menjadikan pengikutnya candu untuk
meminumnya. Akibat obat itu, muncul keberanian untuk tersesat. Kini, aku juga
meminum obat itu dan semakin beraksi tersesat dalam tantangan menulis.
Akhirnya, aku memilih tersesat di rumah sakit. Karena, pengaruh obat Sinergia
Cosultant dan kondisi mamakku yang luka pada matanya. Bagaimana dengan Anda?
Pasti Anda akan tersesat juga di rumah sakit jika melihat salah satu keluarga
Anda sakit. Apalagi kalau yang sakit itu ayah, ibu, saudara, atau orang yang
Anda banggakan sakit. Anda akan bersedia tersesat di rumah sakit.
Mendengar
rumah sakit umum kebanyakan kaki-kaki enggan berkunjung karena yang ada di
pikiran tentang luka fisik, luka pikiran, dan luka hati. Padahal, rumah sakit
umum dapat dijadikan taman cerita yang berisi insfirasi dan renungan bagi semua
orang bahkan berbagai kalangan. Aku menikmati tersesatku di Sinergia Consultant
karena aku akan membagi ceritaku saat tersesat di rumah sakit umum.
Rumah
sakit tempat yang layak untuk nyasar. Kenapa? Karena rumah sakit umum tempat
berkumpulnya orang-orang yang fisiknya sakit ditambah lagi pikiran yang rumit
dan ditemani orang-orang yang fisiknya sehat dan pikiran yang sulit dengan
ditangani oleh arsitek jiwa yang hebat dan ahli. Saat ini, aku mulai menemani
mamak ke Rumah Sakit Umum Tebing Tinggi. Kami berjalan menuju loket pendaftran
pasien sambil membawa surat pengantar. Ketika duduk di jajaran kursi sambil
menunggu panggilan, mataku menjelajah di setiap sudut. Terlihat berbaris
orang-orang berusia belia yang digendong ibunya, kanak-kanak, remaja sampai
usia 70-an sambil ditemani salah satu keluarga. Termasuk aku menemani mamakku.
Mamakku seorang perempuan perkasa. Aku sangat bersyukur bisa lahir di rahimnya
yang sederhana dengan kasih yang luar biasa. Meski sakit kedua mata mamakku,
dia bisa memberikan insfirasi bagi teman-teman seperjuangannya di rumah sakit
tersebut. Luar biasa juga mamakku. Rasa kagumku terlihat saat seorang ibu yang
usianya mungkin 70-an berjalan ke loket pendaftaran pasien tanpa ditemani.
Semakin aku amati ibu itu, dia juga terluka pada kedua matanya. Mungkin
dibenaknya berkata,"Sakit fisik, pikiran, dan hati kini aku rasakan di
usiaku ini". Begitu juga di belakang kursiku duduk seorang bapak yang
usianya 70-an duduk sambil menunggu panggilan dari loket. Kemudian, terlihatku
muncul seorang bapak mengantar tiketnya ke petugas tanpa dipanggil. Dengan
tegas dan lembut, petugas askes menyarankan antre. Mungkin menurut
pengamatanku, bapak yang memiliki kulit gersang itu tak sanggup menahan antre
dan rasa sakit makanya dia menerobos. Terdengar nomor tiket mamak dipanggil dua
kali oleh petugas loket. Dan kami pun diarahkan petugas menuju poli mata sambil
membawa surat yang ditandatangani petugas. Di poli mata aku juga melihat
orang-orang antrean panjang di ruangan tersebut.
Ruangan
itu terdapat tiga ruangan klinik, di antaranya klinik mata, THT, dan anak. Semua
pasien sabar menunggu untuk diperiksa. Aku mulai berpikir begitu mahalnya
kesehatan itu. Aku juga teringat pada kata-kata bijak dari Deforest Clinton
Jarvis, "Jauh lebih sulit untuk membuat orang sehat daripada membuat
mereka sakit ". Penyataan ini memberikan kekuatan kepadaku untuk menjaga
kesehatan mamakku. Mungkin kebanyakan orang termasuk mamakku, rasa sakitlah
yang membuat semuanya menjadi taat. Tepat di klinik mata, mamakku disambut
dokter-dokter muda. Mereka mulai melakukan motto mereka, yaitu senyum, sapa,
dan sentuh saat berahadapan dengan pasien. Herannya mamakku sudah dikenal para
dokter termasuk dokter spesialis mata di Rumah Sakit Umum Tebing Tinggi.
Ternyata mamakku ini ibaratnya pasien bintang tamu. Kenapa aku katakan bintang
tamu? Karena mamakku ini, rajin memeriksa matanya. Bahkan dokter spesialis mata
itu senang bercerita dan bersenda gurau. Aksi mamakku ternyata membuat para
dokter terpikat untuk memeriksanya. Kepolosan dan ketulusan untuk bercerita
tentang kondisi matanya membuat dokter itu tersenyum tulus. Guratan tangan
mamakku yang keras dan tertawa tanpa ada enam gigi yang tersenyum. Dokter itu
tetap menyentuh mamakku seakan dia merindukan ibunya. Mungkin ibunya sebaya
dengan mamakku. Wow...aku semakin terpesona melihat mamakku yang sederhana
ternyata diperhatikan dokter itu. Rasanya aku dan mamakku menikmati indahnya
tersesat di rumah sakit umum ini. Jadikan Sinergia Consultant sebagai taman
insfirasi dan renungan di dinding facebook Anda.
#Day
4 (SMAS)
Pernah tersesat? Tentu saja aku pernah
tersesat. Bahkan aku tersesat di kota yan tak pernah aku kunjungi.Perasaan yang
aku alami pada saat tersesat berusaha untuk tidak panik, takut, dan tidak
berpikiran negatif meski situasi saat itu menegangkan.
Cara aku mengatasi tersesat, aku langsung
berdiskusi kepada Tuhan dalam hati di mana pun itu tempatnya, apa pun
keadaannya, dan bagaimanapun situasinya. Karena, berdiskusi dengan Dia
menyegarkan jiwa dan pikiran sehat. Kemudian, aku mengamati situasi dan
berusaha untuk bersahabat agar aku bisa menemukan cara untuk menyelesaikan
keadaan tersesat. Lalu, aku berdiskusi dengan orang yang mengetahui tempat itu
meski aku tersesat dengan bahasa mereka. Selanjutnya, aku berdiskusi dengan
sahabatku. Setelah itu, aku menarik napas dan mengeluarkannya agar bisa kembali
tenang. Akhirnya, aku bisa menyimpulkan situasi itu dan berusaha menemukan
jalan keluar. Keadaan tersesat membuat kita semakin tangguh, rasa keberanian
menggelora dan memeroleh pelajaran dari tersesat itu.
Saat itu, aku dengan sahabatku bernama Olga
Natalia pergi ke Jawa Tengah, Kabupaten Grobogan, Kota Purwodadi. Tujuan kami
saat itu mengikuti ujian CPNS di kabupaten itu. Tiba di Stasiun Poncol,
Semarang kami agak bingung dan cemas karena tidak paham bahasa Jawa di daerah
itu. Apalagi, kami ini berasal dari Sumatera Utara, suku Batak Toba. Bahasa
yang sering kami gunakan bahasa Indonesia tapi logat Batak. Lalu Olga berbisik
ke telingaku, " Kita naik apa dari stasiun ini, Sov?" Dengan tenang,
aku menjawab," Kita tanya sama polisi". Di setiap perjalanan ketika
melihat polisi kami bertanya dan menceritakan tujuan kami. Mungkin polisi heran
melihat kami karena berani datang tanpa ada saudara. Setelah menerima petunjuk
dari polisi dan juga saran dari Abang Olga. Tiba-tiba kami dijemput seorang
pendeta dari salah satu gereja di Semarang. Ternyata pendeta itu teman dari
Abang Olga. Kami pun menginap di gereja. Paginya kami disarankan pendeta ke
rumah salah satu jemaatnya di Purwodadi. Kebetulan jemaatnya suku Batak. Dan
kami pun diantar sama jemaat pendeta itu untuk melihat lokasi ujian di
Purwodadi. Karena esoknya, kami ujian CPNS di kabupaten itu. Saat di rumah
jemaat gereja itu, kami mengajak bermain anak-anaknya. Putri bungsunya saat itu
sakit jantung bahkan di dadanya terlihat bekas jahitan operasi. Aku pun mulai
beraksi mengajak gadis kecil itu untuk bermain. Aku juga mengajaknya bernyanyi.
Kami sangat akrab dan aku pun mulai menyanyangi gadis kecil itu. Sedangkan
Olga, dia menunjukkan aksinya memasak di dapur. Dia berusaha mengemas makanan
dengan cinta. Kami pun asyik menikmati aksi yang kami berikan di rumah itu.
Esoknya kami mengikuti ujian dan kami pun tidak lupa untuk berdiskusi pada
Tuhan. Meski kalah dan menang pada ujian, kami tetap puji Tuhan. Sampai di
lokasi ujian, aku masuk ke ruangan. Herannya, peserta ujian di ruanganku
berbahasa Jawa kecuali aku. Satu kalimat pun aku tak mengerti apa yang mereka
sampaikan. Di depan kursiku seorang peserta mengajakku berbincang tapi, dia
memakai bahasa Jawa. Untuk menanggapinya, aku hanya tersenyum. Herannya, dia
terus mengajakku berbicara padahal aku hanya menjawab dengan senyum. Dalam hati
aku menahan tawaku dan berbisik, "Apa mirip wajahku ini suku Jawa? Makanya
dia terus mengajakku berbahasa Jawa. Padahal, wajahku kelihatan Batak".
Ketika ujian berlangsung, muncul panitia ujian sambil bertanya," Ada
peserta ujian datang dari Sumatera Utara? Boleh mengenalkan dirinya?" Mata
panitia menatap kami dalam ruangan itu. Kembali lagi dia bertanya. Dari raut
wajahnya penuh heran karena dia melihat pesaerta ujian lengkap. Aku hanya diam
dan menahan tawaku dalam hati karena aku malu. Tambah lagi ujianku tak bisa aku
jawab pada soal otonomi tentang Kabupaten Grobogan. Rasa kecewa juga muncul
karena di internet penerimaan CPNS di Kabupaten Grobogan jurusan kami
dibutuhkaan sepuluh kenyataannya satu. Akhirnya, aku dan olga tertawa
terbahak-bahak mengenai masalah tersesat itu. Mengingat masalah tersesat itu
menjadi insfirasi dan renungan kami.
#Day 5 (SMAS)
Topik kali ini memang cetar mambahana yang dikemas Admin-admin
yang smart and creatif. Bahkan, mengajak aku dan pengikutnya untuk tetap
memberi virus yang cetar membahana. Kata cetar membahana yang pernah
dipopulerkan artis cantik, yaitu Syahrini.
Kota yang ingin aku kunjungi Kota Helsinki, Finlandia. Aku kagum
dengan negaranya. Kenapa? Dari segi pendidikan, negara ini yang terbaik di
dunia dan teknologi. Masih ingat dengan Handphone Nokia? Finlandialah yang
merakitnya terlebih dahulu. Pemerintahnya juga memberikan gratis
pada warganya untuk mengecap dunia pendidikan. Sesuatu yang menakjubkan dari
negara ini gemar membaca dan memenuhi toko-toko buku bahkan perpustakaan.
Herannya, ternyata profesi guru di negara itu sangat berharga dan terhormat.
Soal ujian untuk menjadi guru di negara itu lebih sulit soalnya daripada soal
masuk dokter, pengacara, atau profesi lainnya. Pemerintahnya mengatakan,
"Kunci dari kesuksesan negara adalah pendidikan". Ternyata budaya
mereka agak mirip dengan Indonesia. Misalnya, negara ini senang berbincang. Kemudian,
datang ke rumah salah satu warganya harus membuka sepatu atau sandal karena
menunjukkan hormat pada pemilik rumah. Dan mereka senang minum kopi sambil
berbincang.
Aduh...catatan
kecilku dan buku petunjukku tinggal. Rasa kecewa menyelimutiku. Karena, catatan
itu berisi rencana-rencana terindah di kota itu selama lima hari. Aku juga
bingung karena aku tersesat dengan bahasa mereka. Tambah lagi aku kurang mahir
berbahasa inggris. Kata Adikku Rotupa, sang pelatih kalau nilai berbicara dan
mendengar pada bahasa Inggrisku -13. Tapi, dia berusaha melatihku untuk
mengartikan film-film dan buku-buku cerita yang subtitle Engglish. Dengan modal
mengartikan, aku sedikit terbantu untuk menyampaikan tujuanku meskipun dengan
menulis di buku catatan kecil pada orang yang ingin aku tanyai. Kalau pun
mereka tidak mengerti juga, terpaksa memakai jurus mengekpresikan untuk
menyampaikan maksud yang ada di pikiran. Ibaratnya, aku tunawicara. Rasa cemas
dan panik berterbangan di benakku. Untuk menghilangkan itu semua, aku bercerita
pada Tuhan agar aku bisa menikmati perjalananku.
Kondisi
tersesat yang menjadikan aku berani dan menemukan cara untuk menikmati
perjalanan meski tak sesuai rencana. Aku juga harus mengatur keuanganku selama
lima hari di kota itu dan bersahabat dengan lingkungan di kota itu. Tersesat
ini menjadikan catatanku lebih asyik dan menantang tanpa ada panduan.
#Day 6 (SMAS)
Suasana
tersesat di kelas XII IPA 3, SMA Negeri 2 Rantau Selatan, Labuhanbatu. Kelas
ini, aku sebut kelas tampil beda. Kenapa? Karena, banyak aksi yang mereka buat
di kelas. Baik itu saat belajar maupun istrahat. Mereka menunjukkan aksinya
dengan gayanya masing- masing. Sebagai walikelas, aku mengikuti dunia mereka.
Bahkan, aku terhibur dan mendapat insfirasi dari kelas itu. Kerjaan mereka
selalu beraksi dan membuat sensasi. Mereka ada 32, di antaranya 12 lelaki dan
20 perempuan. Selain mengajar di sekolah ini, aku juga mengajar di SMA
Methodist. Jadwalku di negeri mulai hari Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu
sedangkan di Methodist jadwalku Rabu dan Jumat.
Debi,
sekretaris kelasku. Dia selalu melapor kalau ada masalah di kelas. Saat aku
menerima catatan kelas dan laporan kehadiran dari Debi, mataku langsung tertuju
pada Mahes. Terlihat absennya menumpuk. Celetuk Fani, "Bu, selama tiga
hari ini aku melihat Mahes cabut dan sering ke warnet. Mungkin surat palsu yang
dikirimnya selama tiga hari ini, Bu." Mendengar pengakuan Fani, aku
langsung mempunyai ide. Aku ajak siswaku untuk datang ke rumah Mahes setelah
pulang sekolah tanpa sepengetahuannya. Tiba kami di rumahnya terlihat wajah
Mahes pucat dan khawatir. Herannya, dia masih memakai seragam sekolah padahal
tadi pagi dia tak datang ke sekolah. Dia juga memanggil mamanya. Mamanya juga
terkejut melihat kedatangan kami. Karena, hampir sekelas kami datang. "Ada
apa, Bu?" Tanya mamanya. Tanpa basa-basi aku menceritakan kondisi Mahes.
Mamanya terkejut dan malu melihat sikap putranya. Mamanya juga bercerita kalau
dia selalu berangkat sekolah dari rumah. Kenyataannya dia tak pernah sampai ke
sekolah. Dengan kejadian itu, Mahes merasa bersalah dan malu dengan temannya.
Akhirnya, dia berubah di semester dua. Dia rajin mengerjakan tugas. Dia juga
mendapat pujian dari Guru Matematika. Kata guru tersebut kalau Mahes semangat
mengerjakan soal dan tugas matematika meski salah. Dia tetap berusaha. Aku
hampir tersesat untuk mendiamkannya begitu lama tapi, melihat kesungguhannya
rasa diamku kembali cair.
Rata-rata
siswaku ini sering bernyanyi di kelas jika guru lagi berhalangan. Terkhususnya
si Sakti yang senangan bernyanyi sambil begendang. Dia dijuluki temannya "
Sang Judika". Di antara mereka terkadang saling menyindir lewat lagu. Aku
juga hampir tersesat melihat aksi mereka. Tiba aku berada di anak tangga menuju
ruangan mereka sekejap mereka tenang. Mereka seperti aktor kawakan.
Ketika
istirahat, Arfan siswa kelas 12 IPA 4 menghampiriku sambil bertanya," Kata
Rahmadani, Ibu memanggil saya?"
"Siapa
yang bilang?" Tanyaku dengan tenang.
"Rahmadani,
Bu."Jawabnya.
“Oh...Sudah
kamu selesaikan tugas dari Ibu?" Tanyaku kembali.
"Sudah,
Bu". Jawabnya penuh pasti.
"Sekarang
kamu panggil Rahmadani". Ucapku. Secepat kilat dia memanggil Rahmadani.
Wajah penuh malu dan menunduk, Rahmadani menjumpaiku. Aku pun mengatakan pada
Arfan kalau sebenarnya aku tidak memanggilnya. Mendengar pengakuanku, Rahmadani
langsung minta maaf sambil memberi alasannya.
"Bu,
sebenarnya Arfan pernah mengerjaiku. Katanya kalau aku dipanggil Bu Juntak,
Guru BP. Jadi, aku balas candaannya. Saya terima hukuman dari kesalahan saya.
Saya minta maaf, Bu". Kata Rahmadani sambil duduk di lantai untuk mohon
maaf.
"Saya
juga minta maaf, Bu karena mengerjai Rahmadani". Kata Arfan. Aku hampir
tersesat untuk melarang mereka untuk mengikuti mata pelajaranku. Tapi, melihat
ketulusan mereka jadi luluh hatiku. Rahmadani juga lansung menunjukkan tugasnya
yang selama ini. Dia juga selalu diajari oleh Dewi, Anggun kurus, dan Riani
ketika belajar.
Terkadang
aku hampir tersesat untuk memahami Rizky. Dia terkadang lelah dan mengantuk
saat belajar. Ternyata, di sela sekolah dia juga bekerja untuk memenuhi
kebutuhannya. Bahkan, dia berusaha menyelesaikan tugas-tugasnya di sekolah.
Sosok
pendiam dimiliki siswaku Sobirin. Dia sangat gigih pergi ke sekolah padahal
jarak rumahnya kurang lebih 8 kilometer. Pantas saja dia terlambat ke sekolah
ditambah lagi ekonomi keluarganya menengah ke bawah.
Fani
siswi perempuan. Hobinya selalu menyanyi ibaratnya seperti artis. Meski sakit,
dia tetap eksis menyanyi. Kalau Kiki yang senangan merepeti Irwansah tapi, dia
tak pernah melawan. Meskipun Kiki suka merepet, dia memiliki hati yang lembut.
Lomo
sang mahahadir. Taat dan sopan. Selalu sabar mengajari Kasnaria. Terkadang dia
kewalahan menghadapi temannya selaku dia ketua kelas. Menurutnya, agak susah
diatur temannya.
Eneng
memiliki sifat yang sabar. Dia selalu mengingatkan Rizki untuk selalu sekolah
dan belajar. Sedangkan Tika selalu memberi yang terbaik ketika belajar. Bawaan
Tika tidak banyak bicara. Kalau Mariatik selalu impiannya menjadi Guru SD.
Maria Ulpa yang senangan bicara dan bercermin. Heru senang membiarkan
pakaiannya tidak rapi tapi, saat dia melihat diriku dengan segera merapikannya.
Anggun besar kalau tertawa cetar membahana dan tepat waktu mengumpulkan tugas.
Kasnaria dan Awaliah mudah menyerah dalam belajar tapi, mau mendengar untuk
menjadi lebih baik. Impian menjadi polisi adalah Dalni tapi, grogian jika
berbicara di depan banyak orang. Reno yang senangan ke warnet sampai uang
bulanannya lansung habis. Tapi, syukurlah dia anak toke sawit di kampungnya.
Jubaidah siswi yang mudah menyerah tapi, mau diajari ketika belajar. Anggi yang
senangan membantu Sakti ketika belajar. Tari berusaha menjadi terbaik. Eli
gigih belajar dan senang membahas soal. Cita-citanya ingin menjadi Guru
Matematika. Kalau nilainya rendah, dia berusaha untuk memperbaiki nilainya yang
rendah. Sutini, siswi yang tidak banyak bicara dan tepat waktu mengerjakan
tugas.
Tiap
hari Selasa dan Sabtu David tidak pernah hadir. Ketidakhadirannya ternyata
karena tidak mau rambutnya dipotong. Aku selalu mengingatkan siswa pria agar
panjang rambutnya dua sisir atau tiga sisir. Jika mereka tidak merapikannya,
aku langsung beraksi. Akhirnya, David merapikan rambutnya. Hanya dia yang ujian
praktik didampingi orang tuanya. Atas kejadian itu, dia berubah menjadi lebih
baik.
Hanya
dia siswaku yang ujian praktik setelah Ujian Nasional. Dia adalah Wahyu.
Padahal, dia termasuk siswa yang cerdas tapi, malas datang ke sekolah. Aku
tetap bersyukur padanya karena dia menyelesaikan ujian praktiknya meski
terlambat.
Saat
perpisahaan kelas XII di sekolahku, aku berharap agar mereka hadir dan
memberikan senyum yang tulus. Bagiku, mereka adalah doa dan insfirasi
tulisanku. Aku juga bersyukur menjadi walikelas mereka karena aku belajar
menjadi lebih sabar, dan memahami karakter mereka. Melihat mereka seperti aku
melihat taman yang indah. Semoga, mereka sukses di masa depan dan menjadi
alumni yang berkarakter. Tulus, alamiah, dan mengandalkan Tuhan selalu kusampaikan
kepada siswaku baik itu di negeri maupun di swasta.
#Day 7 (SMAS)
Bulan
Juni adalah bulan pertama kali aku mengikuti Sinergia Consultant. Seketika aku
tertarik ketika membaca tulisan-tulisan
dari pengikutnya. Baru aku menyadari kalau Sinergia Consultant telah mencuri
hatiku.
Awal aku tersesat mengikuti Sinergia Consultant dari Kak Diana, Ratu Volunter, dia memberikan Virus PICT ke dinding facebookku. Virus pun berkuasa di pikiranku. Virus itu pun beraksi melebihi kecepatan cahaya di dalam pikiranku. Ajakan adikku, Rotupa juga merasukiku. Kini, aku bergabung di Sinergia Consultant.
Awal aku tersesat mengikuti Sinergia Consultant dari Kak Diana, Ratu Volunter, dia memberikan Virus PICT ke dinding facebookku. Virus pun berkuasa di pikiranku. Virus itu pun beraksi melebihi kecepatan cahaya di dalam pikiranku. Ajakan adikku, Rotupa juga merasukiku. Kini, aku bergabung di Sinergia Consultant.
Topik
yang hangat selalu diberikan Admin-admin yang kece. Tiap topik terkandung Virus
PICT. Virus itu menjadikan pengikutnya berpikir positif ketika tersesat, mampu
menyelesaikan konflik dengan akal yang sehat, menciptakan tulisan menjadi
insfirasi dan renungan, kreatif berimajinasi, dan berani mengubah sesuatu
menjadi lebih bermakna.
Di sela mengikuti
tantangan menulis di Sinergia Consultant, aku menemukan teman baru. Menemukan
pengalaman baru dari tulisan-tulisan teman yang bergabung di Sinergia
Consultant. Banyak ditemukan tips-tips ketika menghadapi suasana tersesat.
Gebrakan
yang dilakukan Sinergia Consultant sangat besar untuk memegaruhi pengikutnya.
Semua pengikutnya termasuk aku melakukan gebrakan juga kepada orang-orang
sekitarnya. Gebrakan yang dilakukan semua pengikutnya berupa tulisan-tulisan
yang ajaib di setiap dinding facebook. Setiap pembaca yang membaca tiap tulisan
pengikut Sinergia Consultant bisa mengubah cara berpikir dan termotivasi
menjadi orang yang lebih luar biasa. Karena, Sinergia Consultant memiliki
Magnet PICT.
Virus
PICT pernah aku berikan pada siswaku di SMA Methodist kelas XB. Waktu itu aku
menyarankan mereka untuk menulis cerita atau pengalaman mereka. Syarat menulis
cerita aku tentukan 10.000 atau 12.000 karakter. Setelah tulisan mereka
selesai, langsung dikirim ke surat kabar Sinar Indonesia Baru dan Analisa. Juliana
menghampiriku dan memberikan tulisannya. Membaca tulisannya hampir tersesat
aku. Ejaannya berantakan dan kandungan isinya rasa nano-nano. Hal itu,
terlintas di benakku. Dan, aku bersama siswaku terus belajar untuk memperbaiki
tulisan yang kurang. Dengan gigih, Juliana memperbaiki tulisannya. Begitu juga
dengan Margaretta, Rima, Hansen, Vandis, Elyn, Friskila, dan temannya yang
lain. Hampir tiga minggu mereka sibuk menulis dan mengedit tulisan mereka.
"Sulit menulis ya, Bu." Tanya Juliana.
"Paksa
diri untuk menulis. Tulis apa maumu. Jangan menyerah pada satu kalimat.
Kembangkan kalimat itu menjadi lebih bermakna". Jawabku sambil tersenyum.
Aku berjalan ke kursi siswa yang satu ke kursi berikutnya sambil melihat
tulisan mereka. Aku terpesona dengan tulisan-tulisan yang mereka buat. Banyak
yang mereka ceritakan. Di antara mereka pun memiliki ciri-ciri khas tersendiri
pada tulisan mereka. Akhirnya, mereka mengirim ke surat kabar. Ternyata, hanya
Friskilla yang lolos tulisannya di media massa. Dia menunjukkan surat kabar
kalau tulisannya dimuat. Tulisannya dimuat karena dikabari Kepala Sekolah SD
Methodist Rantauprapat. Aku hampir tersesat pada pikiranku. Aku berpikir pasti
tidak ada satu pun yang dimuat. Kenyataannya ada. Pikiran tersesatku pun lenyap
seketika. Dari semua siswa hanya si Berkat yang tidak menulis. Kalau si Joy,
dia mengirim tulisannya meski terlambat dan dia juga menunjukkan vidio
iklannya. Herannya, Paman Joi, Pak Juniston, ikut andil berperan dalam iklan
keponakannya. Melihat vidio tersebut aku tertawa dan bahagia karena paman
kandungnya ikut juga tersesat dengan tugas Joi. Wow.. luar biasa keluarga Joi
memerhatikannya. Istimewanya lagi di kelas XB, pengalaman mereka wajib di share
di facebook, blog, instagram, dan line. Aku pun bahagia membaca tulisan-tulisan
siswaku. Bahkan, ayah dan ibu mereka, kakak dan abang mereka, serta saudara
mereka, dan temannya ikut memberikan komentar ketika membaca tulisan siswa
kelas XB di facebook, blog, dan line. Ternyata siswaku juga bisa mengguncang
keluarga mereka dengan tulisan mereka yang kreatif dan insfirasi. Indahnya
menjadi pengikut Sinergia Consultant dan menjadikan dinding facebook sebagai
taman inspirasi dan renungan.

0 komentar:
Posting Komentar